Refleksi Romansa Multi-Asmara.
It’s April already. Konon kisahnya, bulan ini dinamakan berdasar sosok Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan dalam mitologi Yunani. Sebagian kita mungkin akan langsung teringat dengan kata “Aphrodisiac” yang merujuk pada makanan atau minuman untuk menstimulasi hasrat seksual. Love dan lust selalu saling mengait dalam praktik penyembahan dewi tersebut. Herodotus (484 – 425 BC), sejarawan legendaris di masa Yunani kuno, menyebut dalam bukunya “The History” bahwa sekumpulan perempuan yang disebut sebagai “horae” diharuskan untuk pergi ke kuil Aphrodite untuk melakukan hubungan seks dengan strangers – minimal sekali – dan kemudian menerima uang sebagai persembahan suci.
Menarik untuk melihat bahwa tiap kultur di dunia punya pemaknaan berbeda tentang bagaimana cinta dan seks seharusnya terjalin. Wacana ini terus menjadi aspek yang relevan dalam cara manusia menjalani hidup. Terlebih ketika konsep relationship terlibat. Saya punya memori tentang ayah yang dulu berdebat di gereja mengenai prinsip pernikahan Kristiani. Pada masa itu ia dalah seorang devoted Christian dan sangat memegang teguh prinsip monogami. Dihadang dengan pembeberan fakta bahwa di Alkitab tertulis Abraham menikahi Sara, Hagar, Keturah; hingga Raja Salomo yang punya 700 istri dan 300 selir, ayah saya bersikukuh bahwa secara esensial Tuhan hanya menciptakan satu Adam untuk satu Hawa, satu Hawa untuk satu Adam.
Riset-riset Etnologi menyingkap bahwa tipe relasi poligami bukan hanya ditemukan pada satu budaya atau kepercayaan tertentu. Jenisnya pun tak hanya satu suami dengan beberapa istri yang disebut dengan poligini. Sebagai contoh, pada beberapa daerah di Tibet, Nepal, dan Bhutan saat ini, sebagian keluarga mempraktikkan poliandri yang menjadi bagian dari kultur lazim turun temurun. Secara lebih spesifik yang diterapkan adalah fraternal polyandry di mana seorang perempuan menikahi beberapa laki-laki yang merupakan kakak-beradik. Ini mengingatkan pada karakter Drupadi yang menikahi 5 bersaudara Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, dan kembar Nakula-Sadewa) dalam cerita Mahabarata.

Sebagaimana komponen kehidupan manusia lainnya, relasi monogami ataupun poligami merupakan sebuah perkara yang kompleks. Tentu saja merupakan sebuah oversimplifikasi – which I’m against of – untuk berbicara tentang hal itu semata dalam kerangka love dan lust. It certainly is more than that. Institusi pernikahan sejak dahulu selalu dibentuk dan diisi dengan gagasan-gagasan yang melampaui aspek afeksi dan intimasi fisik. Lebih dari sekadar pembangunan relasi simbiosis berdasar rasa cinta, hasrat tubuh, komunikasi yang baik, kesetiaan, kepercayaan, dan komitmen, pernikahan sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah peradaban manusia juga difungsikan sebagai taktik ekonomi, strategi politik, manuver sosial, hingga wujud ketaatan keagamaan.
Pastinya saya tak akan menyentuh soal relationship dalam konteks keagamaan. Bukan cuma karena itu adalah ranah privat tiap individu, tapi juga lantaran ketika kita membahas agama, terlepas dari sejauh mana kita mencoba merasionalisasinya, kita akhirnya akan sampai pada titik di mana kita harus melakukan ‘leap of faith’. Seperti dikonsepsikan filsuf Denmark Søren Kierkegaards, berkeimanan berarti bersedia “melompat” dari keterbatasan rasionalitas, and I’ll leave it that way in a scared place of everyone’s heart. Pada tulisan ini, yang ingin saya sorot perihal relationship ialah fenomena populernya “bentuk-bentuk baru” sebuah hubungan asmara yang melibatkan lebih dari dua jiwa. Jika belum familiar dengan realita yang tengah marak ini, mungkin bisa membaca beberapa artikel seperti “How Did Polyamory Become So Popular?” dari The New Yorker, “Is polyamory the future?” di The Washington Post, “Polyamory, the Ruling Class’s Latest Fad” buatan The Atlantic, atau “Gwyneth Paltrow Says “No Thanks!” to Polyamory” yang dirilis Vanity Fair pada 1 April lalu.
