Akankah Film LGBTQ+ (kembali) Mewarnai Sundance Film Festival di Asia?

A hope and aspiration for the new spin-off of Sundance in Asia.

 

I would argue it runs through the DNA of Sundance that queer filmmaking is part of the explosion of creativity that has accompanied the life of the festival; and while gay male filmmakers have had significant imprint on queer filmmaking for some time, that is now evening and broadening out. There’s a very rich array of queer filmmaking right now, and particularly we’re seeing new voices around trans filmmaking,” demikian pernyataan Tabitha Jackson untuk situs NBC News pada awal tahun lalu semasa ia masih menjabat sebagai Sundance Film Festival Director (the first woman and also the first person of color to be the festival’s director left the position two years after the appointment).

Would the same tone of boldness be expressed by Jackson if only she got a chance to come on behalf of the institution to the second Sundance Film Festival: Asia held in Jakarta (the new location of its new spin-off in Asia). Pertanyaan tersebut muncul dalam benak ketika tulisan ini sedang ditulis, setelah sebelumnya menghadiri hari pertama acara bergengsi dunia film independen itu di Flix Cinema, Ashta District 8, Jakarta beberapa waktu lalu. Pasalnya, berbeda dengan Hong Kong – tempat spin-off dari festival ini di Asia sejak 2014 hingga 2019 – yang relatif lebih open terkait queer culture (Hong Kong Pride Parade has been legal since 1991) meskipun kesetaraan LGBTQ+ di mata hukunya masih jauh dari ideal, Jakarta dan Indonesia pada umumnya lebih intoleran terhadap hal tersebut (it would be a miracle if a pride parade can be held smoothly in Indonesia’s capital). In general, there are many other countries in Asia with worse condition in terms of LGBTQ+ life.

Tak seperti teritori di mana festival ini lahir – juga area sekitarnya seperti tetangganya Kanada ataupun Eropa – yang sudah begitu semarak merayakan diversity, inclusiveness, human rights, banyak negara Asia yang bergelut dengan kepelikan akan hal-hal tersebut. The contrast among those countries is apparent. Sejak festival Sundance didirikan pada era 80’an hingga masa kini, setidaknya ada sekitar 400-an film partisipan tentang LGBTQ+  yang didata oleh John Cooper, Emeritus Director of Sundance Film Festival, dalam sebuah artikel rilisan tahun lalu. “This June during Pride Month, I am proud  to look back at the legacy of support for queer work from Sundance Institute and the Sundance Film Festival. I am proud of the Institute’s leadership and staff who have made it all possible for decades. Let’s respect the past as we lust for a better, more equitable future,” tulisnya (Anda bisa klik link ini untuk melihat film-film LGBTQ+ di Sundance Film Festival di USA pada tahun ini)

Sementara di Asia kondisinya sangat memprihatinkan. Even a film which only has a tiny element (and just around 1 second) of LGBTQ+ depiction – not become the main theme – such as “Lightyear” (2022) animation is banned in many Asian countries. In Indonesia, it’s just slightly better – or might begin to be more worrying than before. Belum tayangnya film itu di bioskop di Indonesia – and possibly it will stay as it is now: only available through Disney+ app with 21+ label – sangat mungkin dikarenakan keengganan pihak Disney untuk memasukkannya ke Lembaga Sensor Film (baca keterangan LSF di artikel ini). Sikap Disney yang dengan tegas menolak pemotongan adegan percumbuan antara pasangan lesbian di film tersebut telah jelas terjadi terkait upaya censorship di Malaysia sebagaimana diberitakan New York Post.

