Art & Politics during National Revolution

Art and politics. How do they connect?

 

Berbeda dengan Agustus di tahun-tahun lalu, pada bulan ke-8 di 2018 Indonesia bukan hanya merayakan Hari Kemerdekaan tapi juga menjadi tuan rumah Asian Games ke-18. Rangkaian dua momen besar itu bagai menjalin kesinambungan antara semangat kebangsaan dengan persahabatan antar negara.

Ketika kombinasi kedua hal itu bisa ditonton dalam pertandingan cabang-cabang olahraga Asian Games, jukstaposisinya tampil indah dalam pameran koleksi seni Istana Kepresidenan berjudul Indonesia Semangat Dunia bertempat di Galeri Nasional. Di pameran yang berlangsung selama 3-31 Agustus 2018 itu, sebanyak 45 karya cipta 34 seniman Indonesia dan mancanegara meliputi kreasi bertema perjuangan anti penjajah yang disandingkan dengan ekspresi penghargaan atas budaya-budaya asing sekaligus garapan seni luar negri yang dimiliki Indonesia.

Bahwa tema perlawanan terhadap kolonialisme kokoh termanifestasi dalam rupa-rupa karya semasa perjuangan, isu persahabatan dengan dunia internasional dalam pameran tersebut menimbulkan tanda tanya lantaran sangat minimnya karya yang “menyentuh” peradaban Barat. Sejauh manakah komitmen Indonesia di awal kemerdekaannya untuk mengapresiasi panggung dunia melalui seni? Ataukah rona politik luar negeri di awal kemerdekaan sangat pekat dalam mengoridori cara Indonesia menyikapi seni di ranah global?

 

 

Western Influence

Galeri Nasional di pagi perayaan 17 Agustus tidak begitu ramai. Pintu ruang pameran dibuka sekitar pukul sepuluh. Patung “El Arponero” (1958) buatan perupa Argentina Roberto Capurro menyambut pengunjung. Berbentuk laki-laki penombak, karya ini diberikan oleh presiden Argentina Arturo Frondizi kepada Presiden Soekarno saat ia berkunjung ke Argentina pada tahun 1959. Bagi presiden pertama Indonesia itu, patung yang ia kagumi tersebut sesuai dengan semangat perjuangan bangsa. Ini menjadi sebuah cerminan bagaimana Soekarno mengekspresikan keterbukaan Indonesia dengan dunia luar.

Bicara tentang keterbukaan, jauh sebelum Republik Indonesia terbentuk dan Soekarno membawa masuk produk seni asing ke dalam negeri, elemen-elemen artistik mancanegara sudah masuk ke bumi Nusantara dan mendapat tempat dalam kehidupan warganya. Bahkan di masa kolonialisme Belanda abad ke-19 lah, fondasi seni modern Indonesia terbentuk melalui kiprah pelukis Raden Saleh. Memang tak mengherankan jika pribumi keturunan Jawa-Arab ini dapat mengakses pendidikan seni Barat di masa penjajahan. Keluarganya berdarah biru dan memegang posisi penting pemerintah lokal. Bernama lengkap Raden Saleh Sjarif Bustaman, ia mempelajari disiplin lukis Barat dari gurunya A. A. J. Payen yang merupakan pelukis Belgia. Berkat bakatnya, Raden Saleh mendapat kesempatan dari pemerintah Belanda untuk mengunjungi negara-negara Eropa pada tahun 1839. Romantisme Prancis kental terasa pada karya-karya Raden Saleh.

Di pameran Indonesia Semangat Dunia, nuansa itu dapat dilihat dalam lukisan-lukisannya yang berkutat seputar pergulatan manusia dan hewan liar. Salah satunya adalah “Berburu Banteng II” yang dibuat sebagai hadiah untuk Raja Willem III Belanda dan hampir 120 tahun kemudian akhirnya diberikan kembali kepada Indonesia oleh Ratu Juliana. Dalam perkembangannya, kegiatan menggambar ala budaya Eropa ini diisi dengan tema-tema yang merefleksikan kondisi Tanah Air. Sebagaimana pada tahun 1857 Raden Saleh mengangkat momen ditangkapnya Pangeran Diponegoro, seniman-seniman berikutnya mengekspresikan semangat perjuangan kemerdekaan dalam format kesenian impor.

