Three Questions About Fashion Illustration: The Story

Here, TEC answers three essential questions about the evolving process of fashion illustration.

 

Sejak abad ke-16, ilustrasi telah memegang peran signifikan dalam dunia fashion. Sekarang, meski ketajaman lensa kamera bisa diandalkan untuk mewartakan representasi realistik sebuah karya mode maupun memproduksi ramuan artistik, di mana kreasi sartorial, gerak model, dan latar dihubungkan dalam sebuah konsep estetik tertentu (dalam fashion spread), garis-garis ilustrasi fashion tetap memancarkan romantisme tersendiri.

Let’s explore the journey of fashion illustration right from the sketches.

 

Sejauh mana jejak cikal bakal ilustrasi fashion bisa ditelusuri?

Metropolitan Museum of Art mencatat bahwa pada pertengahan abad ke-16, seorang berkebangsaan Italia bernama Enea Vico membuat koleksi ilustrasi kostum menggunakan teknik engraving yang berjudul Diversarum gentium nostrae aetatis habitus. Hal ini kemudian menjadi tren dan memuncak pada Habiti antiqui et moderni di tutto il mondo karya Cesare Vecchelio. Dalam buku yang dirilis pada tahun 1590 itu terdapat 420 ilustrasi kostum buatan Christoph Krieger. Juga dibuat dengan menggunakan teknik engraving, gambar-gambar kostum yang ditampilkan meliputi kostum dari Eropa, Afrika, dan Asia. Buku-buku seperti ini merupakan dokumentasi kultur berbagai budaya dan digunakan layaknya ensiklopedia.

 

Berbeda dengan kumpulan-kumpulan ilustrasi kostum tersebut yang dibuat sebagai sumber pengetahuan etnografis, publikasi-publikasi pada pertengahan era 1600-an di Prancis menyuguhkan ilustrasi-ilustrasi berbagai kostum di lingkungan istana. Dalam perkembangannya, ilustrasi kostum bukan hanya menyajikan reportase seputar mode di istana tapi juga gaya berpakaian masyarakat di area publik yang disebut dengan istilah fashion plate. Seri fashion plate ternama berjudul Galerie des Modes et Costumes Français beredar di Prancis pada tahun 1778-1787 dengan total ilustrasi mencapai lebih dari 400 karya. Di Inggris, publikasi bulanan The Lady’s Magazine yang terbit mulai tahun 1770-an juga menyertakan fashion plate.

 

 

Di ranah yang lebih eksklusif, penggambaran busana menjadi salah satu elemen signifikan dari lukisan-lukisan potret diri para anggota high society pada abad ke-17 dan ke-18 yang menekankan aspek status sosial. Tengok bagaimana lukisan-lukisan Louis XIV pada zaman Baroque menampilkan ekstravaganza pakaian raja Prancis tersebut. Demikian pula dengan lukisan-lukisan ratu Prancis Marie Antoinette semasa Rococo. Seiring dengan teknik printing yang semakin maju, berbagai majalah pun bermunculan pada abad ke-19 (Harper’s Bazaar (1867) dan Vogue (1892) lahir di Amerika sebagai publikasi mingguan) dan ilustrasi gaya berpakaian begitu populer di masyarakat umum.

 

Bagaimana perkembangan ilustrasi fashion dengan terciptanya teknologi kamera?

Meski pada awal abad ke-19 kamera foto diciptakan dan dikembangkan, ilustrasi fashion tak serta mengalami kematian. Majalah Prancis yang diterbitkan Condé Nast, Gazette du Bon Ton (yang berarti “Journal of Good Taste”), adalah salah satu majalah di segmen upper class awal abad ke-20 yang menampilkan ilustrasi fashion. Dicetak pada kertas berkualitas tinggi dengan teknik pewarnaan pochoir, tiap edisi berisi sepuluh ilustrasi fashion. Tujuh di antaranya adalah gambar rancangan high fashion house atau high couturier seperti House of Worth dan Jeanne Paquin, sementara tiga lainnya merupakan hasil imajinasi ilustrator yang terinspirasi dari koleksi mode saat itu. Majalah ini hanya bisa didapat dengan cara berlangganan. Kesan super eksklusif tersebut diciptakan agar berbeda dari majalah mainstream seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Sayangnya majalah ini tidak bertahan lama. Terbit pertama kali pada tahun 1912, majalah ini tutup pada tahun 1925.

