Showcasing the golden era of the “non-block” art community.
“Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu” menjadi pameran terakhir Komunitas Salihara Arts Center di 2025. Berlangsung hingga 7 Desember di Galeri Salihara, eksibisi ini mengulas karya-karya komunitas seni Sanggarbambu yang didirikan pada pada 1 April 1959 di Yogyakarta dan bereksistensi hingga 1980-an pada masa ketika Indonesia tengah dilanda dinamika sosial dan politik yang intens.
Komunitas ini muncul dari dorongan para seniman muda yang ingin membuat seni hadir di tengah kehidupan masyarakat. Di bawah arahan Soenarto Pr., sanggar ini berkembang menjadi ruang kreatif sekaligus pernyataan tentang bagaimana seorang seniman Indonesia seharusnya mengambil posisi di tengah tekanan ideologi dan keterbatasan ekonomi negara yang baru merdeka.
Memasuki dekade 1950–1960-an, lanskap seni Indonesia tak dapat dilepaskan dari atmosfer politik yang menguat. Pemerintah sedang merumuskan konsep “Demokrasi Terpimpin”, sementara dunia kebudayaan terseret dalam kontestasi dua kekuatan besar: PKI lewat Lekra, yang pengaruhnya menguat hingga 1965, serta kelompok-kelompok berbasis agama yang membentuk berbagai sanggar dan organisasi seni seperti Lesbumi di bawah naungan Nahdlatul Ulama.
Di antara tarik-menarik itu, Sanggarbambu mengambil posisi yang tidak biasa untuk zaman tersebut: menempatkan diri sebagai wadah yang nonpolitik, independen, dan nonpartai. Sikap ini bukan sekadar upaya menjaga jarak, melainkan keyakinan bahwa seni harus berdiri bersama nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan rakyat, tanpa terperangkap pada kepentingan politik mana pun.
Sikap itu tercermin jelas dalam rangkaian kegiatan yang mereka selenggarakan. Sanggarbambu rajin mengadakan pameran keliling ke berbagai kota – dari Semarang, Pekalongan, Tegal, Madiun, hingga Madura – dengan cara yang sederhana, kadang hampir seperti bergerak secara “gerilya”. Keterbatasan dana tak pernah menjadi penghalang; yang utama bagi mereka adalah menjangkau masyarakat di luar pusat-pusat kebudayaan.
Pameran yang mereka hadirkan biasanya diperkaya dengan ceramah seni, demonstrasi melukis, lomba menulis, hingga pertunjukan teater. Bagi Soenarto Pr. dan rekan-rekannya, semua kegiatan ini merupakan bagian dari “mission sacre”, sebuah misi suci untuk menumbuhkan apresiasi estetika sekaligus memperkuat rasa cinta pada tanah air.
Sanggarbambu mengembangkan tradisi melukis figuratif dan ekspresif sebagaimana yang juga dilakukan seniman-seniman generasi sebelumnya, serta membuka jalan bagi seni lukis dekoratif dan ilustratif di Indonesia yang menjadi marak di 1970-an. Seni lukis modern ala ‘Barat’ berpadu dengan objek atau ornamen tradisional/kerakyatan. Hasilnya adalah seni lukis dekoratif yang unik di antara kelompok seniman sezaman.
Kurator Galeri Salihara, Asikin Hasan, menjelaskan bahwa pameran “Di Sini Aku Temukan Kau” menghadirkan karya dan arsip dari era keemasan Sanggarbambu di masa aktif mereka pada 1950 hingga 80-an. “Lebih dari setahun tim pameran ini mengumpulkan arsip-arsip terserak dari berbagai media cetak di masa itu yang merekam praktik dan suasana kehidupan sanggar-sanggar dengan segala romantikanya. Melalui media itu pula dapat dibentangkan bahwa, Sanggarbambu berkarya dengan kecenderungan senyap, tanpa berteriak-teriak anti ini dan itu.” terang Asikin.
Karya-karya yang ditampilkan berasal dari anggota Sanggarbambu periode awal. Di antaranya adalah: Danarto, Darmadji, Handogo Soekarno, Irsam, Kuswandi, Mulyadi W., Muryoto Hartoyo, Soeharto Pr., Soenarto Pr., Supono Pr., Suwartono, Syahwil, dan Titis Jabaruddin. Lebih dari 40 lukisan cat minyak serta puluhan arsip dan sketsa dari anggota Sanggarbambu dalam periode emas mereka dapat dilihat di eksibisi ini.