‘Epilogue’ Tandai Babak Baru Gucci

Presenting a different perspective on fashion.

 

Konsisten namun adaptif. Di tengah problem format presentasi koleksi akibat pandemi Covid-19, Gucci memilih untuk menciptakan caranya sendiri. Tak hanya menampilkan show secara online, ia juga merefleksi potensi dari aset-aset kreatifitasnya untuk melangsungkan Cruise 2021 show Gucci. Dimulai dari penegasan ulang untuk menyebut koleksi ini sebagai Gucci Epilogue dibanding Cruise; sebuah terminologi yang tampak menjadi penanda awalan baru yang diusung oleh rumah mode Italia tersebut.

Sejumlah langkah didobrak untuk meramu format presentasi ini. Beberapa diantaranya adalah melangsungkan live streaming selama 12 jam yang serentak dilakukan di seluruh dunia dan menutup kalendar Milan Digital Fashion Week. Di Indonesia, “pembuka” sebelum presentasi online ini dimulai adalah unggahan koleksi head-to-toe Gucci di social media yang dilakukan oleh selebriti dan fashion influencer, seperti Luna Maya, Nagita Slavina, Anastasia Siantar, hingga Ayla Dimitri dalam tagar #GucciEpilogue.

Salah satu hal menarik dari presentasi Gucci Epilogue adalah pemanfaatan arsip karya. Alessandro Michele sang creative director menjadikan behind-the-scene video di balik persiapan presentasi koleksi musim-musim sebelumnya sebagai latar. Ia menggubah unused archive menjadi konten layak tampil dengan citra baru. Presentasi koleksi ini dilengkapi tampilan teks dan grafis yang dikemas secara playful terinspirasi oleh game layout era 90-an. Bagian mengejutkan rangkaian presentasi ini adalah dimana ia memilih tim desainnya yang berasal dari background beragam untuk memeragakan koleksi terbaru dalam padu padan retro glamour nan khas.

 

The Final Part of the Trilogy
Untuk menciptakan kesan semarak dari awal yang baru di koleksi ini, Michele merilis kembali kreasi shirt dress yang populer di dekade 1950-an dalam motif full floral dipadu bersama mantel faux-fur monogram yang dikenakan oleh Jabrina Pilkati, tim desain women’s ready-to-wear Gucci. Aksi penuh statement dan tabrak motif ini berlanjut ke Min Yu Park, tim desain men’s ready-to-wear yang lebih intricate dalam padu padan lace midi dress motif floral bersama sequins cardigan bermotif organisme laut.

Sementara semangat make love not war dari era 1960 dan 1970-an hadir dalam kreasi bandana flashy bermaterial sequins, dan tampak pula pada kreasi mini swing coat a la Mod yang kembali dikenakan oleh Min Yu Park. Motif paisley yang lekat dengan citra hippie, dirilis dalam rupa jaket dan celana Palazzo dikenakan oleh Veronica Quagliano tim desain women’s ready-to-wear. Item tersebut turut tampil atraktif dalam motif stripes berpalet rainbow bersama atasan tunik motif serupa yang dikenakan Elisa Pilot dan berpotongan high-waisted warna hijau emerald nan tough dikenakan Sara Nozza dan Sandrine Delloye dari tim desain jewelry juga kidswear.

Apa yang membuat dramatis koleksi ini adalah kehadiran aksen rumbai pada kreasi wool maxi dress dengan aksen bordir motif baroque yang dikenakan oleh Olivia Kode, dari tim desain kidswear. Dalam ranah aksesori, Alessandro membuat tas Hobo begitu beragam, mulai dari eksplorasi material snakeskin, paduan suede dan leather, variasi ukuran mini hingga palet candy pastel menggoda. Figur kartun Jepang legendaris Doraemon pun tak lepas menghiasi kreasi tote bag bersama motif monogram klasik yang menjadikannya undeniably quirky.

Gucci Epilogue merupakan bagian terakhir dari rangkaian kreativitas yang disebut Michele sebagai a trilogy of love. Awal dari trilogi tersebut adalah show Gucci Fall/Winter 2020 pada bulan Februari lalu. Pada show tersebut, kegiatan design crew Gucci yang selama ini berada di balik layar dibawa ke hadapan penonton dan menjadi bagian utama fashion show. Selanjutnya ada campaign koleksi Gucci Fall/Winter 2020 dimana para model memotret diri mereka sendiri. Otentisitas interpretasi model akan koleksi itu pun terasa begitu hidup. Melalui langkah ini, Gucci kembali memberi nafas baru pada proses produksi kreativitas fashion.

Puncaknya ialah presentasi koleksi Gucci Epilogue yang bukan dibawakan oleh model melainkan para design crew. Lewat trilogi tersebut, Gucci dan Alessandro Michele mengubrak-abrik hal-hal yang selama ini mapan dalam dunia mode; sebuah tindak provokatif di tengah masa pandemi yang menstimulasi berbagai pihak untuk berpikir ulang mengenai hal-hal yang selama ini sudah menjadi aturan tak tertulis dari dunia mode. Sampai sejauh mana Gucci akan membawa diskusi ini? Can’t wait to see the next chapter after the Epilogue.