Saptodjojokartiko Spring/Summer 2020, As The Designer Leaves His Comfort Zone

Showcasing the experimental side of Sapto.

 

Masih dalam suasana perayaan 74 tahun kemeredekaan Indonesia, Hotel Indonesia menggelar rangakaian acara bertajuk Kalā – Capturing Indonesian Artistry untuk memperingati 57 tahun pendiriannya sejak diresmikan oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1962. Sebagai puncaknya adalah peragaan busana tunggal Saptodjojokartiko Spring/Summer 2020 yang dihelat pada Selasa 20 Agustus 2019 di ruang bersejarah Bali Room – ballroom pertama yang dibangun Indonesia.

Pada ke sekian kalinya desainer yang akrab disapa Sapto itu menghelat fashion show tunggal, crowd yang hadir menjadi cerminan credential perjalanan karirnya yang belum lama ini melewati dekade pertama. Malam itu, A-list fashion insiders – termasuk di antaranya wajah-wajah tenar layar kaca maupun layar lebar – menempati row kursi dengan pemandangan deretan piramida kaca di tengah runway. Tiba waktunya tata lampu bermain dan musik racikan DJ Jonathan Kusuma menghentak, mata tetamu mulai bergerak mengikuti arah langkah para model. Hal pertama yang muncul di benak: is this Sapto’s?

Wisik: Bisikan Batin

Mengolah eastern culture, atau lebih khusus lagi budaya Nusantara, menjadi karya busana bukan hal asing bagi perancang lulusan Esmod ini. Kerap kali intensitas eksotika dan mistikalitas elemen-elemen kultural tersebut termanifestasi dalam satu bentuk interpretasi baru yang melebur bersama garis-garis desain khas Sapto. Kini yang menjadi kejutan dalam koleksi terbarunya adalah bergantinya fusion formula itu menjadi skema jukstaposisi dimana intensitas citarasa tradisional Indonesia yang mewujud pada motif-motif wayang kulit secara jelas dan kontras bersanding dengan siluet dan potongan modern.

Di balik hasil akhir yang surprising itu adalah kisah Sapto kala pulang kembali ke kampung halamannya di Solo. Pertunjukan wayang yang ia nikmati menghantarkannya pada sebuah pengalaman apresiatif atas keindahan seni yang pada November 2003 diakui UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Bak menerima wangsit, desainer dengan cara bicara lembut khas masyarakat Surakarta ini terdorong untuk mendesain koleksi berbahan inspirasi keindahan wayang. Sebanyak 57 looks pun tercipta dalam koleksi yang diberinya judul Wisik, kata Sanskerta yang berarti bisikan batin.

Entah sehalus apa bisik yang didengarnya, terbukti pengaruhnya cukup kuat untuk mendorong Sapto keluar dari comfort zone – seperti diakuinya dalam press conference. Warna-warni nan vibrant – yang bukan hal lazim dari seorang Sapto – menjadi bagian cukup signifikan dalam koleksi yang juga menyertakan rancangan-rancangan kental berkarakter Eropa maupun yang berpalet netral. Terlepas dari bagaimana nantinya sambutan kosumen, keputusan Sapto untuk mengaplikasikan pendekatan-pendekatan berbeda dari koleksi ke koleksi, bahkan yang menembus batasan-batasan area kenyamanannya, membuktikannya sebagai desainer dengan sartorial spirit dan sartorial value yang genuine; yang olehnya kebutuhan bisnis bukan menjadi pemusnah kreatifitas melainkan kesempatan untuk menantang diri bereksplorasi dan berevolusi yang mungkin akan mendatangkan peluang-peluang baru.

The inspiration behind his latest collection might come soft as a whisper, yet the outcome shout loudly on how a designer should preserve the soul of fashion.