GucciFest Tampilkan Koleksi Terbaru Berbungkus Karya Sinematik

Alessandro Michele also goes deeper about human situation.

 

Jika perlu merumuskan benang merah dari aksi-aksi Alessandro Michele di Gucci, maka cukup aman untuk mengatakan bahwa segalanya merupakan hal-hal yang terus mengukuhkan peleburan DNA estetika sang desainer dengan identitas rumah mode asal Italia tersebut. Season may changes, and you might not be able to identify his creations to a certain one – especially since the house has opted for seasonless collection – yet each of its pieces only shouts the character of Michele’s Gucci. Semesta Gucci ala Michele yang khas berhasil memesona dari waktu-waktu dengan konsistensinya pada nafas vintage, palet yang colourful, serta penggunaan motif. Hal ini pun ditemukan pada koleksi terbarunya yang berjumlah 97 looks.

Akan tetapi, yang istimewa dari Creative Director Gucci ini bukan cuma kepiawaiannya merancang. Koleksi terbarunya selalu datang dengan refleksi mendalam akan berbagai isu kontemporer yang dibungkus secara artistik. Meninggalkan format runway, kini Gucci hadir dengan virtual festival berisi miniseri untuk mempresentasikan karya-karya teranyar. Berlangsung selama 7 hari pada 16-22 November 2020 di YouTube, Weibo dan website Guccifest.com, 7 episode yang disutradarai oleh Gus Van Sant dan Michele ini tercipta dari pertanyaan-pertanyaan Michele mengenai fashion. Tentu saja yang menjadi bahan pertanyaan bukan mengenai kualitas karya ataupun keahliannya (everybody agrees he is unquestionably skilful and his designs are awesome).

Which new horizons do arise when fashion leaves its comfort zone?” Demikian salah satu pertanyaan yang ia ajukan dalam mengembangkan miniseri dan koleksi “Ouverture of Something That Never Ended”. Serangkaian pertanyaan yang ia miliki kemudian membawanya pada suatu perenungan yang melampaui realita mode, yakni menuju topik kehidupan itu sendiri. Dengan bintang utama aktris Silvia Calderoni – yang melalui diri dan ketubuhannya sendiri telah menantang klasifikasi gender tradisional – miniseri Gucci mengetengahkan isu-isu mendalam lewat pendekatan olah artistik dunia keseharian.

Frames dari hari-hari dari realitas Silvia terjadi dalam latar lumrah seperti rumah, kafe, dan kantor pos (nama tempat-tempat ini diambil sebagai judul tiap episode) namun diisi dengan berbagai artistic peculiarity – surely the people are all dressed in Gucci – yang disertai dialog maupun monolog nan thought provoking. Sebagai contoh, pada episode pertama, filsuf Paul B. Preciado asal Spanyol berbicara topik klasifikasi sosial atas gender dan seksualitas. Bintang musik Harry Styles pada episode 3 menerima sebuah panggilan telepon dari kritikus seni asal Italia, Achille Bonito Olivia, yang membahas bagaimana kondisi saat ini memang membuat kita begitu ragu akan masa depan namun ternyata sekaligus mendorong apresiasi lebih atas saat ini.

Turut menampilkan figur-figur dari bidang lain, seperti singer-songwriter Arlo Parks, playwright Jeremy O. Harris, hinga choreographer Sasha Waltz, miniseri Gucci dibalut dengan musical pieces yang kaya. Sebut saja track dari Beethoven dan debut video musik terbaru Billie Eilish berjudul “Therefore I am” yang muncul di episode 5. Dalam klip garapan Harmony Korine tersebut, Eilish tampak mengenakan sweatshirt bertuliskan “Eschatology”; sebuah hint lain atas perenungan Michele mengenai kondisi umat manusia yang memproyeksikan destinasi final peradaban.

Aspek sartorial lainnya yang merujuk pada ide kehidupan manusia di koleksi yang amat kental berspirit 70’an ini adalah kemunculan kembali beberapa pieces dari koleksi Fall/Winter 2015 – koleksi pertamanya untuk Gucci. Melalui langkah tersebut Michele menyampaikan bahwa kondisi saat ini dan cara kita memandangnya tak pernah bisa diputus dengan kaitannya di masa lalu. Pada kesimpulannya, Michele berbagi sudut pandang bahwa observasi atas berbagai kejadian kecil dan biasa dalam kehidupan dapat menyadarkan seseorang akan posibilitas-posibilitas. “There is no such thing as an ultimate and final meaning, because that would end up in reducing the sensible to the intelligible,” ucap Michele. Di mata perancang asal Italia ini enchantment of life berada di “ infinite variety of its possibilities”.