Belajar dari Kesuksesan “KPop Demon Hunters”

How the biggest Netflix movie of all time became a success.

 

Pada tanggal 27 Agustus 2025, film animasi “KPop Demon Hunters” telah menjadi film dengan jumlah stream terbanyak dalam sejarah Netflix. Tak hanya itu, lagu “Golden” dari soundtrack film tersebut juga telah mencapai posisi No.1 di Billboard Hot 100. Lagu tersebut dibawakan oleh HUNTR/X, sebuah grup fiksi dari film ini dengan suara penyanyi EJAE, Audrey Nuna, dan Rei Ami. “Golden” mencetak rekor sebagai lagu K-pop dari grup vokalis perempuan pertama yang menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100, serta pertama kalinya sebuah grup perempuan berada di puncak tangga lagu tersebut sejak Destiny’s Child dengan “Bootylicious” pada tahun 2001.

Berawal dari sebuah film animasi dengan topik yang cukup niche dan minim marketing, “KPop Demon Hunters” menjadi salah satu film yang paling dibahas tahun ini. Banyak orang yang kagum bagaimana sebuah cerita yang sarat akan budaya Asia menjadi begitu digemari penonton global. How did this movie about K-pop singers who double as demon hunters become such a success story?

“KPop Demon Hunters” menceritakan kisah sebuah grup K-pop bernama HUNTR/X yang terdiri dari Rumi, Mira, dan Zoey. Di balik gaya hidup superstar dan popularitas tinggi mereka, para anggota HUNTR/X juga merupakan demon hunters yang melawan iblis dengan nyanyian dan kemampuan bertarung. Kemunculan Saja Boys, sebuah boy group yang anggotanya sendiri merupakan demons, menjadi tantangan baru bagi HUNTRI/X. Film ini menggabungkan elemen fantasi, musikal, komedi, hingga action dan horor untuk konsep film yang segar.

Dalam proses pengembangan HUNTR/X dan Saja Boys, tim Sony Pictures Entertainment mengambil inspirasi dari berbagai figur Korean wave, seperti Blackpink, Twice, Itzy, BTS, Tomorrow x Together, Stray Kids, Ateez, Monsta X, SHINee, BIGBANG, hingga Cha Eunwoo. Produksi musik dalam “KPop Demon Hunters” juga merupakan fokus besar dalam storytelling film. Tim produksi bekerjasama dengan EJAE, penyanyi sekaligus penulis lagu K-pop seperti Aespa “Drama” dan Red Velvet “Psycho”, serta The Black Label, salah satu agensi K-pop ternama.

The attention to detail in this movie is also one of its charms. Mulai dari kostum, gaya rambut, makeup, hingga nail art para karakter – semuanya dirancang untuk memancarkan pesona unik seorang idol K-pop. Setiap dari anggota HUNTR/X memakai sebuah norigae, sebuah aksesoris tradisional Korea yang disematkan di busana mereka, dengan charms berbeda-beda untuk menunjukkan kepribadian distingtif masing-masing karakter.

Mengapa “KPop Demon Hunters” bisa begitu sukses? It fulfills the audience’s desire for fresh, authentic narratives and concepts. Lagu-lagunya yang catchy membuatnya semakin populer dan digemari oleh para penonton. Market K-pop global yang ada sekarang sudah besar, dan hal tersebut memberikannya launching pad yang cukup kuat. Visualnya yang indah juga merupakan daya tarik bagi para penonton baru.

Film ini mendapatkan tanggapan positif berbagai macam demografi, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga fans K-pop atau anime Jepang. Efek distribusi Netflix yang membuat film ini mudah dijangkau juga membuatnya lebih mudah untuk menjadi viral, dibantu oleh UGC (user-generated content) di mana para kreator menggunakan “KPop Demon Hunters” dalam membuat konten mereka. Industry observers have already projected how the success of “KPop Demon Hunters” will create a shift in how films will be marketed in the future.

But above all else, the movie’s success can be traced back to the messages it delivers. “K-Pop Demon Hunters” beranjak dari keinginan sutradara Maggie Kang untuk sebuah cerita yang merepresentasikan budaya tanah airnya. Tradisi dan mitologi Korea kemudian dipertemukan dengan tren dan budaya populer, membentuk sebuah konsep yang unik dan membuat orang penasaran. Setiap detil world-building yang dipersiapkan dengan saksama juga menunjukkan komitmen tinggi dari kru sang film, dan hasilnya juga turut tersampaikan secara optimal kepada para penonton.

Tak dapat dipungkiri bahwa elemen K-pop dari film ini merupakan selling point tersendiri, dan tim di baliknya menggunakannya sebagai sarana untuk menyampaikan pesan yang ingin mereka sampaikan. “Regardless of the Korean setting, the message of the movie and many of the songs is universal and something everyone can relate to,” ungkap EJAE kepada Time Magazine. “‘K-pop’ was simply the vessel to convey a deeper truth: the importance of loving every part of yourself, both the good and the bad, and finding beauty in your flaws and mistakes. It’s also about reminding people that they’re not alone, and that it’s okay to lean on loved ones for support instead of trying to fix everything on your own.”

Jadi, apakah “resep rahasia” dari kesuksesan “KPop Demon Hunters”? Secara singkat, formula tersebut adalah gabungan dari sincere storytelling, kepiawaian teknikal, keinginan dan selera pasar, popularitas budaya pop, marketing organik, serta bagaimana musik dapat beresonansi dengan audiens umum.

Mungkin suatu hari, sebuah film karya anak bangsa yang kaya akan budaya Indonesia juga dapat mencapai kesuksesan besar seperti film “KPop Demon Hunters”.