Bridging South East Asian art and the world.
Art scene di Jakarta semakin vibran dengan hadirnya galer seni baru, Ara Contemporary. Terletak di daerah Kebayoran Baru, galeri ini didirikan oleh Fiesta Ramadanti, Fredy Chandra, and Megan Arlin dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia seni lokal maupun mancanegara. Nama ‘Ara’ diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti “a place of shelter”.
Galeri ini berfokus pada karya-karya seniman yang melibatkan konteks Asia Tenggara. Ara Contemporary akan menyuguhkan ragam kreasi seni yang menyuarakan gagasan dari para seniman South East Asia. Terdapat dua area eksibisi di gedung galeri ini, yakni Main Gallery dan Focus. Kelahirannya ditujukan untuk menjadi platform dinamis bagi dialog juga kolaborasi yang akan berkontribusi pada perkembangan dunia seni Asia Tenggara.
Mendedikasikan diri untuk memberi highlight kepada emerging artists, art practitioners, writers, curators, serta praktik-praktik seni baru, Ara Contemporary menyuguhkan pameran perdana bertajuk “We Begin with Everything”. Eksibisi seni ini menampilkan karya dari 17 seniman dari berbagai negara Asia Tenggara.
Dari Indonesia, seniman yang terlibat adalah Agan Harahap, Albert Yonathan, Condro Priyoaji, Enggar Rhomadioni, Irfan Hendrian, Ipeh Nur, Iwan Effendi, Mar Kristoff, S. Urubingwaru, dan Wedhar Riyadi. Dari Thailand terdapat nama Alisa Chunchue, Xiuching Tsay, danmNatalie Sasi Organ. Representasi Singapura adalah Carmen Ceniga Prado, Dawn Ng, dan Kelly Jin Mei. Sementara Marcos Kueh mewakili Malaysia.
Pameran “We Begin with Everything” mengambil inspirasi dari buku “The Creative Act: A Way of Being” (2023) karya American record producer Rick Rubin. Eksibisi perdana di Ara Contemporary tersebut merefleksikan ide utama dari perspektif Rubin mengenai kekaryaan; that the act of creating is an endless, ever-present source. Tema ini sekaligus meresonansi babak awal dari Ara Contemporary yang telah memulai perjalanan kreatifnya untuk terus mengangkat seniman-seniman kawasan Asia Tenggara.