The Most Luxurious Thing for Me is Privacy

As essential as security issue.

 

Sudah lama sebenarnya saya ingin berbagi pemikiran soal privasi. Awalnya karena merasa sangat terganggu setiap kali angkat telepon dari orang tak dikenal. Saat itu benak saya mempertanyakan: memangnya siapa yang mengizinkan mereka masuk ke dalam hari saya dan mengganggu aktivitas saya? Saya tidak ingin that particular people to know my mobile number, but where was my power? Privacy interrupted. 

Lalu pemikiran tersebut berkembang kepada satu tesis bahwa mungkin sudah saatnya pemerintah ikut campur tangan untuk melindungi privasi masyarakatnya. Saya rasa, di masa depan, sudah tak bisa lagi bank main telepon untuk menawarkan sesuatu yang mungkin 90% dari yang ditelpon akan menolak tawarannya. Dari sudut pandang saya, manusia modern akan mencari tahu dan mendatangi sendiri apa yang mereka inginkan. Kalau sedang ingin cari asuransi, ia akan membuka Google dan browse mengenai asuransi apa yang paling cocok baginya. Begitu juga ketika ingin kartu kredit atau pencairan dana misalnya.

Cara para penelepon menawarkan pun kadang mengganggu. Saya paham bahwa mereka hanya menjalani tugas yang mungkin bukan merupakan passion atau cita-cita mereka yang sesungguhnya. Makanya tidak pakai hati dan apapun yang tidak datang dari hati biasanya menyebalkan. Belum lagi ketika membacakan “formalitas” yang kadang sudah tidak manusiawi. Bayangkan saja, mereka membacakan pasal-pasal yang panjang. Kadang di tengah kalimat mereka sudah terengah-engah. Saat mendapat telepon seperti itu, biasanya saya secara langsung dan gamblang akan mengatakan, “Pak, saya gak terlalu ngerti apa yang bapak bacakan. Titip pesan saja kepada bos bapak; ke depannya tidak lagi perlu baca begini. Gak ada fungsinya. Saya akan hanya menjawab “iya” agar cepat selesai tanpa mengetahui esensi yang sesungguhnya. Jika pun ada kalimat yang kurang berkenan, saya yakin tidak bisa diubah, kan. Kasihan bapak. Ini sudah tidak lagi manusiawi; seperti mempermalukan diri sendiri”.

Ok, cukup curhat colongan dari saya. Tapi hal itu memang sangat mengganggu dan saya rasa sudah sangat ketinggalan zaman; sama seperti acara-acara di TV. But I’ll talk more about this later; untuk Opini selanjutnya. 

Untungnya, kegelisahan ini lebih dulu melanda orang-orang pintar di negara maju. Buktinya Apple sekarang sudah mengadakan pilihan pada iOS 13-nya untuk hanya menerima telepon dari nomor yang sudah kita simpan di dalam kontak. Nomor-nomor lain yang menelpon akan langsung disalurkan ke voicemail. Tentu saja ini yang menjadi pilihan saya. And I can tell you that my life has never been better. Di dalam dunia yang serba pamer ini, privacy menjadi hal paling luxurious. Saya pun kian mengerti mengapa private island, private jet, dan private-private lainnya dibanderol dengan harga sangat mahal. Karena itulah luxury yang sesungguhnya. 

So, ketika saya katakan bahwa ini sudah tidak normal (such as main telepon sembarangan), lalu apa sih yang dianggap normal oleh umumnya orang? Normal pada hari ini – bagi kebanyakan orang – adalah ketika kita dengan ikhlas memberikan alamat rumah, nomor telepon, dan beberapa hal privasi lainnya ke orang yang baru kita kenal. Mungkin, hebatnya manusia zaman sekarang adalah bahwa kita terlalu percaya pada orang lain. Jangan lupa, di sini ada kemungkinan data diri kita disebarluaskan. Lantas normalkah untuk begitu mudahnya berbagi data privat ke orang baru? In my opinion, this will change in the future.

Let me share a story about the issue of giving private data. Saya punya satu pengalaman ketika suami sedang apply kartu kredit dari sebuah bank ternama. Layaknya orang yang sedang apply, ia pun memberikan semua keterangan yang diminta tanpa beban. Orang bank tersebut bilang akan menelepon ke rumah untuk mengkonfirmasi semua data sebagai langkah akhir sebelum kartu dikirimkan. Selang beberapa hari, pada suatu pagi terdengar telepon rumah berdering. Saya angkat. Ternyata itu dari orang banknya. Ia memperkenalkan diri kemudian bertanya, “Apa benar ini dengan rumah Pak Irman?” .“Ya”, jawab saya. Lalu ia pun langsung menanyakan, “Boleh tolong disebutkan alamat lengkapnya?” – and I was like “No! Hell no!” 

Saya tak paham saat itu bahwa risikonya adalah suami saya tidak bisa mendapatkan kartu kredit yang ia harapkan. This is weird. Pertanyaan saya adalah: ketika ada celah dan kemungkinan bahwa kita akan memberikan alamat lengkap rumah kepada orang yang salah, haruskah tetap kita berikan? Dari mana kita tahu bahwa orang di ujung telepon itu benar-benar orang bank yang sedang memproses approval kartu kredit? Di tengah banyak cerita seram yang seakan meminta kita semua untuk lebih berhati-hati, masa kah kita lalai dan dengan mudahnya memberikan alamat lengkap kita ke orang yang tidak dikenal?

Bagaimana cara merapikan hal ini tentu bukan tugas saya. Ada ahlinya. Tapi yang saya tahu, harus disegerakan.