 

 

Contoh nyata di dunia musik adalah sosok Wage Rudolf Soepratman. Sejak usia 11 tahun, ia sudah bersentuhan dengan musik Barat melalui asuhan suami dari kakaknya yang adalah seorang sersan tentara Belanda. Laki-laki bernama Willem van Eldik itu menghadiahkannya sebuah biola dan memberikan pelajaran bermusik. Bersama kakak iparnya, W. R. Soepratman membentuk band jazz Black & White. Ketika ia berprofesi sebagai wartawan Kaoem Moeda dan Kaoem Kita yang mengeksposnya pada berbagai aktivitas pergerakan kemerdekaan, semangat perjuangannya dalam melawan penjajah mulai terpupuk. Dengan bekal kemahiran bermusik ala Barat dan kecintaan pada Tanah Air, laki-laki yang mendapat nama tengah Rudolf kala mengenyam pendidikan di Europese Lagere School itu (namun dikeluarkan dari sekolah karena diketahui bukan keturunan Eropa) menciptakan lagu Indonesia Raya setelah “terprovokasi” oleh artikel majalah Timbul mengenai perlunya lagu kebangsaan ciptaan komponis lokal.

Indonesia Raya dikumandangkan W. R. Soepratman secara solo menggunakan biola pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Pada proklamasi kemerdekaan 1945, stanza pertama karya itu resmi menjadi lagu kebangsaan Indonesia. Pengunjung eksibisi Indonesia Semangat Dunia selain dapat menikmati pemutaran lagu tersebut juga bisa melihat bagaimana sosok W. R. Soepratman yang begitu khas dengan jas dan biolanya tampil dalam lukisan tahun 1951 karya Karyono Js. Lukisan-lukisan potret pahlawan memang menjadi satu jenis garapan para pelukis pasca-kemerdekaan. Beberapa yang dipajang pada pameran Indonesia Semangat Dunia adalah “Dr. Cipto Mangunkusumo” (1946) goresan Soerono Hendronoto, “Husni Thamrin” (1947) buatan Sudarso, “Imam Bonjol” (1951) ciptaan Harijadi Sumadidjaja, dan “Jendral Sudirman” (1954) karya Joes Soepadyo.

Bersama dengan lukisan-lukisan lain di pameran ini yang mengeksplorasi tema perjuangan dan keindonesiaan, seperti “Memanah” (1944) dari Henk Ngantung, “Legong Wiranata” (1946) dari Agus Djaya Suminta, “Pejuang” (1949) dari Trubus Soedarsono, “Menjunjung Topeng Rangda Menuju Pesucian” (1957) dari Hendra Gunawan, “Menjemur Ikan” (1959), “Itji Tarmizi Kesibukan Petani” (1962) dari Kosnan, “Tak Seorang Berniat Pulang Walau Maut Menanti” (1963) dari Rustamadji, dan lainnya, nyata terlihat bahwa seni modern Indonesia merupakan produk hybrid kebudayaan Barat dan materi kultur Nusantara yang termanifestasi dalam rupa-rupa genre.

 

 

Soekarno’s Political Interference

“Tanah air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini!” Seruan Soekarno ini dikutip pada pameran Indonesia Semangat Dunia untuk menerangkan bagaimana Indonesia menekankan pentingnya menempatkan diri sebagai bagian warga dunia. Hasil kurasi Amir Sidharta untuk menyuguhkan substansi tersebut pada pameran ini terwujud di antaranya pada lukisan-lukisan seniman Indonesia yang menampilkan eksplorasi dan apresiasi pada budaya-budaya mancanegara. Contohnya adalah “Perempuan Berbusana Wayang Tiongkok” dan “Gadis Burma dengan Payung” hasil karya Basoeki Abdullah. Anak dari pelukis Abdullah Surio Subroto tersebut juga melukis Ratna Sari Dewi – perempuan Jepang yang sebelum menikah dengan Soekarno bernama Naoko Nemoto – dalam balutan sari India.

