A vegan aromatherapy candle.
Sebuah kolaborasi menarik tercipta antara Sejauh Mata Memandang dan ALAMÍ dalam rupa vegan aromatherapy candles bentuk ayam nan khas. Rooster candle ini merupakan tribute kepada ilustrasi familiar yang biasa ditemukan pada mangkuk mie ayam ataupun objek-objek lain di Indonesia dan umumnya negara-negara Asia Tenggara. Lilin tersebut terbuat dari bahan alami berbasis tumbuhan, yakni kedelai dan kelapa. Sumbu katunnya berbahan material daur ulang dan bersifat biodegradable. Aromanya lembut dan menenangkan dari perpaduan basil, bergamot, jeruk, dan kayu cendana.
Dalam setiap langkahnya, Sejauh Mata Memandang konsisten untuk menggali kekayaan budaya Nusantara maupun mengangkat isu-isu lingkungan yang menggugah keresahan. Pada perhelatan Jakarta Fashion Week 2026, Chitra Soebijakto melalui label Sejauh Mata Memandang mempresentasikan koleksi bertajuk Larung yang lahir dari keresahannya akan kondisi laut yang kian tercemar. Aktris muda, Widuri Putri menjadi peraga pembuka mengenakan paduan kemeja sailor, kamisol dan wrap skirt dengan motif biota laut seperti ikan pari, hiu dan ombak. Ada pula cape top juga bra rajut berbentuk bintang laut dan kerang yang dipadu material denim.
Selain Sejauh Mata Memandang, Cita Tenun Indonesia juga mengolah khasanah budaya Indonesia di Jakarta Fashion Week 2026. Organisasi tersebut berkolaborasi dengan beberapa figur desainer dalam judul “Liminal”. Label Moral, sebagai salah satu kolaborator menyuguhkan koleksi bertajuk “Moral/Tempo”. Koleksi ini mengolah tenun Lombok ke dalam gaya streetwear bernuansa punkish. Hasilnya adalah cropped jacket yang dipadu mini skirt dengan aksen metal studs, atau celana wide denim. Tampil seduktif, kreasi olahan tenun juga hadir dalam potongan bra berpadanan coat aksen metal studs. A fearless way to re-contextualises the tradition.

Kolaborator lainnya adalah Wilsem Willim yang memilih untuk menafsir ulang kreasi Tenun Dayak Iban dari daerah Putussibau, Kalimantan Barat. Ia menghidupkan sekaligus meredefinisi spirit kain tersebut dilakukan lewat inspirasi busana militer yang tangguh. Ragam crop jacket mendapat sematan teknik cording khas militer dipadu dengan payet logam dan koin perak sehingga memunculkan kesan tribal eklektik. Ujung kain juga mendapat sentuhan makrame yang menciptakan kesan architectural nan tegas.
Sementara itu, di perhelatan yang sama, Susanna Perini selaku pendiri dan creative director Biasa berbicara tentang kemampuan menemukan keseimbangan dan menumbuhkan optimisme melalui koleksi bertajuk “Believe”. Dirangkai dalam 7 babak, masing-masing tahap memiliki pesonanya sendiri. Babak awal menampilkan warna wasabi green dalam craft treatment yang membumi. Ada pula babak semangat dan keberanian yang menampilkan dress gradasi oranye dalam teknik hand-cut braided fringe. Koleksi ini juga merayakan fluiditas dengan hadirnya kreasi menswear dan unisex yang mengalir dalam identitas dan keyakinan.