Juliet Burnett and Her Connection to Art, Family, and Indonesia

Juliet Burnett wearing fbudi photographed by Ato Suprapto

Mengenal sosok penari balet berdarah campuran Australia-Indonesia yang telah berjelajah ke tiga benua dalam kariernya.

 

Saya telah berencana untuk berbincang dengan Juliet Burnett sejak menyaksikan penampilannya di Taman Ismail Marzuki tahun 2016 silam. Tahun ini, kala kembali berkunjung ke kota Jakarta, penari balet yang kini menetap di Antwerp ini meluangkan waktunya untuk TEC.

Halo, Juliet. Terima kasih telah melakukan wawancara ini dengan TEC. Apa kabar?

Kabar baik, terima kasih. Saya sangat sibuk, seperti biasa – mungkin terlalu sibuk – tetapi saya tidak mengeluh. Saya senang dengan rutinitas yang padat.

Bisakah Anda menceritakan kisah di balik bagaimana Anda menjadi penari balet profesional?

Setelah lima tahun menekuni tari balet, pada usia 10 tahun, guru saya mengatakan kepada saya dan Ibu bahwa saya punya potensi. Jadi jika saya ingin lebih serius, saya harus mulai mengambil kelas tambahan setelah jam sekolah dan juga latihan secara privat. Segala sesuatu berkembang dari sana sampai saya diterima di Australian Ballet School yang bergengsi pada usia 16 tahun. Setelah lulus, saya adalah salah satu dari beberapa siswa yang mendapatkan kontrak dengan The Australian Ballet, di mana saya memulai karier saya secara profesional.

Apakah Anda ingat penampilan pertama Anda sebagai penari balet?

Penampilan perdana saya bersama The Australian Balletadalah sebagai Swandalam Swan Lakeoleh Graeme Murphy. 12 tahun kemudian, saya menari sebagai Odette, peran utama dalam produksi yang sama. Di benak saya, saya ingin itu menjadi peran terakhir saya bersama The Australian Ballet, tetapi tidak berakhir seperti itu karena Giselledatang tak lama setelah itu, dan saya tidak dapat melewatkannya. Jadi pertunjukan terakhir saya bersama The Australian Ballet adalah sebagai Giselledi panggung Sydney Opera House, di kampung halaman saya.

 Siapa orang yang paling berpengaruh dalam karier Anda?

Orang tua saya. Mereka adalah orang-orang yang mendaftarkan saya dalam kelas balet karena mereka ingin tahu apabila saya memiliki bakat menari dari nenek saya yang adalah seorang penari di Keraton Yogyakarta. Mereka adalah orang-orang yang mendukung saya sejak awal, memastikan saya mendapatkan cinta dan keseimbangan dalam hidup saya, dan menjaga kerendahan hati saya. Cinta dan dukungan mereka membentuk saya menjadi manusia dan seniman hingga hari ini. Bahkan sekarang saya telah memindahkan karier saya ke Eropa, mereka masih datang untuk melihat saya menari di sini. Dan tentu saja saya tidak akan terus menari jika bukan karena inspirasi, cinta dan dukungan dari suami saya, Nick (komposer Nicholas Robert Thayer) dan saudara saya, Jasmine.

 

“Ketika saya mulai belajar tarian tradisional Jawa, menjadi jelas mengapa saya menjadi penari balet klasik daripada penari kontemporer atau penari jenis lain.”

 

Nenek Anda adalah seorang penari di Keraton Yogyakarta, sebagai penari tradisional Jawa, bagaimana perannya dalam mempengaruhi kehidupan dan karier Anda?

Saya tidak benar-benar menyadari hal ini hingga perjalanan pertama saya kembali ke Indonesia setelah saya memulai karier saya. Saat itulah paman saya, W.S. Rendra, membawa saya ke tempat pertemuan keluarga untuk berdiskusi mendalam tentang seni dan kehidupan, menceritakan kisah tentang nenek saya dan mengajari saya filosofi tentang tari Jawa seperti nenek mengajarkannya – seperti pusat-pusat energi dan cara untuk menyalurkannya sebagai esensi dan semangat gerakan. Dia juga mengajari saya teknik meditasi tradisional yang digunakan untuk mempersiapkan diri sebelum tarian sakral di Keraton. Pelajaran-pelajaran ini jelas mempengaruhi tarian saya – bukan hanya pendekatan fisik, tetapi hubungan spiritual dan budaya, yang secara alami adalah dasar dari identitas artistik seseorang.