 

Memasuki abad ke-20, nama-nama ilustrator fashion ternama muncul. Salah satunya adalah Paul Iribe yang diminta oleh desainer Paul Poiret untuk membuat ilustrasi koleksi modenya. Ilustrasi-ilustrasi tersebut kemudian dibukukan pada tahun 1908 dengan judul Les Robes de Paul Poiret racontée par Paul Iribe. Nama ilustrator fashion tenar lainnya adalah Carl Erickson. Organisasi Society of Illustrators yang berdiri pada tahun 1901 menyebut, sebagaimana dikutip dari situs resminya, bahwa desainer-desainer ternama seperti Coco Chanel dan Elsa Schiaparelli berupaya agar koleksi mereka digambar oleh sosok yang memiliki reputasi penting sebagai ilustrator Vogue tersebut. Dikenal dengan sapaan Eric, ilustrator yang di Paris dijuluki “the Toulouse-Lautrec of America” itu bekerja di Vogue sejak 1923 hingga menutup usia pada 1958.

 

Di Harper’s Bazaar ada seniman kelahiran Rusia Romain de Tirtoff atau dikenal sebagai Erté yang membuat ratusan ilustrasi untuk sampul majalah tersebut selama 1915 – 1937. Pada tahun 1932, untuk pertama kalinya Vogue merilis edisi dengan cover foto berwarna garapan Edward Steichen. Era 1930-an menjadi penanda semakin maraknya penggunaan foto untuk majalah-majalah mode yang mengambil alih peran ilustrasi fashion. Di tengah menurunnya porsi ilustrasi fashion di dunia mode, beberapa ilustrator papan atas yang terus berkarya adalah Christian Bérard yang bekerja untuk desainer ternama seperti Nina Ricci, Dagmar Cohn yang turut memperkenalkan Christian Dior kepada publik mode melalui karya ilustrasi untuk cover Vogue, dan René Gruau yang berkolaborasi dengan Christian Dior dalam banyak proyek sejak tahun 1947 (salah satunya untuk parfum Miss Dior) dan juga bekerja dengan brand besar lain seperti Balmain dan Givenchy.

 

 

Satu nama ilustrator yang juga fenomenal di sejarah mode adalah Brian Stonehouse. Stonehouse memiliki latar belakang yang sangat menarik. Pada tahun 1941, ia menjabat sebagai agen rahasia yang diutus untuk masuk ke Nazi dan menggali informasi-informasi penting. Berhasil bertahan hingga Perang Dunia II berakhir (termasuk dijebloskan ke 5 concentration camp), lulusan bidang seni itu kemudian memutuskan hijrah ke Amerika pada tahun 1946 dan berkarier sebagai portrait painter. Karya-karyanya berhasil memikat Editor-in-Chief Vogue, Jessica Daves. Mengutip pemberitaan The Independent, Stonehouse merupakan ilustrator baru yang direkrut Vogue pada tahun 1952 setelah tak pernah ada perekrutan sejak tahun 1939. Pada masa itu, Andy Warhol yang belum terkenal sebagai seniman pop art juga membuat ilustrasi fashion untuk majalah-majalah seperti Vogue dan Harper’s Bazaar.