Berkaca dari apa yang tengah terjadi itu, kekhawatiran pun muncul terkait bagaimana nasib film-film bermuatan LGBTQ+ di Indonesia ke depannya. Akankah sentimen negatif terhadap film-film itu menjadi semakin tajam dan meluas sehingga terjadi penyensoran secara masif, larangan tayang secara nasional, atau bahkan pelarangan produksi? Will there be no more movies here with LGBTQ+ theme or element such as “Lovely Man” (2011)? Masih bisakah nantinya film-film “pelangi” dipromosikan secara terbuka luas dan diputar di bioskop di seluruh Indonesia? Tak akan bisa ditemukan lagikah adegan percumbuan pasangan gay sebagaimana ditampilkan secara berani oleh sutradara Nia Dinata dalam filmnya “Arisan” (2003)? Jika film seberkualitas “Kucumbu Tubuh Indahku” (2019) yang berbasis pada kultur tradisional Nusantara karya Garin Nugroho dilarang tayang di 8 kota, apakah di kemudian hari film-film bernapas atau bermuatan LGBTQ+ akan dijegal di seluruh propinsi?

The “rainbow” theme in Indonesian film realm can be traced back to the 70’s. “Akulah Vivian” (1977) mengangkat kisah nyata Iwan Robbyanto Iskandar, penata rambut kalangan istri pejabat dan guru dari Rudy Hadisuwarno, yang memutuskan untuk operasi transformasi kelamin menjadi perempuan dan status gender barunya diakui pengadilan (dalam prosesnya, sosok yang pernikahannya dihadiri oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin itu dibantu oleh pengacara Adnan Buyung Nasution yang kala itu mendapat hujatan karena menangani kasus tersebut). Pada dekade 80’an bisa disebut “Istana Kecantikan” (1988) sebagai contoh karya perfilman yang mengisahkan problematika kehidupan gay. Reflecting Indonesia’s current situation in regards of LGBTQ+ film compared to the past, it has been becoming regressive day by day.

Considering its new spin-off location in Asia is relatively less tolerable towards LGBTQ+, how Sundance will express its standpoint? A comforting gesture was made by the institution through a statement delivered in the press gathering of Sundance Film Festival: Asia 2022. Ketika The Editors Club bertanya tentang perkembangan industri film di Asia dalam kaitannya dengan masih banyaknya negara-negara di benua ini yang “tak ramah” dengan queer issues, Heidi Zwicker selaku Senior Programmer of Sundance Film Festival, yang kala itu didampingi oleh CEO of Sundance Institute Joana Vicente, menjawab bahwa mengakomodasi underrepresented voices merupakan peran dari Sundance; she said  it is “something that’s really important to us and key term to our work as an art organization. I don’t have a lot to say. I think that’s the role [of Sundance].” Representatif institusi tersebut mendorong filmmaker untuk membawa topik-topik marginal ke Sundance Asia.

Lantas pertanyaannya kemudian, sejauh mana Sundance bisa memainkan perannya itu di tengah realita perfilman negara-negara Asia dengan segala tantangan-tantangannya? How far will it play its role? Absolutely we expect stronger utterances as much as stronger actions done crystal clear for the next Asia editions of this festival in addressing this LGBTQ+ discourse. Ini tentang apakah nantinya akan ditemui film-film dengan elemen atau tema utama LGBTQ+ di Sundance Asia bila nantinya tetap berlokasi di Jakarta; and if the screening of those films with queer theme and element in Sundance Asia were challenged by the local authority or society, how vigorous the institution would fight for it. Pada masa diselenggarakannya spin-off Sundance di Hong Kong, dapat ditemukan film-film bertema atau bermuatan queer seperti “The Case Against 8” (2014), “Equity” (2016), “The Miseducation of Cameron Post” (2018). Could we find such kind of films screened in the next Sundance Asia if still taking place in Jakarta?