Tapi tidak sampai sekitar delapan tahun dalam karier saya, ketika saya diberikan beasiswa yang memungkinkan saya untuk berlatih seni tari nenek saya di Solo, seakan menjelaskan saya kedalaman aliran tari ini dan koneksi budaya. Pada saat itu saya sedang mengalami krisis eksistensial, dan ketika saya mulai belajar tarian tradisional Jawa, menjadi jelas mengapa saya menjadi penari balet klasik daripada penari kontemporer atau penari jenis lain. Ada banyak persamaan antara tari Jawa klasik dan balet klasik Barat – keduanya berasal dari istana, jadi ada anugerah agung dalam pergerakan tubuh, dan tubuh sebagian besar disajikan ke hadapan orang-orang dengan cara yang elegan sehingga terlihat paling menyenangkan bagi bangsawan yang akan menyaksikan dari row depan. Gerakannya cenderung lembut dan penuh perasaan, dan sejumlah besar detail ditekankan dengan artikulasi yang presisi. Saya sekarang bisa melihat bahwa menjadi penari balet adalah takdir saya, dan meskipun saya tidak pernah bertemu dengannya dengan baik karena saya masih bayi ketika dia meninggal, saya bisa merasakan semangat nenek saya di dalam diri saya.

Dalam cerita lain, rupanya dia dulu adalah tuan rumah yang sangat murah hati, memastikan mereka memiliki makanan yang cukup untuk dimakan; atau, tergantung siapa yang Anda tanya, hampir memaksakannya pada tenggorokan mereka! Suami saya bisa memastikan bahwa saya mewarisi sifat ini, yang diturunkan melalui ibu saya. Oh, dan sepertinya dia selalu terlambat. Sayangnya, saya pun mewarisi sifat ini juga.

 

“Seni harus relevan dengan masyarakat kontemporer dan menjadi cerminan. Seni itu kuat: menghubungkan dan menggerakkan orang.”

 

Berbicara tentang paman Anda, dramawan Indonesia yang terkenal, W. S. Rendra. Apakah dia juga telah mempengaruhi seni Anda?

Tentu. Selain mengajari saya tentang nenek saya, Om Willy telah menjadi patriark keluarga besar saya di Indonesia seumur hidup saya – kakek saya meninggal sebelum saya lahir. Kami semua memandang tinggi dirinya. Ibu saya adalah seorang aktris dalam kelompok teaternya, Bengkel Teater, dan ayah saya adalah teman dekatnya, jadi mereka memberitahu saya dan saudara saya tentang paman kami yang terkenal. Ketika kami masih kecil dan Om Willy sedang melakukan tur di Australia, wartawan dan kru berita datang untuk memfilmkan wawancara dengannya di rumah kami. Tentu saja itu membuat kami anak-anak tertegun!

Tapi selain sebagai idola, seperti yang saya katakan sebelumnya, dia benar-benar merangkul saya di bawah naungannya, bangga bahwa saya melanjutkan warisan menari dari nenek saya dan tentu saja warisan artistik keluarga. Jadi kami menjadi sangat dekat dan dia mengajari saya begitu banyak. Dia dikenal mengatakan bahwa ‘seni adalah suara rakyat’ dan itu benar-benar menjadi mantra artistik saya juga. Seni harus relevan dengan masyarakat kontemporer dan menjadi cerminan. Seni itu kuat: menghubungkan dan menggerakkan orang. Inilah mengapa seni itu penting. Dia mengajari saya semua itu dan ini memiliki dampak yang abadi terhadap diri saya sebagai seniman hingga hari ini.

