What We Learned from Virgil Abloh’s First Show for Louis Vuitton

Di tengah maraknya pujian dan kritisi terhadap Virgil Abloh, sebuah pandangan baru muncul selepas ia memperlihatkan koleksi Louis Vuitton Men’s pertamanya pada show Spring/Summer 2019 Jumat lalu.

 

Runway panjang di halaman Jardin du Palais-Royal hari itu dipenuhi jurnalis, selebriti, musisi, designers, dan sejumlah tamu undangan lainnya yang antusias menyambut koleksi pertama Virgil Abloh untuk lini laki-laki Louis Vuitton.

Abloh turut mengundang sekitar 1.000 mahasiswa sekolah desain sebagai simbol apresiasinya terhadap individu-individu muda yang punya mimpi dalam industri fashion. Para mahasiswa ini dibekali kaos yang selaras dengan warna runway yang mereka duduki, menimbulkan pemandangan eksentris dari tepi runway.

Like some kids today, I started the surreal mission without ‘fashion school’ but a blank T-shirt, a screen printed idea for it and a dream. As a nod to that on every seat is a graphic T-shirt I made the early days @louisvuitton once I learned how to use the photocopier in the office,” tulis Abloh di laman Instagram-nya.

 

The Show

Sebanyak 56 looks ditampilkan di atas panggung bergradasi warna pelangi yang tergeletak di bawah terik matahari Paris. Satu per satu model keluar menampilkan hasil rancangan Virgil. Terlihat seniman Lucien Smith, musisi Dev Hynes, Kid Cudi, Octavian, dan Steve Lacy mengambil bagian dalam catwalk. Telah menarik perhatian kami rentetan model kulit hitam dan aksen rantai yang mendominasi runway tersebut.

 

 

Warna dominan putih, cokelat, dan abu-abu, kemudian ditabrak dengan varian warna-warni kaleidoscope yang kontras menyilaukan mata. Potongan yang ditampilkan dalam koleksi ini kebanyakan baggy dan loose, sesuai karakter sang perancang. Ada juga sepatu putih formal dengan tali neon. Keseluruhan koleksinya bercerita tentang warna sebagai metafora, kekuatan dari kanvas kosong.

Mengambil  rujukan dari konsep prisma dan bagaimana ia memantulkan serta mentransformasi warna-warna dasar, Abloh memperkenalkan karakter yang benar-benar baru pada lini menswear Louis Vuitton. Finishing sederhana bertemu dengan review positif dan debat mengenai kebutuhan desain rumit dalam dunia high fashion. Yup, Abloh memang sedang menjadi desainer yang sangat diperhatikan sehingga kerap dihantui pendapat pro dan kontra yang sangat kontras.

Selain itu, grup jazz kontemporer, Badbadnotgood, hadir mengiringi runway dengan membawakan lagu dari album terbaru Kanye West, “Ye”. Tentu saja alunan musik ini dipilih berdasarkan fakta bahwa Kanye West merupakan sosok signifikan dalam perkembangan Virgil, mengingat ia mengawali kariernya dalam industri ini sebagai creative director sang rapper di awal tahun 2000-an. Momen emosional datang di akhir show ketika Abloh memeluk Kanye dan keduanya terisak, menitihkan air mata. What a journey it has been.

 

 

The A-Z of Virgil

Essential to my show concept is a global view on diversity linked to the travel DNA of the brand. The studio creates these show notes. We created this world diagram on the seats that shows models birthplace, and the birthplace of their parents. Issue #1 also located on each seat. My dictionary of terms included as well,” ujar Abloh di Instagram.

Termasuk dalam “notes” yang ia sebut adalah sebuah peta dunia sebagai indikasi dari negara mana setiap model berasal dan di mana tempat kelahiran kedua orangtuanya, di mana Abloh menyuarakan pesan tentang “pandangan global mengenai diversity yang berhubungan dengan DNA travel brand ini”. Ia merupakan orang kulit hitam pertama yang mengepalai rumah mode besar Eropa, ini memperlihatkan bagaimana pintu-pintu di industri fashion saat ini perlahan sudah mulai terbuka.

Dalam lembaran-lembaran yang ia bagikan kepada para tamu, Abloh turut memberikan sebuah catatan berisi “The Vocabulary According to Virgil Abloh”, yang menceritakan kisahnya, inspirasinya, dan beberapa istilah teknis bagi hasil karyanya. Lembaran “A to Z” ini berbicara tentang definisi dari seluruh detail. Abloh bahkan menekankan bagaimana ia memandang dirinya sebagai seorang “Designer”; “I don’t call myself a designer, nor do I call myself an image-maker. I don’t reject the label of either. I am not trying to put myself on a pedestal, nor am I trying to be more, now. I would like to define the title of Artistic Director for a new and different era.” – Virgil Abloh

 “I don’t call myself a designer, nor do I call myself an image-maker. I don’t reject the label of either. I am not trying to put myself on a pedestal, nor am I trying to be more, now. I would like to define the title of Artistic Director for a new and different era.”

– Virgil Abloh

 

The New Era

So, what did Virgil do? Sebuah pertanyaan yang mengundang argumentasi karena sebagian menilai bahwa Virgil tidak membawa hal baru dalam sejarah industri fashion melalui gagasan kreatifnya, dan apa yang ia tampilkan hari itu tidak mematahkan ekspektasi banyak orang terhadap hasil rancangannya. Tahan dulu pemikiran tersebut.

Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, ini merupakan pertama kalinya Louis Vuitton – atau rumah mode besar Prancis – mengangkat orang kulit hitam sebagai creative director, apa lagi dengan background di bidang urban streetwear. Selain itu, perancang berusia 37 tahun ini tidak memiliki kualifikasi formal dalam bidang fashion. Abloh merupakan lulusan departemen teknik dan arsitektur yang memiliki karier melejit sebagai seorang DJ dan produser dalam dua dekade belakangan. Hal ini menuliskan cerita baru dalam sejarah.  Tidak heran jika khalayak mengharapkan sesuatu yang groundbreaking terjadi pada show kemarin. Tetapi bukan berarti hal itu tidak tampak.

 

 

Koleksi Louis Vuitton tentu saja terlihat jauh lebih konseptual jika dibandingkan dengan label milik Abloh sendiri, Off-White, yang mengusung tema streetwear kental. Memang sepintas ada beberapa hal janggal dari show kali ini, namun itu semua tertutup berkat kejeniusan di balik apa yang dipresentasikan sang desainer. Setiap detil diperhatikan dengan sempurna sehingga tak ada hal kecil yang terlewatkan.

Apakah model kulit hitam dan rantai-rantai yang mengikat aksesoris dan tampilan dalam koleksi kali ini merupakan simbol dari kebebasan slavery, dalam konteks “conservative fashion”, yang ingin disampaikan Virgil? Mungkin memanglah ini saatnya sebuah era baru dalam fashion – terutama Louis Vuitton – dikumandangkan, dan Virgil Abloh seolah mengukir gebrakannya, “Welcome to the new era!” dengan CAPITALS LOCKED, bold, dan underline.

Kami yakin Virgil masih memegang banyak kartu yang belum ia buka dan ia siap mengungkap lebih banyak lagi kejutan bermakna di masa depan. We are here for it.

 

 

If you missed the show, you can watch it here.