Bukan hanya tentang menjadikan budaya-budaya luar negeri sebagai bahan berkreativitas, di pameran tersebut semangat Indonesia dalam berinteraksi dengan dunia juga tampil pada karya-karya seni asing yang masuk ke Indonesia sebagai hadiah dari negara lain maupun yang memang sengaja dipesan. Beberapa yang merupakan pemberian adalah prototipe patung dari Soviet War Memorial buatan Yevgeny Vuchetich yang diberikan oleh Angkatan Bersenjata Uni Soviet kepada Soekarno pada September 1956, dan lukisan “Planting Rice” karya pelukis Fernando Armosolo yang dipersembahkan Presiden Filipina Elpidio Quirino kepada Soerkarno pada hari terakhir kunjungannya ke Istana Malancang di tahun 1951. Sementara salah satu contoh dari karya yang dipesan dengan sengaja adalah patung “Archer” pahatan perupa Hongaria Zsigmond Kisfaludi Stróbl, yakni saat Soekarno mengunjungi studio Stróbl pada awal era 1960-an.

Patung perunggu dengan tinggi 2,25 m pesanan Soekarno tersebut – yang versi originalnya dibuat pada 1919 – kini menghias halaman depan Istana Negara yang menghadap Jalan Veteran, Jakarta. Berbagai karya seni buatan negara lain di koleksi Istana Kepresidenan yang hadir dalam pameran Indonesia Semangat Dunia memang menjadi bukti atas sikap proaktif negeri ini dalam upayanya menjadi warga dunia sejak semula. Akan tetapi, jika diamati lebih lanjut, maka akan timbul pertanyaan mengenai amat minimnya representasi tema kebudayaan blok Barat, yang mencakup Eropa Barat dan Amerika Serikat, pada pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Sekretariat Negara tersebut.

 

 

Satu koleksi karya dalam pameran yang memiliki kaitan langsung dengan Amerika adalah benda-benda kristal yang dibuat oleh perusahaan Amerika Steuben Glass Works. Benda-benda kristal itu merupakan bagian dari proyek kolaborasi bernama Asian Artist in Crystal antara Steuben dengan 16 seniman Asia, termasuk 3 seniman Indonesia. Dalam proyek pada pertengahan era 1950-an itu, gambar berjudul “Bhima and the Snake” karya Basoeki Abdullah, “The Temple Dance” ciptaan Agus Djaya, dan “Balinese Funeral” dari Made Djata dihadirkan pada dua vas dan sebuah piring kristal. Jika Indonesia memang ingin secara optimal membangun relasi internasional, mengapa pameran ini tampak tak punya cukup stok karya seni masa revolusi yang bertema kebudayaan Amerika dan Eropa Barat untuk diperlihatkan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pengamatan tentang orientasi dan sikap politik Soekarno bisa menjadi kerangka berpikir yang berguna. Babak sejarah yang bisa memberi gambaran jelas mengenai hal itu adalah saat sistem politik Indonesia berganti menjadi Demokrasi Terpimpin pada tahun 1957. Di masa inilah, Soekarno memanifestasikan dalam berbagai hal secara intensif nilai-nilai sosialisme yang tertanam dalam pemikirannya dan berinteraksi dengan wawasan keindonesiaannya sejak lama. Rangkuman haluan kehidupan bernegara pada era tersebut dapat terdengar pada pidato Soekarno tahun 1959 yang berjudul Manipol (singkatan dari Manifestasi Politik). Intisari pidato itu lima junjungan dalam bernegara, yakni UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang disingkat menjadi USDEK.

Poin mengenai kepribadian bangsa tersebutlah yang punya banyak dampak terhadap relasi Indonesia dengan kultur blok Barat, misalnya musik Amerika pada zaman itu yang mengusung aliran musik rock and roll. “Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi engkau jang tentunja anti-imprialisme ekonomi, engkau jang menentang imprialisme politik…kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi?” ucap Soekarno secara berapi-api pada pidato berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita yang diampaikan saat 17 Agustus 1959 di Istana Merdeka, Jakarta.

 

 

Menariknya, kala itu relasi persahabatan terjalin antara Soekarno dan Presiden Amerika John F. Kennedy. Meski demikian, Soekarno tetap teguh dan tak ragu untuk mengutarakan pandangan-pandangan kebangsaannya pada suami dari Jackie O tersebut. Dalam obrol-obrol bersama Kennedy di Amerika pada tahun 1961, Soekarno menanyakan soal sikap Negeri Paman Sam yang berubah terhadap Indonesia. Katanya, seperti dikutip dari situs dokumen sejarah Amerika, “Give me something to say to my people. Give me something that will enable me to say that America is our friend. Before 1950 America helped us on our bid for freedom but after 1950 America seemed uncertain in its relations with us, its voice was no longer positive and clear.” Hal tersebut disampaikan kala mereka berbincang tentang keinginan Indonesia untuk mengintegrasi Papua Barat.