Mari bicara tentang Jakarta. Sepertinya Anda menghabiskan waktu yang menyenangkan dan sangat sibuk di Jakarta. Bagaimana perjalanannya kemarin?

 Tepat sekali – menyenangkan, tapi sibuk! Terlalu sibuk…

Anda memberitahu saya tentang Kampung Workshop selama Anda di Jakarta. Apa sebenarnya workshop tersebut?

Saya memperkenalkan anak-anak terhadap balet melalui video dan perbincangan singkat. Kemudian saya memberikan beberapa latihan dasar untuk memperkenalkan gerakan balet. Saya mencoba membuatnya sangat menyenangkan bagi mereka. Selalu diakhiri dengan tawa! Biasanya akan ada pertunjukan tari oleh komunitas setempat untuk saya, atau kesempatan bagi saya untuk belajar tarian lokal, diikuti dengan kesempatan untuk bertanya. Dan tentu saja foto… selalu saja BANYAK berfoto di Indonesia!

Tujuannya?

Tujuan utamanya adalah agar saya kembali terhubung dengan komunitas tari di Indonesia dan mempertahankan kehadirannya. Setiap perjalanan saya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman saya tentang komunitas tari dan konteks budaya bentuk-bentuk tarian Barat di negara yang berbudaya kaya. Maka, dalam perjalanan ini saya menyelenggarakanmasterclass seharian penuh (Day of Dance with Juliet Burnett), yang juga termasuk forum diskusi tentang masa depan balet dan tari di Indonesia.

Saya suka mengajar di Indonesia, karena saya pikir sangat penting bagi murid lokal untuk mendapatkan pengetahuan yang berasal dari dunia tari internasional. Bukan untuk merendahkan pekerjaan para guru, tetapi belajar dari penari profesional adalah salah satu pengalaman yang paling berharga. Saya juga belajar banyak dengan mengamati para penari dan dari wawasan yang ditawarkan di forum diskusi. Sudah jelas bahwa orang-orang dari komunitas tari di Indonesia melihat saya sebagai seseorang yang dapat secara aktif memfasilitasi perkembangan balet dan tari di Indonesia, dan tentu saja ini masuk akal karena saya adalah salah satu dari hanya sedikit penari balet profesional internasional berdarah Indonesia. Tapi mungkin yang lebih penting, saya bisa melihat pekerjaan apa yang masih perlu dilakukan, dan saya ingin melakukannya.

 

 

Dari sudut pandang saya, pekerjaan dimulai dari tingkat grassroots, dalam menangani kesalahpahaman dan membuka akses terhadap balet dan pelatihan formal dalam menari untuk semua sosiodemografi. Selain itu, pertunjukan seni dan kesempatan untuk meniti karier haruslah untuk semua orang Indonesia, bukan hanya mereka yang mampu untuk mengalaminya. Inilah mengapa saya memulai lokakarya kampung di kunjungan kerja pertama saya ke Indonesia pada tahun 2015 – Ballet Goes toCiliwung, bekerja sama dengan Ballet.id dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Di sini sangat jelas betapa kuatnya seni tari telah mencerahkan hari anak-anak itu, memberi mereka harapan dan aspirasi; ini hanya salah satu alasan mengapa seni itu penting. Menghubungkan orang-orang dari berbagai dunia, dan memperkaya kehidupan dalam prosesnya. Saya memilih dua anak untuk menerima dana untuk pelatihan balet selanjutnya, dan tim Ballet.id kembali setiap minggu setelah saya pergi untuk memberi semua anak-anak lain kelas balet mingguan. Mereka bahkan menampilkannya beberapa kali. Sayangnya kami tidak dapat terus bekerja di sana setelah akhir tahun 2016, ketika komunitas Ciliwung digusur oleh pemerintah. Mereka direlokasi sekitar Kota Jakarta tetapi tidak mungkin bagi kami untuk melanjutkan pekerjaan yang kami lakukan.

