An offer of a quiet opulence.
The silence had encapsulated Kedawetan, Ubud, as the steps led into the suite through winding pebble pathways with dim lights evoking the charm of a Balinese village that night. Within the muted elegance of traditional nuance from the wooden-style interior, it was such an endearing experience to find a sheet of story about Pawukon Calendar on the bed. It read, “The Pawukon calendar is based on a 210-day cycle with ten sub-cycles, known as wara, whirling like gears within it. These wara vary in length from one to ten days. Certain intersections of wara – such as Kajeng Kliwon – have special significance, requiring more than the usual number of daily offerings in home and temples.”
Bersamaan dengan lembaran tersebut, tersemat suvenir pembatas buku berestetika lukis Kamasan. Sebuah wujud tradisi kultural dari desa di wilayah Klungkung yang dimulai pada era 70’an hingga menyebar ke seluruh Bali dengan karakter wayang sebagai garapan – ours was Sri Rama, the wise king and avatar of Vishnu. Berdasar catatan yang disertakan, pelukis Kamasan tak pernah menoreh garis lebih dari sekali untuk karya buatannya yang memanfaatkan pewarnaan alami. Suguhan pernak-pernik tersebut tak sekadar menyimpul manis sebuah hari di Amandari, tapi sekaligus mengutuhkan wajah pengalaman inap nan distinctive dan remarkable ala resor yang menyandang nama Aman. It’s the layers of cultural richness fuse into the beautifully respectful landscape planning and exceptional leisure indulgence. Each Amandari experience is a bridge to sense the spirit of Balinese tradition.
Manifestasi kuliner akan esensi tersebut hadir menawan nan mengesankan dalam sebuah makan malam al fresco diiring lantunan rindik Bali. Kala itu, meja yang telah ditata cantik ditempatkan di bawah sebuah pohon yang sekaligus menjadi tempat bergantungnya beberapa lampu bola. Tanaman-tanaman lain di sekeliling area memperkuat nuansa tropical dining dengan suguhan menu-menu tradisional Pulau Dewata. Sayur kuah Jukut Ares – dari batang pohon pisang – menyapa palet lidah secara comforting dan diikuti dengan ragam kreasi daerah. Sate lilit ikan berbatang serai disajikan bersamaan dengan bebek betutu, babi guling, ayam panggang lokal, juga lawar urap dan steamed brown rice. Cita rasa gula palem dalam kekenyalan klepon menjadi dessert enjoyment di penghujung momen bincang santai bersama GM Michel Bachmann.

Seperti diutarakan Bachmann, keindahan asali dari resor yang dibuka sejak tahun 1989 ini masih terjaga. There is so much to talk about it, but all wouldn’t come true without the meeting of the two like-minded people. Saat hospitality entrepreneur Adrian Zecha bertemu dengan arsitek Peter Muller, keduanya dipersatukan oleh sebuah gagasan ideal akan akomodasi pelesir berwawasan budaya lokal, menyatu harmonis dengan lansekapnya, dan dengan cakupan tamu lebih terbatas. Pengusaha yang pernah berkarir sebagai jurnalis pariwisata itu sudah lebih dahulu merealisasikan angannya lewat properti Amanpuri di Thailand. Sementara sang arsitek telah menanak ide resor berbasis kekaguman akan desa-desa di Bali sejak era 70’an. Seturut dengan mistikalitas kultur Nusantara, resor baru itu mendapat namanya dari seorang clairvoyant. “Aman” berarti damai. “Dari” berarti spirit.

The name resonates throughout all Amandari experiences – especially in the morning. Hutan di area Sungai Ayung damai menyapa cerah mentari dalam sejuknya udara. Ketika soothing scenery ini membuai mata, lidah dimanjakan dengan roti pumpernickel yang diatasnya dilapis homemade smoked salmon (tersertifikasi sebagai sustainably farmed) berpadanan telur ayam kampung rebus, krim keju, rupa-rupa acar, potongan lemon, dengan saus beet hollandaise. Buah-buahan di santap terakhir. Sementara cocoa shot menjentikkan sensasi energetic untuk awal hari di Amandari. Breakfast at Dining Bale tak boleh dilewatkan kala tinggal di resor ini. Setelahnya, ada macam-macam opsi yang bisa dilakukan. Mulai dari guided cycling tour untuk melihat keseharian desa secara lebih dekat, trekking menelusuri hutan hingga ladang padi dan sungai, ataupun pendakian gunung yang dilengkapi sesi piknik. Semua akan difasilitasi oleh tim resor.