Amat disayangkan bahwa dua tahun kemudian, Kennedy ditembak mati dari jarak jauh dan relasi Indonesia dengan Amerika pun drastis merenggang. Seperti ditulis oleh Lisa Pease pada tahun 1996 di artikel JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur, Presiden Lyndon B. Johnson yang menggantikan Kennedy membatalkan paket bantuan ekonomi untuk Indonesia yang disetujui Kennedy (artikel itu juga memaparkan bagaimana pemerintah Amerika saat itu berkontribusi pada penggulingan Soekarno hingga akhirnya pengelolaan Freeport ekstrem menguntungkan Amerika). Resistensi terhadap budaya-budaya blok Barat pun semakin kuat. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berisi seniman-seniman ternama seperti Pramodeya Ananta Toer mendukung pandangan Soekarno yang mengusung anti imperialisme kebudayaan Amerika. Lekra mendapat perlawanan dengan dirilisnya Manifesto Kebudayaan oleh sekumpulan seniman – termasuk Goenawan Mohammad dan H.B. Jassin – yang menyatakan bahwa seni tak boleh dipolitisasi.

Pada Juni 1965, Koes Bersaudara (yang kemudian dikenal sebagai Koes Ploes) diadili karena membawakan lagu “I Saw Her Standing There” milik The Beatles. Sebagai tandingannya, Soekarno menggandeng musisi-musisi lokal untuk mengeksplorasi musik dan tarian Lenso dari Maluku dan mensposori mereka tur ke Eropa. Melihat kondisi tersebut, jelas tak mengherankan jika kemudian karya-karya seni asing yang dibawa Soekarno ke Indonesia adalah karya-karya dari negara-negara teman ideologisnya, sebagaimana tampak pada pameran Indonesia Semangat Dunia. Seperti diketahui, Soekarno punya hubungan baik dengan figur-figur blok Timur, seperti pejuang sosialisme asal Argentina Che Guevara hingga pemimpin komunis China Mao Zedong (meski uniknya, berbeda dari sahabat-sahabat itu, Soekarno melalui konsep Nasaionalisme, Agama, Komunisme atau Nasakom di tahun 1960-an berupaya mensistesiskan prinsip agama dan ketuhanan dengan teori materialisme Marxist yang secara tegas menyatakan bahwa agama justru bisa melemahkan semangat revolusi).

 

 

Akan tetapi, meski memang Soekarno mendorong pelarangan penyebaran budaya blok Barat sebagai wujud konsistensi formula politiknya, akan keliru mengatakan bahwa ia tak (bisa) mengapresiasi keindahan produk budaya Eropa maupun Amerika. Sebagai contoh, pada tahun 1950, Soekarno meminta konduktor dan komposer Belanda Jozef Cleber untuk mengaransemen lagu Indonesia Raya secara simfoni. Ketika Soekarno bertemu Marilyn Monroe di Amerika pada Mei 1956, seperti dituturkan Iwan Satyanegara Kamah di Koran Tempo edisi Minggu 3 Juni 2001, keduanya berbincang akrab selama 45 menit dan Soekarno berucap “Anda seorang yang sangat penting dan sangat terkenal sekali di Indonesia.” Konon pun dikabarkan bahwa ketika mengunjungi Kennedy di Amerika pada tahun 1961, Soekarno sempat mampir ke Hawaii dan bertemu Elvis Presley yang sedang syuting.

Dengan menyaksikan hasil-hasil karya seni di pameran Indonesia Semangat Dunia serta menempatkannya dalam konteks sejarah, kita dapat merefleksikan persoalan tentang sejauh mana kendali negara dengan landasan politiknya bisa dijustifikasi dalam memperlakukan teritori seni dan budaya di dalam negeri maupun di lingkup pergaulan internasional. Ini berkaitan dengan pemaknaan kemerdekaan. Apakah arti merdeka itu sesungguhnya? Ketika kontrol paksa negara lain telah hilang pada suatu bangsa, merdeka kah bila rakyatnya justru dikekang oleh pemerintahnya sendiri? Namun perlu juga untuk bertanya, benarkah kita benar-benar independen bilamana dalam kancah produksi kultur global, kita hanya mampu menjadi konsumen dan pengikut budaya-budaya asing tanpa mampu berkontribusi secara produktif di dalamnya?