A Look in The Mirror: The Reflection of #InstaBeauty

Does social media worsen our problematic relationship with beauty ideals? Or is it indeed about us as has always been?

 

Tak mengejutkan melihat nama Kylie Jenner masuk dalam daftar “25 Most Influential People on the Internet 2018” versi majalah Time yang dirilis pada akhir Juni lalu. Pelaku bursa saham menjadi saksi bagaimana satu tweet Kylie mengenai dirinya yang tak lagi menggunakan Snapchat mampu menurunkan market value induk usaha aplikasi tersebut hingga lebih dari 1,3 milyar dollar pada awal tahun ini. Pengaruh kuat anggota muda klan Kardashian-Jenner itu pun terlihat nyata pada ranah kecantikan. Brand Kylie Cosmetics yang penjualannya mencapai 420 juta dollar pada 18 bulan pertama sejak perusahaan didirikan (dikutip dari situs Women’s Wear Daily) adalah satu wujud “kendali” Kylie atas percakapan tentang beauty ideal di masa kini yang terepresentasi oleh viralnya transformasi bentuk bibirnya beberapa tahun lalu.

Tentu saja kekasih Travis Scott tersebut bukan figur industri hiburan pertama yang memicu perdebatan tentang modifikasi tubuh dan kecantikan. Akan tetapi Kylie adalah bagian generasi terkini yang turut memicu pro-kontra perihal dimensi baru dari pembahasan kecantikan di era teknologi komunikasi mutakhir yang melibatkan media sosial. Tidakkah euforia selfie warganet yang menampilkan warna-warni super-bold pada wajah khas kecantikan Kylie menunjukkan satu problem mengenai minimnya penghargaan akan kondisi diri sebagaimana adanya? Haruskah pemahaman akan kecantikan maupun rasa percaya diri digantungkan pada prosedur kosmetik dan konformitas virtual?

Beauty Spreads
Berbeda dengan masa kini, di mana aspirasi kecantikan tertentu – misalnya yang berkiblat pada Kylie Jenner – diikuti oleh individu-individu lintas bangsa, pada masa lampau (terutama dalam budaya-budaya tradisional yang sebagiannya bertahan sampai saat ini) sebuah beauty ideal menjadi elemen identitas satu kultur masyarakat di suatu wilayah. Perempuan suku Kayan di Myanmar dikenal dengan idealisasi kecantikan yang mewujud pada penggunaan tumpukan kalung sehingga leher menjadi ekstra panjang. Di Etiopia, perempuan suku Mursi dikenal dengan konsep kecantikannya yang termanifestasi dalam penggunaan lip plate pada bibir bawah. Ciri masyarakat Eropa pada masa Renaissance adalah pandangan mengenai kecantikan perempuan dengan kriteria tubuh yang full-figured.

Dalam perkembangannya, ide mengenai perfect beauty mengalami perubahan seiring dengan terjadinya berbagai fenomena sosio-kultural. Memasuki era Victorian, pinggang yang kecil menjadi ukuran kecantikan perempuan dan pemakaian korset pun menjadi sebuah beauty rule. Melalui perkembangan teknologi transportasi, yang memungkinkan aktivitas perdagangan antar negara menjadi lebih mudah dilakukan – yang juga memfasilitasi kolonialisme-, transfer beauty standard peradaban Barat pun menyebar ke berbagai negara. Tiongkok pada tahun 1920-an adalah tempat di mana perempuan mengenakan cheongsam dengan gaya rambut finger wave yang populer di kalangan selebriti Hollywood saat itu.

Realita Hollywood yang menjadi rujukan kecantikan global pun semakin menguat dengan lahirnya bintang-bintang legendaris seperti Marilyn Monroe – yang memancarkan vulgaritas dalam gambaran kecantikan – di dekade 1950-an. Dari dunia mode, Twiggy dengan badannya yang kurus mendominasi percakapan kecantikan 1960-an. Dari waktu ke waktu, transformasi ekspresi kecantikan yang diproduksi oleh kekuatan industri entertainment, fashion, dan beauty di belahan Bumi Barat terus didistribusikan secara global melalui media visual, baik cetak seperti majalah maupun elektronik seperti televisi.

Pretty, Pain, Pressure
Sejak dahulu hingga kini, ragam beauty ideal dan cara pencapaiannya kerap mengandung problematika dalam berbagai sisi. Salah satu yang menjadi aspek konsiderasi serius adalah kesehatan. Bersyukur pada saat ini banyak pihak bersuara lantang mengenai masalah anoreksia dan bulimia yang didorong oleh stereotipe cantik industri mode dan mengakibatkan fashion model maupun fashion enthusiast lainnya menjemput ajal. Italia, Prancis, dan beberapa negara lain telah mensahkan larangan hukum terkait model super kurus. Perempuan-perempuan era Victorian tak hidup dalam kondisi yang sesupportif sekarang dan mengalami nasib buruk karena tren kecantikan yang mematikan justru mendapat validasi dari praktisi klinis. Untuk mendapat kulit yang memancarkan pale complexion, perempuan Victorian mengaplikasikan bedak populer bernama Dr. Rose’s Arsenic Complexion Wafers yang diklaim sangat aman. Faktanya penggunaan arsenik dalam jumlah kecil pada tubuh dalam jangka waktu panjang bisa mengakibatkan kerusakan ginjal dan sistem saraf.

