Reflecting the cosmopolitan face of Singapore.
Tahun ini di bulan Agustus, Singapura merayakan hari jadinya yang ke-60 sebagai negara berdaulat sejak diproklamasikan pada tahun 1965. Perjuangan gigih negeri Temasek dalam membangun bangsanya pun berbuah manis. Singapura telah menjadi salah satu ekonomi advanced dunia dengan perusahaan-perusahaan yang mengglobal.
Di ranah luxury lifestyle, ada COMO Group yang turut membawa bendera tanah Merlion ke panggung internasional. Bermula dari ritel mode yang didirikan Christina Ong pada tahun 1972, ekspansi COMO kini mencakup properti akomodasi di berbagai negara. I had an enjoyable experience at their newest lifestyle compound, COMO Orchard, located right at their birthplace. There, I saw the cosmopolitan reflection of Singapore – the vibe, the culinary, the wellness.
An Urban Approach
“The driver won’t pick you up unless you’re waiting at the exact point instructed on the app,” said the uncle driver when I asked if it’s possible to order a GrabCar from anywhere along the road.

Saya simpan imbauan paman supir itu baik-baik di kepala untuk nanti kembali ke hotel (agar tidak terlena dengan fleksibilitas di Indonesia yang bisa tanpa beban mengatakan, “agak maju ke depan, Pak” atau “dari titiknya, masuk kanan sedikit, Mas”). Turun dari mobil malam itu di area Boat Quay, jalan santai menyusuri gang pinggir sungai menyajikan pemandangan jejeran kafe berhias lampu warna-warni dengan backdrop pencakar-pencakar langit yang tak kalah kerlipnya. A casual city night stroll turned into a few Insta-worthy shots. Satu yang kemudian saya renungkan dalam kepala, ialah bahwa setiap ruang kota ini ditata rapi, dibuat indah dan nyaman, serta dijaga oleh aturan nan ketat pun ditaati. Efisiensi, presisi, dan optimalisasi adalah pilar-pilar Singapura. Persis sebagaimana esensi nasihat si paman driver.
Tak semua kota metropolitan di negara berekonomi maju berada di standar tersebut. Menempel jelas di memori tentang betapa alert-nya pikiran saya ketika pulang naik kereta ke barat Paris sehabis menonton pesta kembang api di Disneyland; betapapun enchanting-nya kota tersebut untuk saya. Pengalamannya jauh berbeda ketika saya berjalan jelang tengah malam dari Elgin Bridge melewati patung Stamford Raffles dan Deng Xiaoping, singgah sejenak di depan Cavenagh Bridge, dan lanjut menju ikon Merlion. Beberapa orang tampak jogging malam, sepasang muda-mudi duduk rekat oleh romansa, saya sendiri berkali-kali menempatkan tripod ponsel agak jauh agar pemandangan kota tertangkap gambar. Hukum negaranya optimal, kenyamanan dan keamanan tercipta.
Dengan segala limitasinya (baik lahan, sumber daya alam, atau hal lain), optimalisasi total dalam menegakkan presisi dan efisiensi menjadikan Singapura sebagaimana adanya kini, dan dengan estetika ruang yang well-planned. Gambaran ini pula yang saya temukan pada tempat inap selama berada di sana: COMO Metropolitan Singapore. Berada di Bideford Road yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat, beberapa sudut hotel dirancang sebagai lahan terbuka atau semi-terbuka dengan tetumbuhan yang menginjeksi sapuan kesegaran dan kesan leluasa. Di lobi lantai 6, hal itu berkombinasi dengan jendela-jendela tinggi yang membolehkan sinar mentari menerangi ruang secara alami dari pagi hingga sore hari, sekaligus menciptakan feel nan grand dan elegan.

