Rangkai Harum Buket Bunga Personal dengan Chloé Atelier des Fleurs

Create your own flower bouquet.

 

Bunga selalu mampu memperkaya inspirasi penciptaan sebuah wewangian. Chloé juga punya cerita tersendiri perihal bunga dan fragrance; and it’s like a book of flower bouquet. Buket bunga mungkin sudah cukup lazim mengilhami kreasi parfum, namun Parisian maison yang lahir di era 50’an ini punya pendekatan berbeda dalam menghadirkan Atelier des Fleurs.

Alih-alih mengreasikan satu parfum beraroma sebuah buket bunga, Atelier des Fleurs disuguhkan sebagai belasan individual perfumes yang bisa di-layer sesuai keinginan Anda. Bayangkan tiap jenisnya seperti komponen-komponen terpisah flower bouquet yang bisa Anda rangkai sendiri sesuai selera. Hal spesial lain tentang Atelier des Fleurs adalah proses pengkreasiannya melibatkan perfumers berbeda-beda. Tak sekadar memformulasi tiap fragfrance berdasarkan estetika olfactory, tiap perfumer mendasarkan kreasi parfumnya pada sebuah cerita personal kehidupannya.

Freshly arrived in Indonesia are the 15 perfumes (with the up coming of 2 latest ones in the future). Tiga terbaru di antara 15 wewangian itu merupakan all-natural fragrance yang terbuat dari 100% natural ingredients serta memanfaatkan responsibly grown flowers. IRIS karya Steve Guo tercipta karena terpesonanya sang perfumer melihat bunga tersebut di Atlas Mountains, Maroko. Philippine Courtière meracik NARCISSUS POETICUS lewat memori bahagianya kala berjalan di Jardin du Luxembourg bersama neneknya saat musim semi. Selanjutnya adalah YLANG CANANGA ciptaan Serge de Oliveir yang punya kenangan berkesan tentang bagaimana bunga ylang-ylang dipetik secara ritmik di Pulau Nosy Be, Madagaskar.

Keduabelas varian perdana dari Atelier des Fleurs pun punya kisah yang tak kalah menarik. Pada koleksi ini perfumer Quentin Bisch menyumbang 3 kreasi. Yang pertama beranjak dari ingatan akan momen ayahnya menghadiahi sang ibu dengan seikat cabang-cabang pohon. Childhood story nan romantis ini menginspirasi penciptaan varian CEDRUS. Masih terkait keluarga, flashback images tentang bagaimana ibundanya berjalan di kebun sambil menggenggam lavender muncul di kepala Bisch sebagai inspirasi LAVANDA. Olah kreativitas lain darinya adalah VANILLA PLANIFOLIA yang idenya bersumber dari proses Bisch mengetahui bahwa vanilla merupakan hasil ekstrasi bunga anggrek.

Bagi Amandine Clerc-Marie, pengalaman semasa remaja menemukan mimosa bermekaran di perbukitan Grasse menjadi ilham di belakang kreasi HERBA MIMOSA. Selain kreasi tersebut, ia juga menghadirkan sebuah kreasi lain di rangkaian Atelier des Fleurs, yakni ROSA DAMASCENA. Parfum ini terinspirasi dari kelopak-kelopak mawar di kebun keluarganya dahulu. Perfumer Louise Turner juga membuat 2 jenis wewangian di koleksi ini. ASMINUM SAMBAC adalah hasil kreasinya mengolah berkas kenangan Hari Ibu di Bangkok di mana ia memberikan hadiah bunga melati putih. Sedangkan MAGNOLIA ALBA terilhami hari-hari cerah yang dilaluinya di Inggris.

Cerita 5 perfumer lainnya juga bergerak seputar memori-memori hangat. Saat kecil, Alexis Dadier menerima papyrus yang berhias hieroglyphs dari kakeknya sebagai suvenir dari Mesir. Beberapa tahun setelahnya, ia kembali ke sana, mengarungi Nil, dan terpukau dengan wangi tetumbuhan papyrus di sungai itu. Inilah yang mendorongnya untuk menciptakan varian PAPYRUS. Travel experience sebagai sumber inspirasi juga dialami oleh Sidonie Lancesseur yang menciptakan NEROLI. Untuk interpretasi ini, ia kembali mengenang perjalanannya ke Seville dan menghirup aroma orange blossom nan warm.

Di formula HIBISCUS ABELMOSCHUS ada jejak ingatan kanak-kanak Domitille Michalon Bertier akan kebunnya yang berhias bunga hibiscus. Hal serupa juga melatarbelakangi VERBENA karya Mylène Alran yang terinspirasi kisah kecilnya mengusap tanaman itu dari kebun orangtuanya agar wangi sepanjang hari. Terakhir adalah kreasi Atelier des Fleurs dari Betty Busse yang punya background story cukup berbeda. TUBEROSA adalah nama baru yang disematkan pada kreasi senior perfumer tersebut yang rilis pada tahun 1974 sebagai parfum perdana Chloé. For sure it reflects the scent of tuberose, its various facets to be exact.

After knowing the stories behind each creations, it’s the time to create yours. Tentu sah saja bila pada suatu waktu Anda hanya ingin menggunakan satu jenis kreasi untuk tampil dengan aromatic simplicity. Just don’t  forget that you have  plenty of scent combinations you can create by yourself as you like. So, be playful to make your own fragrance bouquet. Atelier des Fleurs dari Chloé resmi memasuki Indonesia dengan pilihan ukuran 50 ml dan 150 ml untuk tiap jenisnya.