Selain kacamata kesehatan, perspektif kultural pun menyorot soal ornamentasi dan modifikasi bentuk tubuh perempuan atas nama kecantikan. Seperti dikutip dari situs majalah online Atlas Obscura, mengecam tren enameling – pengecatan tubuh menggunakan enamel untuk tampil berkulit pucat dengan risiko kerusakan kulit – aktris dan beauty writer masa Victorian bernama Lola Montez menulis dalam buku The Arts of Beauty, “If Satan has ever had any direct agency in inducing woman to spoil or deform her own beauty, it must have been in tempting her to use paints and enameling.” Pada era yang lebih modern, kritik bernada keras terhadap modifikasi tubuh untuk menjadi cantik ditujukan pada rupa-rupa bedah kosmetik, mulai dari Blepharoplasty (operasi kelopak mata), breast implant, rhinoplasty (operasi bentuk hidung), filler injection, dan sebagainya.  Pertanyaan yang mendasari kecaman atas praktik-praktik tersebut adalah tidakkah idealisasi kecantikan dan segala cara pencapaiannya mengikis kepercayaan diri perempuan untuk tampil tanpa itu semua?

Kembali ke sosok Kylie Jenner, kritisisme itulah yang ditujukan kepada kecantikan yang ia tampilkan. Kylie (juga saudari-saudarinya) melakukan cosmetic surgery dan kerap tampil dengan makeup berat seperti topeng. Selain terkait kepercayaan diri, banyak mata juga mengkritisi hegemoni industri entertainment, fashion, dan beauty yang mempromosikan ide kecantikan tertentu yang tak inklusif pada keberagaman. Media massa seperti televisi atau majalah yang hanya bersifat searah pun (penonoton atau pembaca hanya mengkonsumsi apa yang tersaji) menjadi target evaluasi. Sebelum familiarnya teknologi internet, masyarakat dinilai tak punya sarana untuk menyuarakan ragam aspirasi kecantikan secara luas. Namun nyatanya ketika platform media sosial tercipta yang memungkinkan siapapun untuk bersuara dan mengekspresikan segala perbedaan, dominasi satu konsep kecantikan – terutama yang diproduksi Hollywood – tetap terjadi. Ratusan juta pengguna Instagram tampaknya memang merupakan followers dalam makna harafiah, tak terkecuali para beauty influencers yang jelas ter-influenced oleh kriteria kecantikan masa kini.

Menariknya, antara aksi selfie media sosial dan tindak operasi plastik pun terjalin sebuah relasi. Dulu seseorang mungkin akan datang ke ahli bedah kecantikan dengan membawa foto selebriti tertentu, tapi kini yang dibawa adalah fotonya sendiri yang sudah difilter di sosial media sebagaimana diungkap board-certified plastic surgeon di New York City, Dr. Daniel Maman, kepada Teen Vogue. “Even if they do not show a filtered selfie, patients will often pull images of themselves on social media and say they like how they looked there, at a certain angle, etc.,” ucapnya. Berupaya agar selalu camera-ready kini bukan lagi perilaku khas selebriti melainkan sikap lazim warga media sosial. Lebih dari itu, pengidolaan sebuah konsep kecantikan secara massal yang diekspresikan melalui fasilitas photo sharing di media sosial menciptakan sebuah iklim kompetisi penuh tekanan. Pressure untuk menjadi cantik yang dulu dominan bersumber dari image figur selebriti di televisi atau majalah (yang juga terbukti mengalami proses digital editing) kini termutiplikasi melalui foto-foto siapapun di media sosial.

 

“Berupaya agar selalu camera-ready kini bukan lagi perilaku khas selebriti melainkan sikap lazim warga media sosial. Lebih dari itu, pengidolaan sebuah konsep kecantikan secara massal yang diekspresikan melalui fasilitas photo sharing di media sosial menciptakan sebuah iklim kompetisi penuh tekanan.”

 

 

Face Makeup & Mind Makeover
Baik itu filter foto di media sosial, teknik makeup seperti contouring atau shading, hingga prosedur bedah kosmetik, semuanya merupakan metode modifikasi dan ornamentasi tampilan diri untuk mencapai sebuah beauty ideal tertentu. Secara esensial, semua hal itu tidak berbeda dengan kegiatan kecantikan lain yang melibatkan proses alterasi anggota tubuh, seperti gunting rambut atau mengaplikasikan nail polish. Artinya sebagaimana seseorang mengubah warna rambutnya belum tentu karena mengalami masalah kepercayaan diri, individu yang mengunggah foto berfilter Instagram atau mengaplikasikan makeup “kekinian” ala Kylie atau bahkan menempuh jalur operasi untuk memancungkan hidung pun tak bisa serta merta di-judge memiliki rasa rendah diri. Yang pasti, semuanya merupakan upaya mewujudnyatakan aesthetic judgment yang dihasilkan melalui kemampuan otak manusia.

