Sophie Delafontaine: Passion untuk Terus Melangkah

The driving force of Longchamp’s creative director.

 

The pursuit of luxury has been at the heart of Longchamp since its early days. Pipa cerutu tak lagi menjadi benda yang sama ketika brand bentukan Jean Cassegrain ini memberi sentuhan kreatif berupa pelapis kulit. It became a luxury statement of the gentlemen. Menurut sebuah artikel The Telegraph, Elvis Presley merupakan salah satu penggemar pipa cerutu balut kulit kreasi Longchamp. However, luxury is not the only keyword of the brand. Sejak berdiri pada tahun 1948, Longchamp pun berevolusi dengan berbagai karya dan aspek fungsionalitas turut menjadi elemen substansial bagi label asal Paris itu. Muncul perdana di era 1990’an, Tas Le Pliage yang chic dan dapat dilipat merupakan perwujudan kombinasi practicality dan style consideration.

DNA Longchamp yang sudah terbentuk selama lebih dari 70 tahun itu pun terlihat pada koleksi Fall/Winter 2021 yang ditampilkan beberapa waktu lalu. Untuk rancangan-rancangan tersebut, Creative Director Sophie Delafontaine – anak perempuan Jean Cassegrain – menyebut 3 hal sebagai inspirasi. Yang pertama ialah real Parisian woman yang menjalani kehidupan di Paris, dimana elemen gaya dan fungsionalitas melebur menjadi satu di dirinya. Kemudian inspirasi lainnya adalah emblem penunggang kuda Longchamp yang mewakili jiwa energetic dan perlambang know-how dari brand itu terkait karya-karya berbahan leather. Inspirasi ke tiga adalah kreasi-kreasi desainer interior Paris, Pierre Paulin dengan warna-warna neutral bertemu pop colours.

Tentu bukan hal mudah untuk tetap maju melangkah dan menciptakan koleksi di tengah situasi pandemi seperti ini. Akan tetapi, Sophie memiliki hal penting yang membuatnya tidak berhenti. Ini dinyatakan kepada Editor-in-Chief The Editors Club, Hessy Aurelia, dalam sebuah bincang virtual singkat seusai show berlangsung. “It’s passion that keeps us going. I love my work, I love the people I am working with, I love the good values that my father taught me. I’m still a very optimistic girl. I always think that the best is in front of us. I think that all these make us keep going,” ucapnya.

Seperti yang ia nyatakan, optimismenya berlandas pada passion. Dengan hal tersebut pula ia menghadapi berbagai tantangan yang ada. Salah satunya adalah mengubah format live show menjadi presentasi digital. “ Trying to give the same emotion to the video was a challenge but I think it was super interesting,” ujar Sophie. Baginya, proses kreatif dalam menciptakan video tersebut telah membawanya kepada hal-hal baru. Ia mengatakan, “ I love it because I had to work with new people, met new team, new ways to work, thought differently. It was very exciting.

Sophie menyadari betul bagaimana teknologi digital mengubah realita mode. Ia mengakui bahwa di era ini, setiap orang yang memiliki akses pada alat komunikasi digital bisa memainkan peran sebagai pers atau media. Bahkan brand itu sendiri pun kini bisa berelasi langsung dengan konsumen secara luas berkat perkembangan teknologi digital. “I like the idea and I think it’s very cool and it’s important,” jelas Sophie perihal teknologi digital yang memungkinkan brand untuk membangun relasi langsung dengan konsumen.

Meski demikian, ia tetap melihat peran pers atau media tetap penting. Terkhusus di bidang mode, menurut Sophie fashion press mampu menyuguhkan cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Di tengah membanjirnya informasi mode dari siapa saja yang memiliki perangkat digital, fashion press di mata Sophie dapat membuka jalan untuk mereinterpretasi kreasi-kreasi yang disuguhkan sehingga tiap orang pun dapat tergugah untuk meracik kreativitasnya sendiri. “I like the idea that everyone reinterpret and create their own looks,” ungkapnya.