Di balik jendela adalah tanaman-tanaman yang turut menjadi pemandangan bagi Lobby Lounge. Pada area ini, ada dua hal yang menjadi sorotan utama. Pertama adalah digital art bertajuk “Floral Dive” karya seniman Norwegia, Thomas Hilland, yang terpampang menjulang berukuran raksasa. Karya video di layar LED ini membangun mood dinamis – and again grand – pada lounge yang terhubung ke Sky Garden. Durasinya 24 jam dengan karakter berbeda untuk day time dan night time. Bintang ke dua adalah Bruno, robot kopi yang bukan hanya fungsional untuk menyajikan minuman kepada tamu, tapi juga memainkan peran dekoratif dalam membawa futuristic feeling. Ketika hendak menuju kamar, area koridor pendek depan elevator dilengkapi dengan sofa yang berlatar kolam kecil di balik jendela. A lovely concept for such a tight space.
Skema natural lighting dari jendela konsisten diterapkan ke kamar hingga Sky Bar di hadapan kolam renang. Satu fitur unik di kolam tersebut ialah sebagian area lantainya yang tembus pandang ke bawah. Pool deck di lantai 19 ini juga disertai jacuzzi. Pada area sunbed, panorama city view terlihat lebih luas – and to me, this space seemed like the ideal place for the infinity pool, more so than its current location. Lanskap rancangan Nikkein Sekkei berkolaborasi dengan Ortus Design pada area outdoor ini memiliki ambience yang berkesinambungan dengan gaya interior karya Koichiro Ikebuchi dari Atelier Ikebuchi dan furnitur Giorgetti. Palet pucat dan earthy tone seperti coklat kayu melingkupi tamu dengan elegansi modern minimalis yang understated namun hangat – as also radiates from the hotel exterior.
Di kamar Emerald King yang saya tempati, napas urban bertemu dengan apsek praktikal. Kamar berdesain wall-to-wall window itu hadir dengan small pantry, microwave, juga kitchen sink untuk aktivitas snacking hingga dining secara lebih terakomodasi. Identitas COMO yang lebih eksplisit ditemukan di area kamar mandi berupa bathroom amenities COMO Shambala. Di pagi yang cerah usai menyegarkan diri di bawah rainfall shower, saya menyeduh complimentary tea Monogram by Gryphon dengan komposisi teh hitam dari India, Sri Lanka, dan Afrika. Pengalaman menikmati label-label Singapura itu bersandingan dengan kreasi perkulineran Eropa. Chocolate Vanilla Flower bentuk mawar merah Cédric Grolet menjadi awal gastronomical yang estetik dan pleasurable di hari itu. Dilengkapi air mineral S.Pellegrino di meja, pagi di COMO Metropolitan Singapore adalah curated experience dengan sensibilitas global.

Pastry Prancis dan Steak Korea
Gerai Cédric Grolet di COMO Orchard merupakan yang pertama di Asia. Sensasinya berbeda kala menikmati pastries dari chef ternama itu secara langsung di kafe lantai dasar properti tersebut. The interior style exudes a stylish metropolitan vibe. Ruang rancangan Paola Navone dari Otto Studio ini meradiasi city feel nan fashionable lewat palet warna abu dan silver. Siluet susunan sofanya membentuk bunga layaknya kreasi sang chef. Rujukan serupa juga diterjemahkan lewat ornamen-ornamen gantung bentuk kelopak kembang dan daun. Sore itu tersaji set afternoon tea edisi Summer dengan isi kue-kue manis berbahan stroberi, aprikot, framboisier, blueberry, dan matcha. Set itu juga mencakup sajian savoury dan pilihan minuman. Sebuah kejutan bahwa ternyata Chef Cédric Grolet tengah singgah di sana dan saya pun sempat berfoto bersama.
Bicara tentang kreasi-kreasinya, hal pertama yang langsung menjadi materi kekaguman tentulah perihal bentuk visual. “French patisserie has a gorgeous appearance. That’s what captured my attention at the beginning,” ungkap Chef Cédric sebagaimana dikutip dari artikel situs Michelin Guide. Meskipun keindahan pandangan mata menjadi salah satu ciri kuat dari karya-karyanya, elemen rasa mendapat perhatian sangat serius dalam filosofi kuliner sang chef. Ia menggarisbawahi satu karakter yang menjadi ingredient utama pada kreasinya. Hal itu dicapai melalui konsiderasi akan eksekusi teknis dan perumusan proporsi antar bahan-bahan. Pengetahuan akan traditional French pastry ia twist dengan improvisasi personal untuk menunjukkan personal style-nya. Lewat ilmu yang ditimba dari nama-nama establishments prestisius seperti Fauchon dan Le Meurice, juga culinary legend Alain Ducasse dan Christophe Adam, Chef Cédric telah memahat namanya pada peta pastry Prancis – and you can savour his pastries in COMO Orchard; all handcrafted on-site.
Momen afternoon bersama kreasi-kreasi Best Pastry Chef versi Les Grandes Tables du Monde 2017 dan The World’s 50 Best Restaurants 2018 tersebut ternyata bukan satu-satunya culinary indulgence di COMO Orchard. Setelah mencicip kue-kue cantik dari brand yang tersebar di Paris, Saint Tropez, London, dan kini Monaco, malam harinya COTE Korean Steakhouse membekaskan impresi luar biasa tentang barbecue gaya Negeri Ginseng. Dinner was the Butcher’s Feast. An exceptional spread! Each element, from the premium beef cuts to the carefully crafted condiments, was flawlessly executed. Dalam temaram private room yang eksklusif rancangan firma Modellus Novus, penyajian hidangan dilakukan oleh para staf ahli yang menjelaskan tiap-tiap menu.