Dalam perjalanan terakhir ini saya bekerja untuk terhubung dengan beberapa komunitas baru. Bekerja sama dengan Tangsel Creative, saya mengunjungi sebuah komunitas di Banten (Ballet Goes to Banten)untuk memberikan lokakarya balet kepada anak-anak setempat dan juga berkesempatan untuk mempelajari tarian lokal – tari Anggrek. Itu adalah contoh sempurna dari pertukaran budaya artistik yang berarti. Saya membuatnya sangat jelas dari awal bahwa semua lokakarya ini bukan hanya tentang memasuki komunitas, menunjukkan mereka balet klasik seakan sesuatu yang superior, mengambil foto untuk koran atau media sosial atau apa pun, dan pergi begitu saja. Tidak – harus dijadikan fondasi untuk membangun hubungan yang berkelanjutan. Menanam benih, dan kemudian sesekali kembali untuk disiram. Memeliharanya, dan melihatnya tumbuh.

Saya juga berkolaborasi lagi dengan Ballet.id dan memberikan lokakarya balet lain untuk anak-anak dari dua kampung lain di sekitar pinggiran Jakarta. Pengalaman yang indah dan tak terlupakan, melihat keajaiban yang dibawa ke dalam hidup mereka. Ini ajaib bagi saya juga. Mimpi yang telah lama terwujud menjadi kenyataan, untuk memperkenalkan beberapa dunia saya kepada semua orang di kampung halaman kedua saya, dan melihat hati mereka tersentuh.

 

 

“Pertunjukan seni dan kesempatan untuk meniti karier haruslah untuk semua orang Indonesia, bukan hanya mereka yang mampu untuk mengalaminya.”

 

Seberapa sering Anda datang ke Jakarta?

Sejak saya lahir, keluarga saya akan datang sekali atau kadang dua hingga tiga kali setahun ke Indonesia – Jakarta dan Yogyakarta – untuk mengunjungi keluarga di sana. Ketika saya memulai karier saya, saya menjadi terlalu sibuk untuk mempertahankannya, maka dari itu menjadi setiap dua tahun. Mulai sekarang saya akan mencoba untuk membuatnya tahunan lagi.

 Apakah Anda menganggap kota ini sebagai kampung halaman Anda?

Jelas salah satu kampung saya, pasti, terlebih Yogyakarta. Tapi Sydney adalah tempat saya dilahirkan dan bertumbuh besar, jadi itu kampung halaman pertama saya. Namun, walaupun tumbuh besar di Australia, saya dan saudara saya memiliki kehadiran budaya Indonesia yang kuat dalam didikan kami – pertama, ibu saya memasak makanan tradisional Indonesia yang terbaik, dan rumah itu penuh dengan batik, seni dan perabotan Indonesia. Kami juga berbicara bahasa Indonesia di rumah.

Setelah ini, apa rencana Anda untuk ke depannya?

 Saat ini dua tahun lalu, saya dan suami memindahkan hidup kami ke Eropa untuk memajukan karier kami. Kami tinggal di Antwerp, Belgia, tempat saya menari bersama Ballet Vlaanderen, dan saya sangat menyukainya. Saya berkesempatan untuk bekerja dalam berbagai repertoar, dengan keragaman latar belakang penari lain, dan gaya hidup bertempatan di tengah Eropa dan karena itu dapat melakukan perjalanan singkat ke Amsterdam, London atau Paris untuk melihat pertunjukan-pertunjukan lain, sangat luar biasa. Saya resapi semuanya dan rasakan kekayaan pengalaman itu benar-benar mempengaruhi tarian saya. Di sini saya merasa kreatif, bebas, dan terinspirasi. Jadi kita pasti akan tinggal di Eropa mungkin selama lima tahun ke depan, tetapi sebenarnya, kita berdua berjiwa nomaden, jadi siapa yang tahu? Indonesia pasti hadir di masa depan; Banyak pekerjaan yang harus saya lakukan di sana. Saya benar-benar ingin mengkurasi dan menampilkan pertunjukan di sana dalam waktu dekat, membawakan beberapa balet modern dan tarian ke Indonesia dari Eropa.

Apakah kita akan menyaksikan lebih banyak acara Anda di Jakarta?

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, ya.