Dari Pakar tentang Perencanaan Keuangan dan Peran Asuransi

Knowing more about financial planning.

 

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia telah membuat banyak orang tersadarkan mengenai berbagai hal. One thing for sure is that life is full of uncertainty. There are many things that we cannot control. Akan tetapi jangan sampai hal tersebut membuat kita jadi terlalu cemas hingga terpuruk dalam pesimisme. Justru dari hal itu lah kita semakin memahami pentingnya membuat perencanaan keuangan yang baik sebagai sarana mencapai berbagai kebutuhan dan mimpi, serta mengantisipasi kondisi menantang yang bisa kapan saja terjadi.

Beberapa waktu lalu, Editor-in-Chief The Editors Club, Hessy Aurelia, duduk bersama dengan 2 pakar dan berdiskusi mengenai perencanaan keuangan dan peran asuransi dalam hal tersebut. Mereka adalah certified financial planner Mohamad Andoko dan Direktur AXA Financial Indonesia Cicilia Nina. Berikut ini adalah rangkuman poin-poin penting hasil sesi diskusi tersebut yang akan menambah wawasan mengenai financial planning dan the role of insurance.

What is financial planning?
Financial planning adalah proses mencapai tujuan hidup seseorang melalui manajemen keuangan yang terintergrasi dan terencana,” demikian penjelasan dari Mohamad Andoko. Perencanaan keuangan dimulai dengan topik cash flow management. Mapping pendapatan dan pengeluaran dilakukan untuk melihat apakah cash flow seseorang memiliki surplus atau defisit. Observasi, analisis, dan reformulasi cash flow management tentunya diperlukan agar mencapai kondisi keuangan yang sehat. Dari sini kemudian akan dibahas aset-aset yang sudah ada dan yang perlu dibangun. Semua elemen diolah sesuai dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai. “Jadi secara sederhana, financial planning adalah sebuah pendekatan untuk melihat kondisi keuangan saat ini dan di masa yang akan datang,” terangnya.

When does the role of insurance come into play?
Cicilia Nina menyebut bahwa peran asuransi, tabungan, dan investasi harus disandingkan bersama sejak awal dalam sebuah perencanaan dan penataan keuangan. Tabungan penting untuk dimiliki karena merupakan aset yang sifatnya paling liquid. Untuk mencapai financial improvement di masa depan secara lebih signifikan, maka investasi perlu dilakukan. “Tapi ketika orang punya investasi, dia juga harus siap jantungnya. High risk – high return, low risk – low return, no risk – no return,” ucapnya. Selanjutnya dibutuhkan juga elemen proteksi dari asuransi agar saving yang dimiliki tidak terusik bila terjadi sesuatu, dan perolehan dari produk asuransi pun dapat menunjang atau menjadi tambahan bagi hasil investasi yang terkumpul. Asuransi juga turut menjadi legasi bagi keluarga. “Asuransi harus jadi kunci karena dia memiliki entry dan exit strategy untuk the whole financial planning,” ujar Nina.

 

Is there any strategic formula to buy insurance products?
Mengenai hal ini, Nina memaparkan strategi 3 lapis asuransi. Lapis pertama adalah asuransi kesehatan karena ketika seseorang sakit, maka financial gain yang sudah terkumpul bisa hilang dalam semalam. Lapis ke dua adalah asuransi untuk critical illness sebagai antisipasi bila terserang penyakit kritis. Yang terakhir adalah asuransi jiwa untuk memberi legasi bagi anggota keluarga sepeninggal pemegang asuransi. “Tiga masker ini kalau bisa dimiliki sedini mungkin,” sarannya.

How to choose credible financial services or products to support our financial planning?
Tak hanya asuransi, produk dan jasa keuangan lain pun ada sangat banyak pilihannya. Menurut Andoko untuk bisa membeli produk dan jasa keuangan yang terpercaya, perlu dilihat apakah produk keuangan itu diregulasi oleh regulator, misalnya adalah otoritas jasa keuangan. Selanjutnya penting untuk melihat siapa si penjual. Perlu dicek apakah penjual memiliki sertifikasi tertentu terkait produk atau jasa yang ditawarkannya dan apakah sang penjual memiliki kinerja keuangan perusahaan yang bagus dan memiliki laporan keuangan yang teraudit.

Could buying too many financial products or services cause problems?
Dari penjelasan Andoko, pemahaman produk dan pengawasan menjadi faktor penting dalam menjawab pertanyaan ini. Ia mencontohkan bagaimana kliennya memiliki belasan polis asuransi dengan total biaya mencapai 20 juta rupiah, namun tak seimbang dengan hasil yang akan didapat. Dalam hal pengawasan, Andoko memberi contoh orang yang punya banyak produk saham dan kesulitan mengawasi sehingga justru menjadi masalah. “Semakin banyak produk yang dimiliki, semakin banyak pula pengawasannya. Jadi ini perlu diperhatikan,” terangnya.