Tourbillon, Terobosan Horologi Breguet Berusia 220 Tahun

A technical innovation that has become an object of admiration. 

 

Known as one of the finest complications in horology history, the tourbillon is both a work of art and a mechanical innovation. Pada tahun 2021, komplikasi tersebut genap berusia 220 tahun. Abraham-Louis Breguet sang inventor mendapatkan hak paten atas mekanisme tersebut pada 26 Juni 1801. Oleh karena itu, pada tanggal 26 Juni tahun ini, label Breguet akan merayakannya melalui berbagai acara serta perkenalan sebuah model baru.

Untuk melihat bagaimana perjalanan dari komplikasi jam tangan mekanis yang memukau banyak watch connoisseur tersebut, berikut ini adalah kisah tourbillon dalam 220 tahun terakhir.

The Origin
Lahir pada tahun 1747 di Neuchâtel, Swiss, Breguet terjun ke dunia horologi dengan menjadi apprentice untuk seorang watchmaker. Pada usia 15 tahun, ia berangkat ke Prancis untuk melanjutkan pelatihan di Versailles dan kemudian berpindah ke Paris untuk menempuh studi di Mazarin College. Pendidikan ini membekalinya dengan landasan keilmuan dalam membuat jam tangan, khususnya di bidang matematika dan fisika.

Pada tahun 1775, ia mendirikan bisnisnya di Île de la Cité. Jam tangan Perpetuelle (self-winding) ciptaannya berhasil memukau Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette, beserta keseIuruhan penghuni istana Versailles. Ketika Revolusi Prancis berlangsung, Breguet di tahun 1793 kembali ke tanah kelahirannya, dan mempelajari ilmu-ilmu baru dari para watchmaker di Geneva dan Neuchâtel. Ia kembali ke Paris pada tahun 1795 dan menciptakan kreasi-kreasi baru, seperti tactile watch, Sympathique clock, subscription watch, constant-force escapement baru, serta mekanisme yang dinamakan ‘Tourbillon Regulator’.

Melalui studi dan observasi yang ekstensif, Breguet memahami faktor-faktor yang dapat menurunkan presisi sebuah jam. He decided to work around them, rather than solving them. Breguet mungkin tidak bisa “mengalahkan” hukum gravitasi, tetapi ia berupaya meringankan efek-efeknya. Berdasarkan visi tersebut, ia berhasil mengkreasikan sebuah mekanisme bak konstelasi pergerakan planet yang terdiri dari sebuah balance spring untuk regulasi, serta escape wheel dan lever untuk transfer, yang dirangkai dalam sebuah mobile cage

Nama yang Breguet pilih untuk mekanisme ini adalah ‘Tourbillon’, yang pada masa itu memiliki makna yang berkaitan dengan planetary system (hal ini berbeda dengan makna modernnya yaitu ‘rotasi keras’ atau ‘badai yang tak terkontrol’). Dalam hal ini, keputusan Breguet perihal pengambilan nama meresonansi semangat Abad Pencerahan dimana para filsuf abad ke-18 melihat watchmaking seperti mikrokosmos (semesta mikro).

Tourbillon in Celebration
Pada tahun 1801, Prancis sudah berada dalam masa otoritas yang birokratis. Untuk mematenkan sang tourbillon, Breguet harus mengumpulkan aplikasi yang mencakup sebuah illustrative watercolor plate beserta surat kepada Minister of the Interior. Berbagai biaya dan “pengorbanan” yang muncul dalam proses pembuatan tourbillon – sebagaimana disebut dalam surat tersebut – nyatanya tak berhenti sampai hak paten didapat di tahun itu. Butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk mengembangkan dan menyempurnakan komplikasi tersebut. Breguet pun selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mempromosikan ciptaannya, termasuk di industrial fairs di Paris pada tahun 1802, 1806, dan 1819. Dalam promonya, ia menegaskan bahwa mekanisme tersebut menjaga akurasi jam meskipun posisi jam berubah-ubah.

Breguet menciptakan 40 kreasi tourbillon di tahun 1796 – 1829. Sebanyak 35 darinya adalah jam tangan, dan 5 lainnya merupakan kreasi-kreasi unik seperti sympathique clock, travel clock, set jam dan jam tangan, model skala besar untuk keperluan demonstrasi, serta sebuah naval chronometer. Jam-jam itu dimiliki oleh berbagai kalangan, seperti anggota keluarga kerajaan (George III dan George IV dari Inggris; Ferdinand VII dari Spanyol), aristokrat Rusia (Pangeran Yermoloff, Gagarin, Repnin, Demidoff, dan banyak lagi), serta bangsawan-bangsawan Polandia, Prussia, Italia, Hungaria, dan Portugal. Jam tourbillon kreasi Breguet juga digunakan untuk keperluan pelayaran, atau berada dalam kepemilikan ilmuwan ternama. 

Kini 30 dari 40 kreasi tersebut berhasil bertahan dan disimpan di tangan para kolektor pribadi atau dalam kepemilikan Breguet Museum, British Museum, serta museum-museum lainnya di Italia, Yerusalem, dan New York. Selain itu, House of Breguet juga mengkreasikan beberapa tourbillon pocket watch di antara tahun 1920 hingga 1950. Informasi tersebut hanya diketahui oleh beberapa insiders. Both a scientific and a sophisticated creation, the Tourbillon is as much as a brilliant work of art as it is a technological marvel. Dial kreasi-kreasi tersebut memiliki perfect readability khas jam tangan Breguet, dan mereka dikemas dengan indah dalam case perak atau emas.

Mekanisme tourbillon dapat diadaptasi dalam berbagai tipe jam, dan divariasikan dengan fitur-fitur seperti constant seconds, seconds on demand, power reserve, bahkan sebuah termometer. Tourbillon telah menjadi objek kekaguman bagi kolektor, sejarawan, hingga tokoh  watchmaking seperti George IV dari Inggris, Sir David Salomons, George Daniels, dan Nicolas G. Hayek. Walau pertama diciptakan sebagai mekanisme jam tangan kantong, mekanisme tourbillon ‘lahir kembali’ di tahun 1980’an sebagai penggerak di dalam case mungil sebuah wristwatch. Sekarang, atraksi utama mekanisme tourbillon bukan lagi pada akurasinya semata, tetapi juga akan makna historisnya, nilai estetikanya yang brilian, serta legasinya selama lebih dari 2 abad.