Does Fashion Industry still Need Human in the Age of VR, AR, and AI?

What makes us valuable compared to the sophisticated technology?

 

Jika Anda adalah pecinta fashion yang bukan merupakan klien rumah mode ternama ataupun editor majalah mode dan hidup di era pra-digital, Anda mungkin hanya bisa bermimpi untuk dapat menonton rangkaian fashion show di Paris Fashion Week. Lihatlah betapa berbedanya dunia fashion setelah memasuki zaman canggih teknologi digital. Tanpa perlu memiliki undangan, siapa saja bisa melihat lenggak-lenggok model membawakan koleksi terbaru melalui Instagram Live; bahkan mendapatkan view baris terdepan.

Kini yang mulai dirambah oleh industri mode dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi digital untuk menghadirkan pengalaman berbeda pada masyarakat adalah Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Pada AR, tampilan dunia nyata diinjeksi dengan realita digital, seperti dalam game Pokémon Go. Sementara itu, VR secara total menampilkan realitas artifisial baru yang dibuat secara digital dan dapat diakses melalui kacamata VR. Oleh beberapa fashion brand, teknologi itu dimanfaatkan bagi strategi marketing. Pada campaign Spring/Summer 2018, Gucci menggunakan fitur VR yang memungkinkan para pengunjung butiknya “masuk” ke dalam campaign Gucci karya seniman Ignasi Monreal. Dior pada awal tahun 2019 ini menghadirkan filter AR di Instagram untuk mempromosikan kacamata DiorColorQuake dimana para pengguna aplikasi dapat “mencoba” sunglasses tersebut dan membagikannya via Instagram Stories.

Anda bisa bayangkan bagaimana bermanfaatnya jika teknologi VR dan AR tersebut difungsikan secara maksimal bagi kemudahan berbelanja pelanggan. Misalnya dengan kacamata VR, Anda hanya tinggal memakainya kemudian sekejap “berada” di butik untuk melihat koleksi terbaru tanpa harus meninggalkan rumah. Selanjutnya dengan aplikasi AR, Anda bisa melihat bagaimana tampilan bila mengenakan sebuah gaun tanpa perlu pergi ke butik untuk secara real mencobanya. Efisien energi, efisien waktu, dan efisien biaya. Dengan skema ini, pelaku bisnis pun dapat melakukan efisiensi di sektor sumber daya manusia. Tenaga manusia di butik beserta cost-nya bisa dikurangi karena konsumen sudah mampu mengakses segalanya dimanapun mereka berada.

Berada di atas level AR dan VR adalah Artificial Intelligence (AI) yang bahkan bisa lebih meningkatkan efisiensi industri. Kembali pada kasus efisiensi sumber daya manusia di butik, kecerdasan buatan AI yang di masa depan mungkin mampu bertindak layaknya manusia sungguhan jelas dapat menjadi pengganti manusia dalam memberikan pelayanan kepada tetamu butik. Sesosok AI pintar bisa dijejali seluruh pengetahuan produk untuk memberi informasi pada konsumen, bisa menghitung harga, memproses pembayaran, atau berbagai tugas lain yang kini membutuhkan beberapa orang dengan keahlian berbeda-beda. Bukan cuma di menyangkut kerja manusia di butik, AI pun dapat dihadirkan ke hadapan publik sebagai representasi brand. Rintisan ke arah tersebut sepertinya telah dilakukan beberapa fashion brand dengan menggandeng model-model virtual.

Pada koleksi Spring/Summer 2016, Nicolas Ghesquière memilih Lightning, karakter dari video game Final Fantasy, sebagai wajah dari campaign Louis Vuitton Series 4. “I was thinking about this digital frontier, which I wanted to combine in harmony with the world of Louis Vuitton – the craft, the wardrobe. It’s an evocation of cyber, of what comes from digital – these characters or girls that are speaking to their generation,” ucap Ghesquiére tentang campaign koleksinya. Selain Louis Vuitton, rumah mode lain yang juga telah ‘bekerjasama’ dengan model-model virtual adalah Balmain. Pada tahun 2018, Balmain memperkenalkan tiga model virtual sebagai ‘Balmain’s New Virtual Army’. Ketiga model tersebut – Margot, Shudu, dan Zhi – adalah hasil kreasi fotografer Cameron-James Wilson. Shudu memperkenalkan dirinya sebagai ‘the world’s first digital supermodel’ kepada 192k followers Instagram-nya, sementara Margot dan Zhi adalah wajah-wajah eksklusif yang diciptakan khusus untuk campaign rumah mode Prancis tersebut.

