Talking About John & Mickey in Jakarta Fashion Week 2019

When identity is about the question of being (un)known and evolved.

 

Dalam realita mode di mana prinsip See and Be Seen berlaku, fashion faux pas – sekecil apapun itu – akan dengan mudahnya dianggap sebagai “dosa”. Akan tetapi jika ada sebuah taboo yang dapat dipandang sebagai cardinal sin tertinggi di dunia gaya busana, sepertinya hal itu adalah tentang tampil menjadi unknown individual. Di tengah kondisi dunia fashion yang demikian, yakni ketika fokus terhadap publisitas identitas menjadi nilai sakral yang mewujud pada logo brand apa yang dipakai seseorang hingga di mana ia mendapat kursi saat peragaan busana berlangsung, langkah mencari inspirasi desain kepada topik “anonimitas” tampak cukup berbeda dan menarik. Inilah yang dilakukan perancang Tanah Air Mel Ahyar untuk koleksi kapsul terbarunya di label XY yang tampil pada hari ke-5 gelaran Jakarta Fashion Week 2019, Rabu 24 Oktober 2018 di Senayan City.

Bertajuk “The Story of John Doe”, Mel Ahyar mengeksplorasi imajinasinya atas term John Doe yang lazim dipakai di Amerika sebagai nama fiktif untuk merujuk pada sosok laki-laki dalam sebuah peristiwa yang tak diketahui nama aslinya atau identitasnya. Dalam konteks lain, nama John Doe pun biasa digunakan dengan makna “orang pada umumnya” atau juga dipakai oleh pihak tertentu sebagai upaya untuk menyembunyikan jati diri sebenarnya. Yang manakah John Doe versi XY’s Mel Ahyar? Sebagaimana para tamu undangan fashion show yang dibuat atas kolaborasi antara Senayan City dan Jakarta Designers’ Room itu, Mel Ahyar sendiri pun mungkin tak mengetahui nama asli sosok John Doe. Akan tetapi yang bisa jelas terlihat dari figur yang ia kenal dan perkenalkan ke para tamu pada malam itu adalah bahwa si laki-laki anonim tersebut bukan orang pada umumnya. Cara dirinya berbusana mengungkap banyak hal.

Alih-alih merupakan pribadi yang tak teridentifikasi, karakter pria tak bernama ala XY tersebut lantang terseru melalui gaya berpakaian. He is a street soul but not the average one you often see in the sartorial scene. John Doe ini berjalan santai mengenakan kemeja panjang kerah pyjama yang disertai abstract print rupa wajah berpadu stripes outerwear kontras dan camouflage bucket hat. Pada lain hari, pilihan dari lemarinya adalah gray coat motif rusa yang membalut helaian black-brown t-shirt berkancing atas. Hampir semuanya berukuran longgar. His style stands out in the crowd, tapi bukan dengan tujuan untuk dilihat melainkan merupakan genuine expression of personal taste. Ia berjalan menembus kerumunan secara percaya diri dan tak peduli apakah ia dikenali atau tidak, as what matters most to him is knowing where to go. His attitude is his identity, sebagaimana tercermin pada keputusannya beraktivitas dalam busana.

Lebih dari sekadar tawaran kreativitas rancang busana, ide di balik “Story of John Doe” itu pun tampak memprovokasi sebuah pertanyaan kritis mengenai kondisi sosial kontemporer, terkhusus dalam kaitannya dengan fashion dan identity. Does being known as a certain person who wears certain logos at certain occasions really show someone’s identity? Have they/we already become lost in the carnival of mass shared-identity by expressing those over-consumed style of today; act the same and looked all similar? Mungkin tiap individu memiliki fasenya masing-masing untuk berevolusi dan sampai pada suatu level kesadaran lebih tinggi untuk merenungkan identitasnya yang tergambar melalui caranya mengisi wardrobe. Untuk generasi muda di angan desainer Indonesia Wilsen Willim, hal tersebut spesifik soal evolusi kesenangan yang melibatkan tokoh Mickey Mouse dari masa kecil mereka.

Jika masalah konkretnya adalah kerinduan para young adults itu untuk mengintegrasi kesenangan pada sosok Mickey Mouse ke dalam tampilan, maka solusinya bisa diperoleh melalui pemilihan ragam aksesori emas bertema karakter kartun tersebut buatan UBS Gold, label perhiasan emas asal Indonesia yang mendapat lisensi resmi Disney. Sebagaimana terlihat pada fashion show di hari final Jakarta Fashion Week 2019, Jumat 26 Oktober 2018 di fashion tent Senayan City, rupa-rupa gold jewellery mengusung tema Mickey Mouse hadir dengan desain-desain yang fun khas dunia anak namun cukup versatile untuk dipadukan dengan look orang dewasa (setidaknya dalam momen-momen yang lebih kasual). Akan tetapi, isu yang lebih signifikan untuk dibahas adalah mengenai apakah elemen-elemen masa kecil seseorang harus seutuhnya ditinggalkan ketika ia beranjak menuju kedewasaan. Muda-mudi Wilsen Willim di koleksi terbarunya tampak menanggapi topik tersebut bukan dalam pendekatan hitam-putih – walau secara real palet busana black & white lah yang dipilih.

Bahkan tanpa perlu tersemat sosok kartun apapun pada rancangan-rancangan yang dikenakan mereka, siapa saja yang melihat akan bisa merasakan bagaimana spirit energetic warisan masa kecil tetap berkobar dalam siluet-siluet yang lebih mature itu. Dalam benak mereka mungkin mulai terbentuk sebuah mimipi yang lebih berlandas pada realita dan misi apa yang perlu mereka capai di masyarakat, termasuk melalui gaya berpakaian, namun pada busana mereka pun bisa ditemukan sebuah sikap sartorial khas anak-anak yang menjadikan kesenangan sebagai prinsip dominan. Lepas dari sisi-sisi dunia dewasa yang ditampilkan, misalnya aspek seduktif dari sheer material maupun cutting nuansa tailoring berkesan profesional, karya-karya rancangan Wilsen Willim itu menerjemahkan childhood excitement ke dalam permainan aneka twist seperti asymmetric line pada sebuah kemeja panjang hingga siluet ‘A’ untuk potongan coat.

These are for those who never let their child self behind; untuk mereka yang membutuhkan balutan nan proper namun tak mengabaikan ide dress for fun layaknya seorang bocah yang dengan gembira memilih kaos bergambar Mickey Mouse untuk berjumpa dan bermain dengan teman-temannya. Do all the traits signify immaturity? Well, jawabannya bergantung pada seberapa sadar dan beralasannya seseorang membuat pilihan. Bukankah menjadi dewasa berarti mampu menyediakan alasan bagi tiap pilihan yang diambil dan menyadari apa yang mungkin akan menjadi konsekuensinya (termasuk memilih sisi kanak-kanak mana yang pantas untuk dipertahankan)? Pada akhirnya semua akan berpulang pada ruang kehidupan tiap-tiap individu. Jika Anda berminat untuk turut bergabung di barisan konsumen Wilsen Willim untuk koleksi ini, maka yang bisa diprediksi dari karakter Anda bukan hanya tentang enjoyment terhadap segi fun seorang manusia cilik sekaligus perhatian pada kebutuhan hidup orang dewasa, melainkan juga apresiasi pada pesona eksklusif yang terpancar hingga ke detail busana. FYI, This Wilsen Willim’s gang grew up as Mickey’s posh kids, and will always be!