 

Terus meningkatnya kualitas kamera serta penggunaannya yang lebih meluas, berbagai media massa mulai total meninggalkan karya-karya ilustrasi. Salah satu publikasi yang setia dengan ilustrasi adalah Women’s Wear Daily dengan ilustrator kenamaan Kenneth Paul Block. Block, seperti diberitakan New York Times, mulai menggambar untuk Women’s Wear Daily sejak pertengahan 1950-an. Selain membuat ilustrasi busana di berbagai fashion show, seperti Geoffrey Beene, Oscar de la Renta, dan Pierre Cardin, alumni Parsons School of Design itu juga menggambar figur-figur crème de la crème. Duchess of Windsor, Wallis Simpson, adalah salah satunya. Ketika sepanjang tahun 1959 Vogue memproduksi cover foto berwarna untuk setiap edisi, senja ilustrasi fashion pun nyata terpampang. Satu figur yang mencuat di tengah titik kritis dunia ilustrasi fashion itu adalah Antonio Lopez.

 

Lopez meradiasi spirit mode dari youth culture era ‘60-an melalui karya-karya ilustrasinya. Berbeda dengan gambar-gambar ilustrasi fashion terdahulu yang pekat akan impresi luxury nan monoton, kreativitas Lopez mengekspresikan energi street style yang dinamis dalam balutan glamoritas. Lebih dari itu, ilustrator asal Puerto Rico tersebut dipandang sebagai sosok yang mempromosikan keberagaman dan inklusivitas di dunia fashion. Grace Jones merupakan salah satu perempuan kulit hitam yang karier modelling-nya diluncurkan oleh mantan mahasiswa Fashion Institute of Technology itu. Semasa hidup, Lopez membuat ilustrasi untuk berbagai publikasi terkemuka, seperti Vogue, Harper’s Bazaar, Elle, dan New York Times. Semenjak dekade 1970-an, fotografi fashion menjadi bintang utama dan sejarah ilustrasi fashion bagai berada di lembaran terakhirnya.

 

 

Seperti apa kondisi ilustrasi fashion pada saat ini?

Untuk sekian lamanya, dominasi medium fotografi di dunia fashion membuat bakat-bakat baru bidang ilustrasi fashion tak cukup terakomodasi. Spotlight hanya tertuju pada segelintir ilustrator. Salah satunya adalah David Downton. Menekuni ilustrasi sejak pertengahan 1980-an, Downton terjun ke ilustrasi fashion pada tahun 1996. Masih aktif hingga sekarang, proyek terbarunya adalah kolaborasi bersama Michael Kors dalam membuat koleksi kapsul edisi spesial yang akan dirilis pada musim gugur tahun ini. Lebih junior dari Downton adalah Bil Donovan yang sejak tahun 2009 menjadi artist-in-residence pertama di Dior beauty. Mengenyam pendidikan ilustrasi fashion di Fashion Institute of Technology, beberapa brand yang pernah menjadi klien Donovan adalah Ralph Rucci, Carolina Herrera, dan Thom Browne.

 

Kecanggihan teknologi informasi yang terus berkembang hingga mewujud pada media sosial membuka kanal baru bagi eksistensi ilustrasi fashion. Siapapun yang bisa membuatnya tak lagi harus bergantung dengan format media lama seperti majalah untuk bisa memamerkan hasil karya pada khalayak luas. Gunakan hashtag #fashionillustration pada pencarian Instagram dan Anda akan menemukan jutaan unggahan karya ilustrasi fashion buatan orang-orang di seluruh penjuru Bumi dengan berbagai jenis gaya gambar. Simultan dengan hal ini, industri mode pun tampak kembali membuka pintunya pada kreasi ilustrasi fashion melalui rupa-rupa proyek.

 

Pada April 2018, untuk kedua kalinya brand Alice + Olivia berkolaborasi dengan ilustrator Donald Robertson dalam membuat koleksi kapsul. Robertson memang bukan sosok baru di industri mode maupun kecantikan – sejak 2007 ia menjabat sebagai Creative Director dari grup Estée Lauder dan sebelumnya menempati posisi penting di majalah Marie Claire, Cosmopolitan, dan Glamour – namun kiprahnya sebagai pembuat karya ilustrasi tidak dibangun melalui platform lama melainkan di Instagram. Lulusan sekolah seni itu meluncurkan akun @drawbertson pada tahun 2012 yang berisi hasil kreasi ilustrasinya. Ketika pada tahun 2014 Pharrell Williams me-regram unggahan Robertson terkait kolaborasi musisi itu dengan Comme des Garçons, reputasinya pun menanjak hingga kini memiliki lebih dari 204K followers Instagram dan telah melakukan banyak kolaborasi dengan pelaku industri mode.