Selain area sekitar properti yang menjanjikan ragam aktivitas menarik, kawasan dalam Amandari sendiri menyimpan hidden gem dari ratusan tahun lalu untuk dieksplorasi. Turunlah ke lereng menuju sungai melalui anak-anak tangga hingga tiba ke sebuah situs peribadatan kuno dengan stone tiger di dekatnya telah berselimut lumut. Alkisah, seorang Hindu priest di abad ke-7 secara supranatural dituntun berjalan jauh hingga tiba di titik tersebut dan menghadirkan patung macan itu sebagai pengingat warga setempat akan kurnia yang mereka terima. Sampai saat ini, masyarakat sekitar masih aktif memanfaatkan situs itu untuk keperluan ibadah dan upacara. Bila masanya tiba, mereka akan melintas resor menuju situs sembari membawa aneka sesembahan. Umbul-umbul yang tinggi leluasa dibawa tanpa terhalang atap berkat bagian yang sengaja dipangkas untuk hal tersebut.

Demikianlah penghormatan akan local culture yang diterjemahkan Amandari ke dalam konsep resornya tak hanya sebatas pemanfaatan elemen-elemen arsitektural. Bahwa konfigurasi desainnya dirumuskan secara intensional untuk melebur harmonis dengan khasanah tradisi masyarakat yang telah menjadi bagian kehidupan keseharian dari generasi ke generasi. Sekitar sore hari di Lotus Pond Pavilion, tengoklah rutinitas anak-anak yang riang berlatih tari-tarian adat. Pengajarnya adalah seorang ibu yang telah menjadi keluarga Amandari selama lebih dari 20 tahun. Pada kesempatan tertentu, hasil latih tarian ini ditampilkan dalam pertunjukan jelang malam di lobi. Bila ingin turut terlibat dalam kegiatan budaya, coba sesi penulisan aksara Bali yang sudah berusia ratusan tahun atau kelas lukis maupun pahat kayu bersama local artists.

Untuk pengalaman selangkah lebih jauh dari realita indrawi, tim resor bisa mengantar ke kediaman Made Lunas. Praktisi spiritual Bali ini akan menerawang perihal kondisi kesehatan, pikiran, hingga “terbang” ke masa depan orang di hadapannya. Tak kalah menarik juga berkunjung ke acara ritual pemberkatan (atau bahkan turut berpartisipasi), melihat candi-candi kuno ataupun kesibukan artistik di craft workshops sekitar. Sekembalinya ke hotel, momen lunch di The Restaurant menawarkan sebuah pemandangan infinity pool berlatar vegetasi hutan nan rimbun. Bentuknya terinspirasi persawahan. Berselip semilir angin, santap siang panoramik dengan pilihan menu lokal maupun internasional di resto menjadi sebuah serene experience lain di Amandari. Saat menuju senja, singgahlah ke Terrace Bar untuk mengudap sweet treats tradisional dengan pendamping teh atau koktail. What we noticed, they served authentic traditional snacks in a traditional presentation.

Mentari yang perlahan terbenam melukis sapuan jingga dan violet di langit. That afternoon, we decided to enjoy a little solitary time inside our suite with some complimentary snacks, a cup of Dammann Frères camomile tea, facing a lush backyard. Pesona understated beauty dari ruang bangun tersebut menyulut romantika nostalgis, membuat diri bagai mengarung waktu ke belakang. Kenyamanan ini kini didukung dengan amenities modern seperti hairdryer Dyson juga speaker Bang & Olufsen. Estetika Amandari rasanya memang harus tetap lestari. Lebih dari sekadar penyanjungan memori, keindahan yang tersaji di Amandari sekaligus merupakan rekam histori akan bagaimana esensi Bali secara optimal diapresiasi dalam ranah hospitality. Rahadityo Mahindro, Senior Regional Director of Marketing and Communications dari properti-properti Aman di Indonesia, khusuk berbagi seputar hal ini pada sebuah momen di Library – now features a special gallery dedicated to its history.

Our last dinner was called Jamuan Makan Nusantara. Di sini, rupa-rupa masakan berbagai penjuru Indonesia dihadirkan. Mulai dari olahan daging, lauk laut, hingga vegetables. Alternatif kemeriahan dining di Amandari mencakup Purnama Feast di mana kuliner Bali dinikmati dengan pertunjukan tari dan musik daerah kala bulan berada di fase purnama. For calory burning the following morning? Patut dipertimbangkan untuk menikmati momen bermain tenis di sini. Tennis court tersebut rampung pada tahun 1991. Setahun berselang, David Bowie dan Iman istrinya menghabiskan bulan madu di resor ini. Dari masa ke masa, atap alang-alang Amandari telah menaungi kisah pelesir pesohor-pesohor dunia. Akan tetapi di atas segala kemashyuran itu, yang terpenting ialah sang resor yang telah menginjak usia ke-35 tahun juga menjadi salah satu naungan bagi preservarsi kekayaan kultural Bali dan segala kearifannya.