Beberapa artikel itu menyertakan pandangan-pandangan keilmuan yang beragam dari para ahli mengenai consensual non-monogamous relationship tersebut. Saya pribadi melihat bahwa kian diterimanya poliamori sebagai dampak dari keterkaitan antara tiga hal, yakni 1) perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin mudah dipublikasikan secara luas dan diakses masyarakat awam, 2) meningkatnya daya pikir kritis dan keberanian untuk mempertanyakan realita hidup yang didukung ragam referensi, serta 3) lebih leluasanya iklim pengekpresian pandangan melalui berbagai platform komunikasi. Sebagaimana pertumbuhan bahasan tentang spektrum gender dan orientasi seksual yang menantang gagasan-gagasan konvensional, seperti pemahaman tentang transgender, non-binary, pansexual, asexual, aromantic, heteroflexible, homoflexible, androphile, gynephile, ide poliamori semakin mendapat tempat sebagai satu mode berkehidupan dengan landasan argumentatifnya mengenai diri manusia dan bagaimana menyikapinya.

Berbeda dengan poligami “tradisional”, poliamori tidak terikat pada komposisi gender dan orientasi seksual dari pihak-pihak terlibat. Its foundation is not heteronormativity. Tentu saja poliamori bisa hanya terdiri dari dua heterosexual cis man dan dua heterosexual cis woman. Akan tetapi dalam sebuah skenario lebih kompleks, bisa dibayangkan suatu relationship yang melibatkan seorang gynephilic cis man, seorang bisexual non-op transwoman, seorang pansexual non-binary with androgynous look, dan seorang heteroflexible cis woman (I put a mini glossary for these terms at the end of this article). Perlu ditekankan pula bahwa poliamori berbeda dengan open relationship. Dalam poliamori terdapat komitmen relasi secara konsensual yang mengikat pihak-pihak terlibat (oleh karenanya akan dianggap sebuah perselingkuhan jika seorang dalam relasi poliamori melakukan romantic/sexual affair dengan orang lain di luar relationship tersebut). Sementara dalam open relationship, kesepakatannya adalah tiap pihak diperbolehkan untuk punya affair (entah itu sexual atau bahkan romantic affair sampai pada batas tertentu) dengan orang lain di luar the main relationship.
Bagaimana aspek pengakuan legal atas sebuah hubungan poliamori jelas akan menjadi wacana ranah hukum yang menarik sekaligus challenging, terutama bila terkait dengan persoalan pengasuhan anak, kepemilikan harta bersama, waris, dan perihal-perihal yuridis lain (tentunya ini juga akan melibatkan diskusi tentang Hak Asasi Manusia). Saya tak akan masuk ke sana. Yang mau saya sentuh adalah bahwa pengenalan dan pemahaman akan poliamori yang tengah marak diperbincangkan bisa membawa kita untuk merenungkan kembali tentang kebutuhan emosional diri, visi ideal sebuah relationship, dan bagaimana hasrat seksual kita perlu dihayati, ditelaah, dan diekspresikan dalam koridor-koridor nilai yang kita nalarkan. Is polyamory a solution to prevent infidelity? I’m sure it’s not. Perselingkuhan adalah sisi rumit lain dari kemanusiaan dan ada banyak kemungkinan faktor yang saling terjalin atas terjadinya aksi ketidaksetiaan itu. Akan tetapi dengan merefleksikan apakah poliamori adalah sebuah mode berelasi yang cocok untuk kita atau tidak, setidaknya kita bisa membangun sebuah relationship berbasis penghayatan diri yang tak taken for granted.