 

 

Tahun lalu, Gucci melanjutkan jalinan kerjasamanya dengan Helen Downie – yang tak mau disebut sebagai fashion illustrator meski pada hasil karyanya elemen sartorial diolah secara intens. Koleksi kapsul hasil kolaborasi kedua pihak itu diluncurkan pada Oktober 2017. Sebagaimana Robertson, rekognisi masyarakat mode terhadap Downie diperantarai oleh medium Instagram. Bedanya adalah bahwa Downie tak punya background yang berkaitan dengan fashion atau bahkan seni. Karya-karya lukisnya yang diunggah di akun Instagram @unskilledworker sejak tahun 2013 berhasil menarik ratusan ribu followers dalam waktu dua tahun dan salah satu di antaranya adalah Creative Director Gucci, Alessandro Michele. Michele kemudian meminta Downie membuat seri lukisan dari koleksi Fall/Winter 2015 untuk ditampilkan di pameran No Longer / Not Yet di Shanghai, China.

 

Prada pada pertengahan 2015 melibatkan beberapa ilustrator fashion dalam proyek peluncuran koleksi baru kacamata Prada Raw. Beberapa proyek yang sudah disebut hanyalah sedikit dari banyak contoh lain perihal relasi mutual antara fashion brands dan fashion illustrator dalam beberapa tahun ke belakang. Melihat fenomena seperti ini, fotografer fashion sekaligus pendiri situs film fashion SHOWstudio, Nick Knight, menyatakan kepada New York Times sekitar dua tahun lalu bahwa ia percaya signifikansi ilustrasi fashion akan terus berkembang. Terlepas dari terbukti atau tidaknya optimisme Knight terhadap takdir ilustrasi fashion di masa mendatang – yang sulit untuk diprediksi karena bergantung pada interaksi faktor-faktor kultural – satu hal yang bisa dibaca dari meningkatnya atensi terhadap fashion illustration saat ini ialah bahwa kecanggihan teknologi kamera yang sudah menjadi sine qua non dari komunikasi visual dunia mode tak serta-merta membawa kepunahan bagi produk budaya yang telah hadir sebelumnya.

 

 

Tampaknya bukan semata soal kehebatan teknologi dalam memenuhi kebutuhan mendasar yang membuat manusia mengapresiasi eksistensi sebuah produk kebudayaan, melainkan juga tentang sensasi keberbedaan atau kebaruan. Dahulu penciptaan kamera membawa sebuah pengalaman berbeda dan baru mengenai cara dokumentasi visual dan terbukti bahwa teknologi tersebut kian hari mampu menjawab kebutuhan krusial untuk memiliki arsip visual yang jelas (kemudian juga dieksplorasi sebagai medium ekspresi artistik). Namun ketika paparan terhadap produk-produk fotografi, khususnya di dunia mode, menjadi begitu intens dan terlalu familiar, ilustrasi fashion – yang “nostalgia” terhadapnya difasilitasi (jika bukan dipicu) oleh kecanggihan media sosial – menjadi sebuah penyegaran.

 

Jika menengok pada area kebudayaan lain, misalnya musik, apa yang terjadi pada ilustrasi fashion tersebut serupa dengan fenomena “kembalinya” keping-keping vinyl di tengah dominasi sarana digital. Alih-alih punah karena kebutuhan masyarakat di masing-masing bidang terpenuhi oleh teknologi canggih, kedua hal tersebut justru diapresiasi sebagai produk non-mainstream dengan tataran nilai yang lebih eksklusif.

Comments are closed here.