Dengan followers yang hampir mencapai seratus ribu, Shudu Gram menghebohkan dunia Instagram.
Shudu mempunyai struktur tulang yang kuat, mata yang tajam, dan warna kulit eksotis. Meski kemunculannya baru sebentar, fitur uniknya sudah mampu mengangkatnya menjadi ‘It Girl’ dalam dunia fashion. Namun dengan segala kelebihannya, Anda belum bisa melihat Shudu berjalan di atas runway dalam waktu dekat. Ini karena sang model merupakan karakter fiksi yang dikembangkan melalui teknologi computer-generated image (CGI). Seorang fotografer Inggris, Cameron-James Wilson, yang telah menghabiskan beberapa tahun dalam hidupnya bekerja di industri fashion terinspirasi untuk menciptakan Shudu, lalu mempublikasikannya melalui platform Instagram di bulan April 2017.
Tahun ini, fashion, teknologi, dan augmented reality telah bekerjasama secara terus menerus dalam menghasilkan karya. Beberapa waktu lalu, Dolce & Gabbana menggunakan drones dalam runway-nya untuk menampilkan koleksi handbag mereka, dan juga seorang virtual influencer, Lil Miquela, muncul dalam GIF set Prada di Milan. Pada era ini, kemunculan sosok digital seperti Shudu bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Tapi bagaimanapun ini tetap tidak biasa.
Shudu telah menarik perhatian media dan banyak brand ketika sebuah fotonya menggunakan salah satu shade lipstick dari Fenty Beauty milik Rihanna di-post pada akun Fenty Beauty. Ia merupakan digital model pertama di dunia, dirancang berdasarkan imajinasi Cameron-James.

Sang fotografer menjelaskan bahwa dia selalu senang menggambar perempuan dan bahwa Shudu awalnya hanya merupakan proyek kreatifnya tanpa bertujuan apapun. Cameron menaruh seluruh passion-nya pada sosok Shudu. Ia menciptakan setiap detil pada sosok model digital ini dengan tingkat perincian yang sangat tinggi. Perkiraan Cameron, sebuah gambar dapat memakan waktu pengerjaan selama tiga hari – belum termasuk berminggu-minggu pembuatan konsep dan perencanaan.
Dalam menciptakan Shudu, Cameron mengaku terinspirasi dari beberapa persona dunia nyata. Nama-nama seperti Lupita Nyong’o, Duckie Thot, Nykhor Paul, dan bahkan Alek Wek memegang banyak andil dalam menginfluens cara Cameron memandang kecantikan ketika ia tumbuh dewasa.
“Intinya, saya hanya melakukan hal yang saya cintai,” ungkapnya. “Saya suka teknologi, film sci-fi, gaming, film-film CGI seperti Final Fantasy, dan Shudu merupakan campuran dari semua hal yang saya sukai itu. Shudu merepresentasikan bagian-bagian terbaik yang menginspirasi saya.”
Melepaskan sesuatu ke dalam perairan media sosial pasti memancing segelintir pendapat, termasuk kritik. Jadi, tak heran jika Cameron dihampiri isu yang kini terus terangkat dalam kultur Barat: rasisme. Menurut beberapa orang, inovasinya merupakan gerakan yang rasis terhadap model berkulit hitam. Mereka merasa pengembangan sosok perempuan digital berkulit hitam akan mengambil lahan pekerjaan bagi para model sungguhan dan merampas profit mereka.
“Komentar yang paling kritis mengenai apa yang saya lakukan biasanya datang dari perempuan-perempuan berkulit putih, yang sebenarnya tak disangka. Saya menerima pesan dari banyak perempuan berkulit hitam yang mengatakan bahwa mereka sangat senang dengan seni yang saya buat,” ujar Cameron. “Inilah mengapa saya senang melakukan wawancara [bersama media]; untuk menunujukkan apa yang terjadi di balik layar. Saya melakukan ini bukan untuk mengambil hak orang lain, melainkan untuk berkontribusi dalam menyuarakan standard kecantikan yang telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih inklusif.”
Kepopuleran atau kesuksesan semua orang – tak hanya dalam dunia maya – memang selalu mengundang tudingan-tudingan miring dari masyarakat. Hal ini tidak terhindarkan. After all, kita semua selalu punya pandangan berbeda dalam setiap hal. Tapi bukan berarti seseorang harus berhenti berkarya demi menghindarinya.