Tiap-tiap jenis potongan daging USDA Prime dan Australian Wagyu Beef yang disajikan memiliki karakter distingtif dengan seasoning yang harmonis. Daging-daging yang melalui proses dry-aging selama minimal 45 hari itu dibumbui dengan COTE’s Signature Gastronome’s Salt yang dikomposisi oleh British Maldon Salt, Celtic Sea Salt, dan Korean Thousand-day Aged Sea Salt. Santapan live-grilled ini ditemani dengan Ban-Chan atau pickled seasonal vegetables, Scallion Salad dilengkapi gochugaru vinaigrette, Savory Egg Soufflé dengan kelp yooksoo, Red Leaf Lettuce with Ssam-jang (the staff showed how to enjoy the greens, the K-way), Spicy Kimchi Stew, Doen-jang Stew, dan seporsi nasi. Padanan wine yang disediakan berasal dari daftar nominasi James Beard Awards.
Ditutup manis oleh dessert vanila saus kedelai karamel, dining experience ini mencerminkan kualitas Michelin sebagaimana diraih oleh resto originalnya di New York yang dibangun oleh Simon Kim. Saat menginap di COMO Metropolitan Singapore, pastikan juga Anda mencoba racikan-racikan dari COMO Cuisine yang menyuguhkan esensi properti-properti COMO di berbagai negara. Di restoran ini pun terdapat menu COMO Shambhala Cuisine yang berfokus pada aspek kesehatan serta sustainability. Untuk sejenak mengisi waktu luang dengan cocktails dan light bites, beranjaklah ke Sky Bar yang di mana chilling moment Anda akan dilingkup suasana skyscrapers Singapura yang vibran. From Western palates to Asian flavours, COMO Orchard brings the world to the culinary table.
Calmness in The City
Sebagai sebuah hospitality brand yang identik dengan program wellness, COMO menghadirkan COMO Shambhala di COMO Orchard. Singapura sendiri merupakan tempat kelahiran dari COMO Shambhala yang debut pada tahun 1997 sebagai studio yoga. Kini lini wellness tersebut sudah berkembang menjadi 17 spa di 19 negara dan 4 benua. Pada trip kali ini, saya mengikuti sebuah guided meditation untuk menyelami inner mind dan melatih fokus.

Bila Anda berkunjung ke sini dan punya kesempatan yang cukup untuk menikmati treatments dan kelas wellness secara lebih ekstensif, COMO Shambhala Singapore punya beragam tawaran program. Layanan facial di sini menggunakan produk PSskincare by Dr Priya Sen, seorang dermatolog di Singapura yang telah melakukan riset khusus pada isu pigmentasi dan anti-ageing. Untuk mendukung mekanisme alami tubuh dalam proses penyembuhan, Anda bisa coba hyperbaric capsules Airpod Hydroxy yang menyuplai oksigen dan hidrogen molekuker. Sesi 60 menit secara reguler menggunakan alat ini disebut mampu memperlancar sirkulasi darah, mengurangi inflamasi, dan memperkuat pembuluh darah. Hal ini akan berdampak pada peningkatan kualitas tidur dan memperbaiki stress management.
Yoga, Gyrotonic, dan Pilates telah sejak lama menjadi bagian esensial dari pengalaman COMO Shambala. Tamu akan mendapat full access ke kelas mingguan yang sudah meliputi sesi meditasi, pranayama, juga HIIT. Fasilitas gym dengan natural light dan pemandangan kota di sini turut dilengkapi dengan ruang red-light therapy untuk pre-post training. Sementara itu, satu hal yang juga menarik untuk Anda coba adalah Two contrast therapy rooms. Heat therapy dilakukan dengan infrared sauna, sedangkan cold therapy dengan ice bath di plunge pool.
Dari yoga asal India ke Pilates kelahiran Jerman yang bersanding dengan kecanggihan teknologi kebugaran modern, layanan wellness di COMO Orchard semakin mengukuhkan karakter lifestyle compound ini yang meradiasi sensibilitas global dalam atmosfer metropolitan.