Mungkin sebagian kita selama ini terjebak dengan idealisasi umum tentang monogami padahal sesungguhnya lebih cocok dengan prinsip poliamori – sehingga berdampak pada terjadinya perselingkuhan. Bahkan sebagian kita mungkin sepenuhnya tidak cocok dengan ide committed relationship dan lebih cocok dengan mode hidup tanpa komitmen hubungan dengan siapapun. Pepatah bijak Yunani kuno mengatakan, “Know Thyself” yang berarti, “Kenali Dirimu”. However here comes the trickier part. What does it mean to know our own self? Tendensi general atas upaya menjawab pertanyaan tersebut adalah pengamatan akan manusia yang tak terpisahkan dengan kebiologisannya. Jika otak manusia mampu memproduksi rasa benci dalam level yang sama terhadap dua orang berbeda, mengapa tak mungkin organ tersebut juga melakukan hal yang sama terhadap rasa cinta. Punya multiple crushes adalah pengalaman banyak orang. Entah masih lajang ataupun sudah dalam sebuah hubungan, banyak orang berfantasi seksual tentang orang-orang berbeda. Ketika menjalin love-based relationship dengan seseorang, sebagian kita pun mungkin pernah merasakan cinta yang sama kepada orang selain pasangan. Pertanyaannya: apakah semua experiences ini semua serta merta menjustifikasi konsep relasi poliamori dan meruntuhkan monogami?

Untuk membahas hal itu, saya akan menyodorkan sebuah kontras distingtif antara manusia dengan anggota animal kingdom lainnya. Saya akan mulai dengan paparan bahwa alam menyajikan kita sebuah pemandangan kaya ragam bentuk kehidupan. Cacing tanah memiliki organ kelamin jantan dan betina sekaligus pada tubuhnya sehingga dikategorikan sebagai hermaphrodite (diambil dari mitologi Yunani tentang anak Hermes dan Aphrodite yang punya dua kelamin). Buaya betina bisa mereproduksi anak tanpa perlu pasangan jantan lewat mekanisme yang disebut parthenogenesis (please don’t think of the Virgin Mary as it’s just different guys, lol). Cacing martil adalah golongan planaria yang berkembang biak lewat fragmentasi dan bila dipotong menjadi beberapa bagian, tiap bagian akan berkembang menjadi cacing utuh dalam beberapa minggu. Jerapah, bottlenose dolphins, bison, kera bonobo, walrus atau beruang laut telah secara scientific terobservasi melakukan same-sex mating disamping reproduksi heteroseksual. Penelitian ilmiah mengungkap keuntungan mekanisme polygynandrous pada mamalia di mana individu jantan dan betina punya beberapa pasangan kawin. Adakah hewan yang monogamous? Sebagian spesies burung dan primata disebut punya satu partner kawin seumur hidup meskipun tidak sepenuhnya “eksklusif”. Human?
Mungkin manusia adalah satu-satunya anggota animal kingdom yang sebagiannya terbukti benar-benar bisa berelasi secara monogami (well at least for the most part of their marriage or committed relationship). Kalaupun nantinya ada penemuan ilmu pengetahuan tentang spesies hewan yang benar-benar eksklusif menjalin perkawinan dengan satu partner seumur hidup, tampaknya hal itu tak bisa diparalelkan dengan apa yang manusia lakukan. Berbagai tipe mating dari para hewan sebagian besar merupakan wujud kebutuhan survival di habitat liarnya. Lain halnya dengan manusia yang ketika terlibat dalam sebuah relasi – dengan atau tanpa aktivitas seksual – unsur values menjadi bagian yang krusial. Nilai-nilai adalah hasil buah pikiran dan lewat kemampuan berpikir, kita mengidealisasikan apa itu persahabatan, apa itu kekeluargaan, apa itu relasi percintaan, apa itu ikatan pernikahan, bahkan apa itu hubungan ketuhanan. Intelegensia juga lah yang membedakan bagaimana manusia memproses stimulus dan melakukan respon. Di dunia hewan, respon hampir selalu mengikuti stimulus. Jika lapar, mereka langsung cari makan. Jika terancam, mereka akan kabur atau melawan. Jika bergairah seksual, mereka melampiaskannya segera. We know human does wiser. Tidak selalu apa yang menjadi keinginan ragawinya dipenuhi secara utuh dan ada alasan nilai-nilai di baliknya.
