Connect Your Brain to Computer with Elon Musk’s Latest Technology

Tesla founder, Elon Musk, has launched tech startup Neuralink to build implants that connect human brains with computer interfaces.

 

Perusahaan neuroteknologi milik Elon Musk mengumumkan proyek publik pertamanya. Misinya adalah untuk mengimplan sebuah controlling device yang akan membantu orang-orang dengan disabilitas untuk mengendalikan handphone dan komputer mereka melalui mekanisme yang menyerupai telepati.

Dilansir dari situs The Verge, terobosan teknologi pertama ini sedang dikembangkan di dalam laboratorium kedap udara milik Neuralink. Alat mikro tersebut melibatkan “benang-benang” fleksibel yang lebih tipis dari rambut manusia sehingga memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menyebabkan kerusakan neurologis dibandingkan dengan implan mesin untuk otak yang saat ini ada di pasaran.

Cara kerja alat ini mencakup sebanyak 3.072 elektroda per larik yang didistribusikan ke dalam 96 benang. Setiap grup elektroda terikat dalam sebuah perangkat implan kecil yang berisi wireless chip berukuran 4×4 mm. Saat ini Neuralink juga tengah mengembangkan sebuah robot yang dapat secara otomatis menanamkan alat tipis tersebut dengan micro precision menggunakan jarum berdiameter 24 mikron. Jarum tersebut akan mampu menargetkan bagian spesifik dari otak dan menghindari adanya kerusakan pada pembuluh darah.

Neuralink sebelumnya sudah menguji coba produk ini pada tikus, dan pada acara perilisan berita ini, Musk menyatakan bahwa seekor monyet telah berhasil mengendalikan komputer dengan otaknya menggungakan alat ini. Percobaan pada manusia rencananya akan mulai dilakukan pada akhir 2020, meskipun hingga saat berita ini dikeluarkan perusahaan asal San Francisco tersebut belum mendapat izin resmi dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengenai studinya.

Musk juga berharap teknologi ini bisa menjadi alat untuk meningkatkan kinerja dan gaya hidup manusia, sehingga bisa menciptakan sebuah simbiosis yang dapat bekerja sama dengan artificial intelligence (AI). Tentu saja jika berhasil terobosan ini bisa membawa sebuah masa depan dari “superhuman intelligence” dan menghilangkan stigma ancaman eksistensi yang disebabkan oleh AI.