Venice Biennale 2022: Mimpi, Kejutan, dan Ketangguhan

Our favorite artworks in the event.

Teks: Salsabila Ramadhani

 

Setelah tertunda beberapa tahun karena pandemi, ajang global paling terkemuka di dunia seni akhirnya kembali. Venice Biennale hadir dalam edisi ke-59 dan digelar mulai tanggal 23 April 2022 lalu dan berlangsung hingga 27 November 2022. Mengusung tema “A Milk of Dreams” yang dikuratori oleh Cecilia Alemani, gelaran ini mengambil tema optimistik terkait mimpi, resilience, kejutan, dan perempuan. Tema ini menaungi pameran kary-karya dari lebih 200 seniman yang berasal dari seluruh penjuru dunia dan didominasi oleh karya-karya seniman perempuan.

Venice as a city is deeply mesmerizing; and Venice Biennale is making this beautiful city far more special and interesting. As expected, kota Venezia dibanjiri oleh para penikmat seni dari seluruh dunia yang ingin menikmati secara langsung exhibition akbar skala internasional yang diperkirakan akan menarik lebih dari 500.000 pengunjung dari seluruh dunia. Semarak dan semangat biennale memenuhi seluruh kota – terlihat dari poster, baliho, and materi publikasi Venice Biennale 2022 yang tersebar dan terpampang nyata di seluruh penjuru kota.

Dari perjalanan The Editors Club mengunjungi Venice Biennale 2022, berikut ini adalah beberapa karya favorit kami.

Brick House (2019) by Simone Leigh
Venice Biennale 2022 terbagi atas beberapa area, yakni area Arsenale dan Giardini. Saat memasuki kawasan Arsenale, pengunjung akan disambut dengan “Brick House” karya Simone Leigh. Karya monumental ini terbuat dari bronze dengan bagian atas berbentuk perempuan berkulit hitam yang terkesan goddess-like, dan bagian bawah berbentuk seperti rumah yang terbuat dari batu bata. Karya ini memiliki tinggi hingga 4,9 meter, dan merupakan salah satu karya dari seri “Anatomy of Architecture”.

Karya ini memiliki banyak arti dan interpretasi, serta merepresentasikan perempuan, kulit hitam, dan seni secara apik; merupakan selebrasi dari black womanhood, dan sebuah kombinasi yang sangat berkaitan dengan tajuk utama dari Venice Biennale tahun 2022 ini. Lewat karya ini, Simone Leigh dinobatkan sebagai penerima Golden Lion pada Venice Biennale 2022 dengan penghargaan sebagai peserta terbaik. Kemenangan dari Leigh ini sangat bersejarah yang menandai pertama kalinya seorang perempuan kulit hitam menerima penghargaan tersebut sejak Biennale didirikan pada 127 tahun lalu.

 

Untitled (Beginning/Middle/End) (2022) by Barbara Kruger
Karya showstopper selanjutnya adalah “Untitled (Beginning/Middle/End)” karya Barbara Kruger. Karya ini berbentuk site-specific-installation megah yang terletak pada area Arsenale. Instalasi ini terdiri atas largescale black-and-white photographs, ditumpuk dengan kata-kata dalam bentuk phrases of command seperti “PLEASE MOURN” dan “PLEASE CARE” yang diketik dalam font Futura Bold Oblique atau Helvetica Ultra Condensed.

Kruger juga memadukan yang menampilkan instalasi three-channel-video di atas dan statement hitam-putih ikoniknya yang diwujudkan dalam lingkungan yang imersif di empat bagian dinding dan lantai. Instalasi ini merupakan ciri khas Kruger di mana ia memadukan gambar, bahasa, dan teknologi sebagai alat komunikasi dalam mengungkap jawaban dari stuktur kekuasaan dan konstruksi sosial.

 

Hanging Eight Separate Cones Suspended through Their Centers (1952) by Ruth Asawa
Seniman visioner Ruth Asawa (1926–2013) terkenal akan karya pahatan kawat melingkar yang  konstruksinya ia mulai pada akhir 1940-an. Asawa mengubah bahan sehari-hari seperti kuningan, baja, dan kawat tembaga menjadi bentuk yang rumit, dinamis, dan berliku-liku. Pada Venice Biennale 2022, salah satu karya Asawa, “Hanging Eight Separate Cones Suspended through Their Centers” (1952) menggantung di bagian tengah dari area Arsenale. Presentasi pertama Asawa di Venice Biennale ini menyoroti pahatan kawat melingkar ikonis yang ia kembangkan selama lebih dari setengah abad.

 

To See the Earth Before the End of the World (2022) by Precious Okayomon
Precious Okoyomon, seorang seniman Nigeria-Amerika, memiliki landscape installation yang sangat kuat eksistensinya pada Venice Biennale 2022. Diletakkan di sebuah ruangan besar sebagai penutup Arsenale, karya Okayomon ini disusun membentuk taman besar dengan pahatan tanah liat misterius sebagai bagian utama dari instalasi. Kalau dilihat lebih dekat, para pengunjung akan melihat orang-orangan sawah yang terbuat dari berbagai macam material organik, dan dikelilingi oleh tanaman tebu dan bunga-bunga yang biasanya tumbuh pasca bertani kapas.

Selain itu, terdapat hal mendetail yang membuat landscape installation ini spesial, yakni dengan adanya black swallowtail butterflies yang hidup, bereproduksi, dan akan mati di dalam pameran selama Venice Biennale 2022 berlangsung. Semua petunjuk dari instalasi ini merujuk pada penggambaran tentang fenomena perbudakan dan pekerja perempuan di bidang pertanian.

 

Earthly Paradise (2022) by Delcy Morelos
Karya berikutnya adalah karya dari Delcy Morelos, seorang seniman asal Kolombia. Karyanya berbentuk seperti labirin yang terbuat dari tanah dengan aroma unik macam kayu manis, rempah-rempah, dan kokoa. Morelos memadukan banyak wewangian sebagai bagian dari instalasi dengan tujuan untuk menggambarkan bahwa kita adalah bagian dari bumi yang akan selalu evolving sejalan dengan cara kita memperlakukannya. Berjalan di tengah instalasi Morelos seperti berjalan dalam petualangan olfactory yang rich dan menenangkan di saat yang bersamaan.

Venice Biennale 2022 penuh dengan kejutan dan makna yang holistik bagi kehidupan di abad 21 ini. Rasanya, pengunjung seperti diberi sintesis akan semua hal yang tengah menjadi isu perbincangan hangat di dunia seni, seperti kebangkitan women artists, surealisme alternatif, keadilan dan kesetaraan, hingga mitos dan spiritual. Pada dasarnya, seni akan selalu berperan sebagai penyeimbang sosial dan Venice Biennale 2022 berhasil menyuguhkan hal tersebut dengan menarik dan ekstensif kepada seluruh pengunjungnya.