Ambil contoh dalam hal makanan. Sebagian orang mungkin mengikuti segala kemauan lidah dan perutnya, tapi beberapa orang lain memilih untuk membatasi konsumsi jenis makanan tertentu meskipun mungkin mereka sangat menyukainya. Kita menyebut hal tersebut sebagai diet dan itu bisa didasarkan pada value of health atau bahkan nilai yang lebih abstrak seperti animal welfare dan spiritualitas. Beberapa vegan yang mengadvokasi well-being para hewan mungkin tak akan menyangkal bahwa rasa daging itu enak dan sebagian mereka mungkin masih punya nafsu untuk memakan daging, tapi mereka secara sadar memilih untuk tidak melakukannya oleh karena nilai yang dipegang. Hal serupa juga berlaku ketika seseorang merasa tak mau beranjak dari tempat tidur tapi nyatanya mereka bangun, mematikan alarm, dan bersiap untuk ke sekolah atau kantor. Nilai kedisiplinan atau work ethics mendasarinya. Begitupun dengan hasrat seksual. Biksu-biksu Buddha, Pastor Katolik beserta para biarawatinya, juga kaum-kaum spiritualis lain memilih jalan celibacy atau tidak berhubungan seks untuk sebuah alasan yang transcendental atau divine. In short, bodily desire is a part us but it’s not our total self. We have to be the master of our desire, not enslaved by it. Puasa sebagai praktik spiritual merupakan satu cara untuk menghayati hal ini. Dengan berpuasa kita dilatih untuk menunda respon terhadap sebuah stimulus lewat perantaaran nalar.

Ide true love, soulmate yang diamplifikasi lewat dongeng Cinderella ala Disney atau sosok Romeo dan Juliet di sastra William Shakespeare mungkin memang hanya merupakan konstruksi sosial. Tapi dengan nilai-nilai itulah tak jarang pasangan monogami yang sukses membangun healthy committed relationship hingga akhir hayatnya. Dalam perjalanannya, mereka mungkin juga pernah merasakan situasi mencintai dua orang pada saat yang bersamaan (dan turut melibatkan love-based sexual affair di dalamnya), tapi demi nilai ikatan monogami yang dianut, mereka berjuang untuk memperbaiki apa yang terkoyak dan kembali menjalani hubungan berkualitas bersama pasangan yang dianggap paruhan jiwanya. Dengan ini, saya ingin kemukakan perspektif bahwa afirmasi akan kondisi manusia yang bisa punya rasa cinta serentak pada dua atau lebih orang tampaknya tak cukup kuat menjustifikasi pilihan untuk mengadopsi relasi poliamori. Pikiran saya akan sangat terusik dan tak puas bila mendengar polyamorists yang menjawab pertanyaan perihal alasannya mengadopsi tipe relasi itu dengan mengatakan, “…ya karena pada kenyataannya manusia itu bisa mencintai lebih dari satu orang di saat yang bersamaan.” It has to be more than that, right? Or am I wrong? Saya tak sedang mengatakan bahwa poliamori secara inheren merupakan konsep yang defective. Saya hanya berpikir bahwa justifikasi terhadap poliamori memerlukan argumentasi kokoh berbasis sebuah penelaahan dan pembangunan values.
Kontemplasi akan topik ini membawa saya lebih jauh lagi berpikir tentang apakah feeling of love (entah kepada satu orang atau lebih) memang sepatutnya menjadi fundamental sebuah relationship? Ataukah itu hanya sebuah pijakan awal bagi pengembangan konstruksi hubungan yang pada titik kematangannya what does matter bukan lagi perihal rasa kasmaran? Rasa cinta adalah hal yang rapuh dan bisa pudar seiring berjalannya waktu oleh karena berbagai penyebab. Dalam skenario terbaik, perasaan itu bisa bertransformasi atau memberi jalan pada lahirnya emotional state lain yang lebih fulfilling. Pada kemungkinan lain, perasaan itu bisa sekadar menghilang begitu saja. Jika saya mencoba bernalar rasional secara ekstrem dengan membertimbangkan nature of love yang demikian, saya sampai pada pertanyaan mengapa banyak orang berani mengambil keputusan untuk membangun sebuah relationship (monogami atau poliamori atau apapun) dengan risiko hilangnya rasa cinta dan dapat berujung pada perpisahan juga kondisi psikologis yang carut marut? Apakah keberanian menjalin hubungan juga sesungguhnya merupakan sebuah lompatan iman? Mungkinkah juga keputusan tersebut sesungguhnya hanyalah manifestasi dari candu cinta? Here I refer to love addiction literally. Berbagai penelitian neuroscience menunjukkan bahwa bagian otak yang teraktivasi kala jatuh cinta adalah bagian yang sama ketika seseorang mengkonsumsi kokain.
