Syagini Ratna Wulan Talks About “Selfie Culture” in the Art Scene

Syagini Ratna Wulan dikenal masyarakat sebagai seniman perempuan yang kerap mencantumkan idiom visual yang kuat dalam karyanya. Kemampuannya bermain dengan warna telah memicu daya tarik dari berbagai kalangan penikmat seni, tak terkecuali “the selfie-mania” — orang-orang yang datang dengan mengutamakan konten sosial media dari pada karya seni tertentu dalam sebuah eksibisi. Pada wawancara ini, kami membahas pandangan Syagini terhadap fenomena yang telah terjadi sejak awal seni kontemporer diperkenalkan di Indonesia.

 

Mengenal Anda sebagai salah satu seniman yang diperhitungkan di Indonesia dan mengetahui bahwa saat ini seni telah menjamah lebih banyak kalangan, bagaimana Anda melihat perkembangan ini?

Menurut saya ketika seni sudah bisa diapresiasi masyarakat yang lebih luas adalah barometer sebuah bangsa yang berbudaya. Jadi, semakin bisa diapresiasi berbagai kalangan, ya, tentunya lebih baik.

 

Memasuki era digital, perkembangan seni selalu dinanti generasi millennial. Hal ini sering kali disebabkan oleh ke-photogenic-an sebuah karya, yang kemudian mendorong perlakuan “ke pameran seni untuk selfie aja”. Bagaimana tanggapan Anda mengenai ini?

Datang ke pameran hanya untuk selfie bisa jadi entry point untuk memahami seni. Untuk memahami sesuatu, biasanya awalnya harus ada hubungannya dengan ‘diri sendiri’ agar menjadi kebutuhan personal. Kedepannya, ya, seperti seleksi alam, yang bisa paham lanjut, yang selfie aja, ya, kandas mungkin sampai situ aja.

 

Bagaimana seseorang seharusnya menikmati karya seni seorang seniman dalam museum?

Menikmati karya di museum itu biasanya ada etikanya, nomor satu tentu “do not touch the artwork”. Itu aja dulu deh diresapi baik-baik. Hahaha.

“Datang ke pameran hanya untuk selfie bisa jadi entry point untuk memahami seni. Untuk memahami sesuatu, biasanya awalnya harus ada hubungannya dengan ‘diri sendiri’ agar menjadi kebutuhan personal.”

 

 

Pernahkah Anda menyaksikan kejadian di mana orang-orang datang ke suatu pameran seni dan mengganggu orang sekitarnya hanya karena mereka ingin mengabadikan momen mereka tersebut? Bagaimana ceritanya?

Sering dong, di berbagai pekan seni juga selalu seperti itu. Apalagi di museum yang baru buka di Jakarta; Foto demi selfie, demi konten, demi mengabadikan momen, demi keliatan berbudaya, demikian pokonya. Mungkin dari pihak penyelenggaranya juga harus memberi warning dan pengertian juga walaupun para pengunjung yang budiman belum tentu mengerti, karena konten itu “lyfe” baginya. Haha.

 

Setujukah Anda kalau dibilang “selfie” di dalam pameran seni merupakan bentuk apresiasi terhadap karya tersebut?

Selfie sebagai bentuk apresiasi terhadap karya itu jadinya seperti koin bermata dua, ada agenda lain dari sekedar apresiasi.

 

Apakah Anda setuju kalau Instagram merupakan faktor terbesar yang mendukung gerakan ini?

Saya setuju kalau Instagram adalah faktor terbesar mendukung gerakan selfie culture. Sangat disayangkan karena masyarakat jadi terlalu sibuk dengan aspek permukaan dari mencitrakan diri.

 

Bagaimana Anda melihat ini? Apakah ini merupakan penggunaan yang positif atau negatif?

Instagram juga menurut saya adalah pedang bermata dua. If you can use it wisely bisa baik hasilnya, tapi kita harus ingat kalau Instagram dan sosial media itu bukan milik kita. There is more to life than that. Membangun karier di sosial media itu banyak resikonya, like building a house on a rented land. Lebih baik invest more on yourself, build your own network.

“Ketika seni sudah bisa diapresiasi masyarakat yang lebih luas adalah barometer sebuah bangsa yang berbudaya.”

 

 

Sebenarnya, untuk Syagini sendiri, apa outcome yang diharapkan ketika memamerkan sebuah karya dalam art gallery atau museum?

Sebenarnya, di dunia seni, selama ini kita ada medan sosial seni sendiri, apart from the mass audience. Jadi kadang ekspektasinya adalah apresiasi dari para pelaku seni dan audiens yang sudah ada di art scene. Outcome yang diharapkan tentu saja apresiasi dari para pelaku seni yang luas jangkauannya, jenjang karier yang lebih tinggi, seperti diundang ke perhelatan seni yang lebih besar, pameran di biennale atau museum. Apresiasi dari audiens yang luas jadinya seperti bonus saja ya, tapi kalau sampai menggangu demi konten, ya… kehabisan kata-kata, hehe, karena itu masalah etika. Kalau orang tidak punya etika kadang tidak akan pernah tahu ia sedang berbuat salah.

 

Saran Anda, apa prevensi yang bisa dilakukan pihak museum untuk menghindari kejadian yang kerap mengganggu ini?

Memberi teguran atau mungkin aturan di awal. Masyarakat Indonesia, kan, tidak dibesarkan dengan budaya museum sejak dahulu, jadi wajar saja kalau ada gegar budaya ketika dibukanya museum seni kontemporer. Selain tugas institusi besar memberi pendidikan dan tata cara untuk berperilaku di museum, masyarakat yang sudah berpengalaman juga seharusnya membantu. Bukan hanya mencemooh dan menertawakan kebodohan orang lain. Semoga kedepannya orang bisa mengerti.

 

Apa karya terakhir Anda yang dipamerkan?

Karya di Artjog 2018, kelanjutan dari pameran tunggal saya di ROH tahun 2016, “Spectral Fiction”. Bicara tentang warna pada hakikatnya adalah warna, tidak terkait dengan kebudayaan yang diciptakan manusia.