StrEIGHT from The Desk of: Hessy Aurelia

Independence.

Apakah seseorang itu bisa benar-benar bebas? Apa sebenarnya arti kebebasan yang sesungguhnya?

Jawaban untuk pertanyaan ini tentu akan banyak dan tidak seragam. Tapi paling tidak, di dalam artikel ini saya ingin menjelaskan dari sisi opini personal dan menurut pengalaman pribadi saya.

Sudah menonton film “Barbie”? Sebuah karya film yang disutradarai oleh Greta Gerwig, seorang feminis yang saya rasa pantas dikatakan sukses berat dengan film terbarunya ini. Setelah satu setengah tahun menjadi buah pembicaraan dan melaksanakan tur pers dengan review yang luar biasa, “Barbie” akhirnya tayang di bioskop, memecahkan rekor box-office dengan debut $ 162 juta. That’s the highest-grossing opening weekend ever for a film directed by a woman.

Film ini memang film komedi, berdasarkan karakter fiktif boneka pula. Tapi lucunya, many viewers are taking it seriously. Para penggemar Barbie banyak yang bilang film ini jauh di luar harapan, dalam arti yang baik. Film yang dipikir hanya menye-menye, ternyata mengandung pesan yang berat. Tapi para kritikus beranggapan sebaliknya. Film ini dianggap sebagai anti-patriarchy propaganda. Sebuah isu mengenai kesetaraan gender yang berlebihan. So, why does this film about a toy provoke such strong reactions?

Saya, setiap kali ditanya soal kesetaraan gender atau feminisme, selalu menjawab berdasarkan kumpulan informasi dari luar. Membaca sejarah, menonton YouTube, melihat Instagram, dan melahap social media lainnya agar selalu update dengan kejadian hari ini dan juga paham mengenai asal-usulnya. Jawaban yang saya berikan tidak pernah berdasarkan pengalaman. Karena jujur, saya selalu dikelilingi oleh laki-laki yang mengagungkan perempuan. In a sense, I am lucky.

Tapi tentu saja saya punya empati. Pada kenyataannya memang, perempuan didesain dari sedia kala untuk bukan menjadi nomor satu. Jadi kalau bicara soal kebebasan, kebebasan kita dibatasi. Mungkin inilah asal-usul perempuan jadi berontak meminta hak yang sama dengan laki-laki. Jadi dari kacamata saya, sah saja jika terkadang suara para feminis terdengar keras untuk sebagian orang.

Tapi bagi saya, yang terpenting adalah kita manusia harus piawai dalam memainkan perannya masing-masing. Peran yang tidak dikotak-kotakkan seperti laki-laki yang cari uang, perempuan yang cuci baju; laki-laki yang urus mobil ke bengkel, perempuan yang masak di dapur. Hal-hal pribadi seperti ini harusnya ditentukan oleh masing-masing, bukan ditentukan oleh sejarah. Kalau laki-lakinya yang jago masak, ya dialah yang di dapur. Kalau perempuannya punya kesempatan seperti Sri Mulyani, ya janganlah dibatasi.

Michelle Obama di salah satu wawancara pernah berkata, di dalam sebuah hubungan sebenarnya tidak pernah fifty-fifty (50-50).  Ada hari di mana pasanganmu hanya memiliki 20, di sinilah Anda harus meng-cover 80-nya. Atau sebaliknya, jika ia sedang punya 40, Anda yang mengisi 60-nya. Namun, bagian mana saja yang harus diisi, ini harus dikomunikasikan kedua pihak dengan posisi yang setara.

Saya menikmati dibukakan pintu oleh suami, digandeng tangannya, dituntun dan di-review proposalnya. Bukan karena saya tak bisa jalan atau tidak mumpuni dalam menciptakan sebuah bisnis proposal, tapi saya menikmati adanya partner di dalam hidup ini. Saya pun tak pernah merasa menjadi sebuah “objek” karena selalu dipeluk atau dicium di depan orang banyak. Malah sebaliknya, saya mensyukuri karena senantiasa diingatkan bahwa kami tim yang solid. Berdua maupun di depan banyak orang, saya diperlakukan sama, dengan penuh cinta dan kebanggaan, and I think it’s sweet.

Being independent, in my opinion, bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Tapi, jika (God forbid) keadaan memaksa saya untuk sendiri, saya bisa melakukannya. Karena lawan kata dari mandiri adalah ketergantungan, bukan “tidak membutuhkan orang lain”. Jadi, selama Anda tidak tergantung orang lain, Anda adalah orang yang independen.

Di sinilah arti kemerdekaan yang sesungguhnya lahir. Selamat menyambut Hari Kemerdekaan dengan merayakan kebebasan.