Retrospeksi 40 Tahun Berkarya Ghea Panggabean dalam Sebuah Buku

Her colourful journey on pages. 

 

“Life is like a rainbow,” tutur Ghea Panggabean. Pernyataan tersebut tentu terlihat pada karya-karya sang desainer yang lekat dengan pesona wastra nusantara bernuansa colorful. Yang terbaru, Ghea memunculkan sparks selama 40 tahun berkarya dalam warna-warni tersebut melalui  peluncuran buku perdana bertajuk “Asian Bohemian Chic” terbitan Rizzoli. 

Hadir setebal 320 halaman dan diterbitkan oleh Rizzoli New York, buku terbaru Ghea Panggabean adalah retrospeksi karyanya di industri fashion. Buku tersebut membawa pembaca kembali ke era 1980-an, dimana Ghea memulai kariernya dengan mengeksplorasi kain lurik. Ghea yang mengenyam pendidikan di Lucie Clayton College of Dress Making dan Chelsea Academy of Fashion di London kerap terinspirasi oleh gaya bohemian, yang kemudian menjadi signature style sang desainer di setiap karyanya. 

Ghea berinovasi untuk membuat wastra nusantara wearable. Di awal tahun 90-an ia menerjemahkan motif seperti Tikar Kalimantan, Wayang Beber, hingga Motif Gorga khas Batak dalam eksplorasi material variatif dimulai dari katun, silk, velvet dan kasmir. Melalui koleksi-koleksinya hingga kini, Ghea membuktikan bahwa wastra nusantara mampu tetap relevan menembus zaman.

Buku ini turut menampilkan sisi personal Ghea, contohnya mengenai kegemarannya mengoleksi barang vintage dan kain-kain tradisional. Terlampir pula momen dimana kreasinya pernah dikenakan oleh nama-nama pesohor seperti Julia Roberts hingga mendiang Lady Diana. Popularitas Ghea di kancah internasional, hubungannya dengan dua putri kembarnya Amanda dan Janna, juga kumpulan foto-foto editorialnya yang terkurasi dapat Anda temukan pula di buku ini.

Ghea yang lahir di Rotterdam 25 Februari 1955 dan berdarah campuran Indonesia-Belanda ini berharap bukunya bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk bisa mencintai wastra nusantara. “Kekayaan Indonesia adalah sesuatu yang bisa dieksplorasi tanpa akhir,” ungkap Ghea.