Pertanyaan yang kemudian muncul mengenai terciptanya putusan estetik itu adalah apa yang menyebabkan masyarakat memiliki kriteria dan penilaian tertentu akan kecantikan (atau disebut juga beauty ideal atau beauty standard). Ada macam-macam tawaran teori untuk menjawab pertanyaan itu. Kaum Marxist memandang fenomena tren kecantikan sebagai satu bentuk kontrol kapitalisme untuk meraup profit. Pejuang feminisme melihatnya dalam kerangka dominasi perspektif patriarki dalam mendefinisikan perempuan. Para multikulturalis menyatakan bahwa konsep kecantikan tunggal merupakan bentuk penjajahan yang mematikan keragaman budaya. Masing-masing argumen dalam melihat perkembangan konsep kecantikan perlu terus dielaborasi untuk mendapat pemahaman yang lebih dalam. Namun yang juga tak kalah penting adalah mengevaluasi bagaimana sebuah konsep kecantikan mempengaruhi cara seseorang menghargai dirinya sendiri dan bereksistensi secara percaya diri.

 

“Kaum Marxist memandang fenomena tren kecantikan sebagai satu bentuk kontrol kapitalisme untuk meraup profit. Pejuang feminisme melihatnya dalam kerangka dominasi perspektif patriarki dalam mendefinisikan perempuan. Para multikulturalis menyatakan bahwa konsep kecantikan tunggal merupakan bentuk penjajahan yang mematikan keragaman budaya.”

 

Mendapat pujian cantik memang bisa menambah kepercayaan diri. Namun apakah kepercayaan diri harus digantungkan pada kecantikan fisik? Dua hal bisa dipermasalahkan mengenai hal ini. Pertama terkait “kendala teknis”, yakni bahwa selalu ada kemungkinan seseorang dinilai tidak cantik. Meski tiap masa punya general concept mengenai kecantikan, putusan mengenai cantik atau tidaknya seseorang bersifat relatif terhadap mata pengamat yang bisa memiliki standar berbeda. Bahkan Kylie Jenner yang dilihat banyak orang sebagai beauty icon akan disebut menyeramkan dari sudut pandang orang yang mengidealkan French beauty, di mana prinsip less is more diterapkan pada riasan wajah, tata rambut, serta gaya busana. Selain itu, konsep kecantikan pun berubah sepanjang masa. Dalam beberapa tahun ke depan (atau bahkan hitungan bulan), Kylie Jenner dan para imitator-nya sangat mungkin tersisih dari cakupan definisi kata ‘cantik’. In the end, fisik seseorang juga mengalami perubahan baik karena proses alamiah maupun faktor lainnya. Ketika perubahan fisik seseorang membuatnya tak lagi disebut cantik, haruskah ia kehilangan rasa percaya dirinya?

Jelas bahwa kecantikan fisik bukan materi percaya diri yang bisa diandalkan di tengah perubahan-perubahan yang terus terjadi. Lagipula bukankah masih ada banyak unsur lain dalam hidup manusia yang punya value lebih untuk menjadi dasar penghargaan diri? Keinginan dan upaya untuk tampil cantik bukan hal yang salah. Hal tersebut merupakan wujud apresiasi estetis. Akan tetapi tentu keliru jika self-worth atau self-value seseorang dilandaskan pada tampilan fisiknya. Cara berpikir dan bersikap, pengetahuan dan moralitas adalah beberapa contoh aspek sangat berharga dalam kehidupan manusia yang patut menjadi tolak ukur dari nilai diri seseorang. Beruntung di tengah riuh rendah glorifikasi konsep kecantikan yang bisa sangat membebani mental hadir aksi-aksi yang mendorong perempuan untuk bisa “nyaman” dengan eksistensi dirinya tanpa bergantung pada prosedur-prosedur kosmetik. Pada Grammy 2018, untuk kesekian kalinya Alicia Keys tampil makeup free sebagai bagian dari empowerment campaign yang dilakukannya sejak 2016. Plus-sized model Ashley Graham merupakan salah satu pegiat anti-body shaming yang terus mempromosikan wawasan kecantikannya di fashion runway dan advertisement (yang terbaru dengan Rag & Bone). Berkulit hitam plus komplikasi vitiligo, Winnie Harlow bicara diversitas.

Mengingat kembali fungsi media sosial yang memungkinkan tiap orang untuk menyampaikan pendapat, platform online perlu dimaksimalkan untuk mewadahi berbagai perjuangan merayakan kecantikan yang beragam serta kampanye untuk bisa percaya diri dan menghargai diri tanpa ketergantungan pada konsep kecantikan tertentu. Figur publik dan pihak-pihak lain yang punya power untuk mempengaruhi opini publik perlu memainkan perannya secara bijak di alam virtual itu. Di sinilah pendidikan berperan signifikan untuk membuat para warga media sosial tak sekadar menjadi “follower melainkan berkemampuan mengkritisi segala unggahan dan dapat menyuarakan komentar yang bersifat konstruktif bagi pemahaman kemanusiaan secara mendalam. While it might be fun to put makeup on our face, it is truly important to ‘makeover’ our views!