Knowing The Controversial Rem Koolhaas and His Newest Architecture Project

BY: CHALIF RAFI

The well-respected / controversial contemporary architect is bringing a new face for the New Museum.

 

Pada akhir bulan lalu, Office for Metropolitan Architecture (OMA) di bawah pimpinan Rem Koolhaas mengungkap desain dari bangunan baru yang menjadi perluasan gedung New Museum, New York City, Amerika Serikat. Proyek yang diperkirakan memakan biaya sebesar 63 juta dollar Amerika ini akan mulai dieksekusi tahun depan dan ditargetkan rampung pada tahun 2022.

Dirancang memiliki luas bangunan sebesar lebih dari 5.500 meter persegi, gedung berdesain tujuh lantai itu berlokasi tepat di sebelah New Museum yang lama, yang didesain oleh firma arsitektur asal Jepang bernama ‘Sanna’. Mengenai hal ini, Koolhaas kepada New York Times mengatakan, “We wanted it to be complementary but not competitive, to be independently appealing but also make sure the coexistence of these two buildings gives something fresh.

Nantinya di bangunan tersebut akan terdapat galeri tiga lantai, lobi yang diperluas (menjadi satu dengan gedung sebelahnya), auditorium, event space, offices, restoran berkapasitas 80 kursi, dan atrium stair berdinding kaca dimana para pengunjung yang menggunakannya disuguhi pemandangan kota New York. Satu fitur menarik di bagian eksteriornya adalah desain triangle cut-out pada gedung yang menyisakan teras di lantai dasar.

Pemilihan Rem Koolhaas sebagai arsitek untuk proyek ini (yang juga berkolaborasi dengan Shohei Shigematsu dan Cooper Robertson) tentu tak perlu dipertanyakan lagi. Ia adalah figur besar dunia arsitektur kontemporer. Pada tahun 2017 silam, Lisa Phillips selaku Museum Director menyatakan kekagumannya pada arsitek asal Belanda itu, “I’ve admired Rem’s work and the firm for a long time — he’s a top thinker, he’s an urbanist. He’s also a futurist; he thinks very much about the new,” ucap Phillips. Membawa hal baru memang menjadi karakter Koolhaas dan kerap kali hal baru itu menimbulkan perdebatan. 

 

The Controversial Koolhaas

Dalam sebuah artikel tahun 2012, Smithsonian magazine menyebutnya sebagai ‘World’s Most Controversial Architect’. Lebih dari sekadar bergelut di dunia rancang bangun, Koolhaas merupakan seorang pemikir. Pada Venice Biennale 2010, pendiri Office for Metropolitan Architecture (OMA) ini mendemonstrasikan bahwa sesungguhnya kegiatan preservasi bangunan justru berkontribusi pada sejenis amnesia kolektif melalui transformasi distrik historis menjadi tempat wisata dan upaya mempercantik bangunan bersejarah kelam.

Sebagai seorang arsitek kaliber, pemenang Pritzker Prize pada tahun 2000 ini masih aktif mengikuti berbagai kompetisi. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh rekan-rekan selevelnya. Bagi Koolhaas, kebebasan dan eksplorasi kreatif dalam mendesain untuk kompetisi punya harga mahal. Biaya besar dan kecilnya profit pun bukan bagian dari perhatiannya. “I’ve absolutely never thought about money or economic issues. But as an architect I think this is a strength. It allows me to be irresponsible and to invest in my work,” ucap Koolhaas kepada Smithsonian magazine. Sikapnya yang demikian dipengaruhi latar belakang perjalanan hidup yang ia lalui. Penggalan pengalaman tinggal di Jakarta, Indonesia, selama tiga tahun semasa kecil adalah salah satunya.

Pada tahun 1952, ayahnya diminta Presiden Soekarno untuk menjalankan sebuah organisasi kebudayaan. Mengenai hari-harinya di Jakarta, arsitek kelahiran tahun 1944 itu mengatakan, “I had never seen such poverty. And I almost instantly understood that it was impossible to pass judgment on what you saw. On some level you could only accept it as reality.” Kepada kepada Observer, The Guardian, pada kesempatan lain, ia mengatakan “It was a very important age for me. Setelah kembali ke Amsterdam pada awal usia 20-an, Koolhaas sempat bekerja sebagai jurnalis. Ia kemudian menempuh pendidikan di Architectural Association School of Architecture, London, Inggris.

Pertengahan 1970-an adalah masanya menulis buku fenomenal “Delirious New York”. Waktu itu kondisi New York sangat berantakan akan tetapi dalam bukunya Koolhaas melihat the Big Apple sebagai kota dengan potensi urban paradise dimana fantasi pribadi nan ekstrem hingga subkultur paling marginal terakomodasi. Buku yang terbit tahun 1978 itu menjadikannya terkenal sebelum mendirikan bangunan apapun. Buku menarik lain yang ia terbitkan adalah ‘S,M,L,XL’ berisi lebih dari 1.000 halaman. Rilis pada tahun 1994, buku tersebut menggabungkan fiksi, foto, kartun, esai, dan architectural plan yang diproduksi OMA.

Architecture wise, Koolhaas menciptakan kontroversi melalui proyek kantor pusat stasiun televisi CCTV di Beijing, China, pada tahun 2004-2009. Menjulang setinggi 234 meter di atas lahan seluas 473 ribu meter persegi, bangunan ini memiliki bentuk unik. Penduduk lokal menyebutnya sebagai big pants. Pada tahun 2014 dalam sebuah simposium, presiden Xi Jinping mengatakan bahwa gedung berbentuk aneh seperti buatan Koolhaas tak boleh lagi dibangun di sana.

Banyak pihak melihat bahwa komentar presiden China tersebut menekankan bahaya berkurangnya nasionalisme akibat gaya-gaya Barat yang masuk, termasuk melalui arsitektur. Namun beberapa pihak lain justru “menuduh” Koolhaas menjadi bagian dari propaganda transparansi pemerintah China. Para pengkritik ini menginterpretasikan bentuk bangunan CCTV Headquarters itu sebagai simbolisasi transparansi. Jika Anda melihat gedung ini, Anda bisa mendapat multiple visual identity dari satu konstruksi itu, baik sebagai bentuk huruf ‘Z’, sebuah loop atau yang lainnya.

Bagi Koolhaas yang juga merancang Fondazione Prada, perihal multi identitas bangunan tersebut menjadi poin penting, terutama bagi lansekap urban China yang dikatakannya “a part of the world where stability is prized above everything else and where identities are supposed to be immutable.” Kepada CNN pada tahun 2012, ia menceritakan betapa banyaknya usaha yang dilakukan untuk mewujudkan gedung itu, mulai dari negosiasi dengan pihak politik dan masalah perbedaan-perbedaan simbolisme kultural, dan sebagainya. Dari sini bisa terbaca keunikan sikap dan ideologi Koolhaas.

Seperti ditulis oleh kritikus arsitektur Rowan Moore pada Observer, The Guardian, pada tahun 2011 “Koolhaas, and OMA, are happiest when poised between different points of a paradox or an opposition. They work with authority, but their ethos is freedom.”