Model virtual lain yang telah menampakkan diri di industri fashion – and gaining social media fans as we speak adalah Lil Miquela, seorang virtual influencer yang diciptakan sebagai wajah iklan di Instagram. With her extreme likeliness to a real-life 19-year-old girl, this computer-generated being has 1.7 million followers in Instagram. Pada Mei 2019, ia membintangi sebuah iklan Calvin Klein bersama Bella Hadid, dan telah merilis sebuah single di Spotify. Seorang virtual model tentu dinilai memiliki beberapa manfaat lebih bagi brand. Mereka dapat bekerja 24 jam per harinya, mereka lebih mudah untuk diatur daripada manusia biasa, mereka hadir dengan tampilan fisik yang bisa disesuaikan dengan citra ideal masa kini, dan mereka dapat dimodifikasi menurut kepentingan masing-masing klien atau brand. Jika seorang virtual model saja bisa memberi banyak manfaat pada brand, terlebih lagi dengan teknologi AI yang mampu menawarkan keunggulan-keunggulan lainnya. Misalnya berjalan di runway, melakukan sesi promo dan interview, dan berbagai hal lain kapan saja sesuai dengan setting yang diatur brand.

Apakah para “real model” akan segera tergantikan oleh AI troops? Pertanyaan mengenai tergantikannya manusia oleh kecerdasan buatan jelas bukan hanya sebatas lingkup profesi model, ataupun boutique staff. Begitu banyaknya manfaat AI mengindikasikan banyaknya juga peran manusia yang bisa digantikan oleh teknologi canggih tersebut. Seperti dilansir dari Forbes, selain untuk memaksimalkan personalised shopping experience bagi para penggunanya, AI dalam fashion manufacturing dapat digunakan untuk mengidentifikasi defect pada produk dalam proses quality assurance, mengefisienkan inventory management dan sistem logistik. Lebih dari itu, AI juga dapat mengefisienkan sistem sales melalui intelligent automation dan mengaktifkan predictive analysis maupun trend forecasting melalui olah data-data rumit. Artinya, bukan tak mungkin bila pekerjaan untuk menentukan desain seperti apa yang akan laku di pasaran pun bisa dilakukan oleh AI. Lantas apakah di masa depan nanti, peran manusia dalam keseluruhan proses fashion industry akan tergantikan AI?

Sooner or later, our entire industry will be operated by AI (artificial intelligence) and robots, not humans,” ucap Richard Liu, chief executive dari raksasa e-commerce JD.com pada World Retail Congress di Madrid di tahun 2018. Mungkin beberapa dekade lalu, kata-kata tersebut hanyalah sebuah pernyataan mimpi buruk yang diharapkan tak menjadi realita. Akan tetapi kenyataan hari ini sedikit berbeda. Semakin lama, upaya dan tuntutan untuk melakukan efisiensi di berbagai bidang semakin besar. Kinerja mesin yang tak mengandung risiko human error dan dapat diatur sesuai kehendak nyata dapat menggantikan banyak bidang pekerjaan manusia. Oleh karenanya, wajar bila sebagian orang berpikir bahwa di masa depan bukan hal mustahil bila robot-robot dengan kecerdasan buatan akan mendominasi kehidupan manusia dan merebut pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, sebagaimana yang diimplikasikan dalam teori ‘Technological Singularity’.

Perlukah kita khawatir? Adakah sudut pandang lain yang memberi asa bagi terjaganya ruang yang cukup untuk peran-peran manusia di masa depan? Seperti dilansir dari artikel FastCompany berjudul “These are the Few Jobs that Robots won’t Take from Us”, pekerjaan di industri kreatif dilihat akan menjadi salah satu yang bertahan di tengah otomatisasi dan perkembangan AI. “Humans use their life experiences, their emotions, and their creativity to bring things to life. Robotics and AI uses data to learn and improve. I don’t believe data can produce genuine works of art that will truly engage an audience through shared experiences, whether that be a painting, a melody or a voice,” ujar Tom Pickersgill, pendiri dan CEO dari human resources platform Broadstone.

As we know, industri fashion pun banyak mengandung unsur emosional. Ini adalah wilayah dimana banyak dibutuhkan human touch untuk menggapai audience-nya, mulai dari produksi kreatif hingga marketing. Termasuk juga identitas dunia luxury fashion yang mencakup elemen craftsmanship melalui proses handwork. Sebagai manusia kita bisa merasa bagaimana kerja tangan seorang artisan berbeda dengan hasil kerja robot yang mekanistis tanpa melibatkan jiwa. Elemen-elemen khas manusia seperti creativity, resilience, critical thinking, being adaptive with change, as well as social and emotional intelligence adalah hal-hal yang menjadi pembeda dengan kecerdasan buatan; yang akan membawa kualitas berbeda pada sebuah hasil kerja.