Saya putuskan berhenti di sini membahas cinta, seks, dan relationship. Artikel ini sama sekali tak dimaksudkan untuk menjadi a piece of counselling advice. Saya hanya berharap bahwa lewat artikel ini kita dihantar kembali untuk secara kritis merefleksikan apa itu mencintai, bagaimana kita memberi pemaknaan pada hasrat seksual, dan atas idealisme apa sebuah bentuk hubungan perlu diperjuangkan. Dalam realitanya, masing-masing orang yang memilih monogami maupun poliamori atau jenis hubungan lain bisa punya landasan yang berbeda satu sama lain tentang mengapa tipe relationship tersebut dipilih. Yang sangat saya tekankan adalah bahwa semua harus melibatkan persetujuan sadar tanpa tekanan dari pihak-pihak terlibat dalam sebuah hubungan. It’s about compatibility. Bila Anda penganut monogami dan mencintai seseorang berhaluan poliamori – atau sebaliknya – itu berarti Anda dan dia tak compatible. Jika Anda dan dirinya bersikukuh untuk mencoba membuat relasi itu tetap berjalan dengan menempuh berbagai jenis cara, well go ahead as it’s your right. Just keep in mind untuk melakukan upaya tersebut dengan consent satu sama lain serta pemahaman yang matang akan risiko-risiko yang bisa timbul.

Terpenting ialah bahwa kita tidak berada dalam sebuah proses manipulasi, yakni ketika kita dibuat jadi merasa bersalah oleh karena padangan kita dengannya perihal relationship berbeda. Jika Anda bertemu orang semacam itu, terlepas dari apakah ia menganut poliamori atau monogami atau apapun, dan ia memanipulasi Anda dengan mengkondisikan rasa bersalah atas konsepsi relationship ideal Anda yang berbeda dari pandangannya, segeralah menjauh dari manipulator tersebut. So here, I’m closing this writing with an understanding of how important a self-love is in order to love someone else wisely.
Mini Glossary:
A
Androgyny: persona diri yang memiliki karakteristik maskulin sekaligus feminin. Karakter androgynous bisa melekat pada orang dengan gender apapun.
Aromantic: suatu kondisi absensi ketertarikan romansa pada siapapun.
Asexual: suatu kondisi absensi ketertarikan seksual pada siapapun.
B
Bisexual: suatu kondisi ketertarikan pada laki-laki dan perempuan.
C
Cis man: seorang yang terlahir dengan genital laki-laki dan menghayati gender diri sebagai laki-laki.
Cis woman: seorang yang terlahir dengan genital perempuan dan menghayati gender diri sebagai perempuan.
H
Heteroflexible: suatu kondisi di mana seorang punya kecenderungan utama tertarik pada lawan jenis, namun punya fleksibilitas untuk terkadang tertarik dengan sesama jenis.
Homoflexible: suatu kondisi di mana seorang punya kecenderungan utama tertarik pada sesama jenis, namun punya fleksibilitas untuk terkadang tertarik dengan lawan jenis.
M
Monogamy: praktik berelasi intim dengan hanya satu orang (apapun gender dan orientasi seksualnya).
N
Non-binary: seorang yang menghayati diri tak terkategorisasi dalam pengkubuan gender laki-laki dan perempuan.
P
Pansexual: suatu kondisi ketertarikan pada gender apapun (male, female, trans, etc) dengan jenis genital apapun.
Androphilic person: seorang (apapun gendernya) yang memiliki ketertarikan pada cis man dan/atau non-cis man dengan karakteristik maskulin.
Gynephilic person: seorang (apapun gendernya) yang memiliki ketertarikan pada cis woman dan/atau non-cis woman dengan karakteristik feminin.
Polyamory: praktik berelasi intim dengan lebih dari satu orang. Polyamory tak dilimitasi oleh norma gender atau orientasi seksual.
Polygamy: praktik berelasi intim antara seorang laki-laki dengan beberapa perempuan (polygyny) atau seorang perempuan dengan beberapa laki-laki (polyandry)
T
Trans man: seorang yang terlahir dengan genital perempuan dan bertumbuh menghayati gender diri sebagai laki-laki. Terkait genital reassignment surgery, Trans man terbagi menjadi pre-op, post-op, dan non-op trans man.
Trans woman: seorang yang terlahir dengan genital laki-laki dan bertumbuh menghayati gender diri sebagai perempuan. Terkait genital reassignment surgery, Trans woman terbagi menjadi pre-op, post-op, dan non-op trans woman.