Cafe Hopping bersama Jakarta Dessert Week

Indulging in limited-edition desserts made just for this culinary program.

 

Sembari menyeruput matcha latte buatan Natsuka, kami sedikit berbincang dengan Talita Setyadi selaku co-founder dari Jakarta Dessert Week yang kebetulan duduk bersebelahan. Dari penuturannya diketahui bahwa Jakarta Dessert Week terinspirasi dari event pekan restoran di berbagai kota besar di seluruh dunia, contohnya New York City, di mana dalam periode tersebut antusiasme masyarakat akan kuliner ditingkatkan melalui berbagai promo dan program. Resto-resto berbintang Michelin bahkan memberi potongan harga selama acara itu berlangsung.

Di Indonesia sendiri, Jakarta Dessert Week telah memasuki tahun ketujuh dengan ragam program di dalamnya. Salah satunya adalah City Takeover yang telah berlangsung hingga 14 September. Lebih dari 50 restoran berpartisipasi dalam program yang tahun ini mengusung tema “A Tribute to Jakarta”. Beberapa waktu lalu, kami mengikuti dessert café hopping ke beberapa partisipan City Takeover, sebuah bagian dari Jakarta Dessert week di mana pesertanya menyajikan sebuah dessert khusus edisi terbatas selama program berlangsung yang mengikuti tema tahunan. Sesi ini dipandu langsung oleh Co-founder Tria Nuragustina.

Di pos pertama, Chicory di Kawasan Menteng yang terkenal begitu eksklusif menyajikan sebuah dessert edisi terbatas terinspirasi oleh jajanan kue rangi. Dengan kombinasi tonka bean dan araguani chocolate (hence the name Tonkoko?), kreasi Chicory menjadi interpretasi kontemporer akan kue rangi dengan rasa kelapa berlapis cream cheese serta nuansa aprikot. Sang Chef-owner Priscilla Wignjopranoto menyebut bahwa ia suka jajan kue rangi saat dulu masih bersekolah.

Kudapan khas Betawi yang aslinya terbuat dari tepung kanji atau tapioka itu juga menjadi sumber inspirasi dari dessert edisi terbatas buatan Knots. Oleh resto milik Union Group di area Kemang tersebut, ilham kue rangi ditranslasi menjadi sebuah kreasi coconut mousse dan kue rangi dacquoise dalam lempeng cokelat tipis yang mengelilinginya. Turut menyertakan base rengginang pada bagian bawah mousse, menu pencuci mulut ini dipadankan dengan es krim kelapa dan saus gula aren. Tak kalah menarik adalah kreasi spesial lain dari Knots untuk Jakarta Dessert Week, yakni olahan bolen nan cantik dengan teknik lace pada pastry-nya. Minuman dari Niko Neko Matcha menjadi teman bagi kudapan tersebut.

Perjalanan dari kafe ke kafe ditempuh dengan bus Royaltrans dari Transjakarta dengan seorang guide menceritakan kisah-kisah menarik tentang sang ibukota. Contohnya adalah cerita tentang sosok Haji Nawi yang namanya kini diabadikan sebagai salah satu nama stasiun MRT. Dikisahkan bahwa ia merupakan seorang tuan tanah kaya raya di wilayah tersebut. Figur yang lahir pada tahun 1877 – semasa Jakarta masih bernama Batavia – dikenal sebagai seorang dermawan nan murah hati. Selepas kisah Haji Nawi yang gemar membantu orang ini usai, rombongan pun tiba di Natsuka dalam area Urban Forest, Cipete. Dessert terakhir yang disajikan ialah Miso No Hiro dengan sapuan rasa miso berpadu cokelat putih juga silky pudding.

Selama periode Jakarta Dessert Week berlangsung, konsumen yang melakukan transaksi akan mendapat sebuah stempel digital. Semakin banyak stamp terkumpul, semakin besar kesempatan untuk memenangkan hadiah undian. Turut menjadi bagian dari ajang yang masuk sebagai salah satu Karisma Event Nusantara tersebut – kurasi event terbaik versi Kementerian Pariwisata Indonesia – ialah Dessert Markt di Central Park Mall. Porgram ini menampilkan 35 emerging dessert brands yang dinilai akan menjadi favorit khalayak. Bentuk dukungan dan apresiasi lain dari Jakarta Dessert Week bagi pelaku industri kuliner hadir dalam rupa Golden Swirl Award yang penganugerahannya berlangsung di Plaza Indonesia beberapa waktu lalu. Penghargaan diberikan dalam 13 kategori, mulai dari Pastry Chef of the Year, Lifetime Achievement Award, hingga kategori baru Modern Indonesian Dessert Shop of the Year.