Tentu saja sikap gigih Sundance dalam mempertahankan nilai-nilai yang dianut tak serta merta akan berbuah manis dalam waktu singkat, namun yang terpenting adalah integritas prinsip. There is no way that a single entity – be it Sundance or any other – could transform over night the norms or mindset originated and cultivated since centuries ago across Asia. However this is about how Sundance proudly express its values in any part of the world; about how independent the festival of indie films could stand for its principles; about its integrity. Perlu keterlibatan banyak pihak dalam membangun iklim “dewasa” guna dapat memberikan dan menjamin ruang bagi eksitensi karya-karya film berkomponen atau yang mengolah tema LGBTQ+. Sundance sebagai salah satu entitas penting dunia film diharapkan dapat berkontribusi optimal. This is the thing that Sundance Asia needs to prove.

Film merupakan produk olah artistik yang sekaligus bisa menjadi instrumen dalam membantu progress kemanusiaan. Without a doubt, we believe Sundance realizes how censorship and banning towards movies with queer themes and elements could have a broader negative impact besides the limitation of director’s creative expression or actor’s character exploration and acting skill enhancement; that the danger is related with the humanity itself. Selain membatasi ekspresi kreativitas sutradara maupun eksplorasi karakter dan asah keahlian berlakon para aktor, penyensoran atau penjegalan film berelemen atau bertema LGBTQ+ berarti menutup tumbuhnya stimulus berpikir serta ruang percakapan pemikiran tentang esensi manusia, penghargaan pada perbedaan, mengasihi sesama, juga kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Meskipun jelas terlihat tantangan yang bisa mewarnai upaya Sundance Asia dalam menyatakan integritasnya perihal diversity dan inclusiveness terkait LGBTQ+, cercah harapan perlu pula disadari. There is some light of hope amidst the gloomy sky. Di Indonesia sendiri, institusi pengapresiasi film seperti Festival Film Indonesia bahkan tak ragu untuk menganugrahkan penghargaan kategori “Film Terbaik” pada hasil-hasil karya bernapas LGBTQ+ seperti yang diterima film “Arisan” dan “Kucumbu Tubuh Indahku” meski kontroversi menerpa. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” bahkan memenangkan kategori “Best Original Screenplay” di Asia-Pacific Film Festival.

Understanding the “uniqueness” of LGBTQ+ realm in different Asian countries could benefits Sundance to formulate strategies in order to grow in the continent without losing its values and principles. Taiwan yang melegalkan same-sex marriages pada tahun 2019 pasti akan menjadi ladang sangat potensial bagi Sundance Asia dalam hal queer movies. Beberapa negara lain juga punya potensi serupa. Jepang yang sistem legalnya masih jauh dari memadai bagi golongan queer, namun masyarakat luasnya punya inklusivitas cukup tinggi dan semakin meningkat akan soal ekspresi gender dan orientasi seksual. Di Asia Tenggara ada Thailand yang telah lama dikenal queer friendly secara turisme dan kini subur dengan drama serial bergenre boys love serta dalam aspek kenegaraan tengah memproses marriage equality bill bagi golongan LGBTQ+.

So how long will it take until LGBTQ+ themed films can be seen (again) in the next lineup of Sundance Festival Film in Asia? Sembari menunggu “jawaban” dari pertanyaan tersebut, apresiasi patut diberikan bagi suksesnya penyelenggaraan event kedua Sundance Film Festival: Asia yang telah berlangsung pada 25-28 Agustus 2022. Pada ajang yang bertujuan mendukung perfilman Asia itu diputar 7 film terpilih dari berbagai negara, termasuk dari Filipina, Myanmar, dan Vietnam. Sementara, kompetisi film pendek di event ini dimenangkan oleh “Evacuation of Mama Emola” karya Anggun Priambodo. Ada pula sesi public talks dengan narasumber-narasumber industri film serta sesi meet and greet dengan beberapa sutradara film yang diputar pada acara tersebut. Hope Sundance Asia will always give support for the growth of high quality filmmaking and promote value of diversity, inclusiveness, and equality in the creative realm here.

 

 

*) The header picture is from “Sirens” (2022), one of LGBTQ+ films in Sundance Film Festival in USA.