Potret Kemanusiaan dalam “Teater” Agus Suwage di Museum MACAN

More than just self-portraits.

 

“Saat SMA, saya mulai tahu Vincent van Gogh dan Salvador Dali,” ucap Agus Suwage beberapa waktu lalu kepada The Editors Club jelang pembukaan pameran tunggalnya di Museum MACAN yang berlangsung hingga 16 Oktober 2022. Poin dari kisah personal yang ia sampaikan kala itu dalam balutan short sleeves shirt hitam dengan beberapa tato di lengannya terpampang ialah bahwa ketertarikannya terhadap seni sudah hadir sejak muda meski latar belakang keluarga tak berkaitan dengan bidang tersebut. “Pedagang biasa,” infonya.

Passion for art di diri Suwage itu – yang tak difasilitasi maupun tak dilarang oleh orangtuanya – nyatanya kian berkembang begitu kuat sehingga bahkan latar pendidikan dan profesi awal yang bukan seni murni pun tak mampu menghentikan jalan hidupnya yang beralih menjadi seniman. Kesenangan masa kecilnya dalam menggambar, kemenangannya pada lomba-lomba lukis antar kabupaten saat duduk di bangku sekolah, pilihannya membeli buku-buku tentang lukisan alih-alih buku graphic design yang merupakan program studi kuliahnya di Institut Teknik Bandung, hobinya melukis yang tetap dijalani sembari menekuni kerja desain grafis, also his steps in changing career according to his artistic calling, telah menghantarnya menjadi sosok Suwage yang sukses sebagai seniman tanah air.

 

“Saya selalu ambil sikap, saya tidak bisa disetir, saya tidak mau disetir.”

 

Perjalanannya menuju dunia seni memang tidak mengikuti garis lurus namun ia tak menyesali hal tersebut. Seniman kelahiran Purworejo tahun 1959 ini mengaku ilmu desain grafis yang ia pelajari di perguruan tinggi juga berguna pada praktik seninya (seperti pada penggunaan huruf dan angka pada lukisan-lukisan). Bahkan sosok yang waktu luangnya diisi dengan bersepeda ini bersyukur tidak menempuh pendidikan formal seni murni. Ia mengatakan bahwa mungkin karena dulu tak belajar tentang pakem-pakem teoretis lukis yang mainstream, dirinya bisa bebas dalam mengeksplorasi ragam metode dan materi dalam melukis. Contohnya dalam hal warna, Suwage tak terpaku pada penggunaan materi umum seperti cat minyak atau cat air. Ia bisa memanfaatkan kopi hingga tembakau sebagai bahan pewarnaan lukisan.

Keahlian Suwage di wilayah desain grafis juga membantunya menambah penghasilan lewat kerja freelance saat periode awal ia beralih menjadi seniman penuh waktu. “Memilih jalan hidup sebagai seniman itu berat sekali, harus berani miskin,” ucap sosok yang sebelum jadi full time artist bekerja di advertising company Jepang dan kemudian mendirikan perusahaan grafis sendiri bersama kawan-kawannya namun tanpa rasa kepuasan batin di keduanya. (it’s when he was working in the field of graphic design and displayed his artworks in the office that curator Jim Supangkat who saw it then asked him to join an art exhibition in Netherlands through which his confidence to become a full-time artist became stronger; terlebih ketika ia tahu bahwa salah satu karyanya laku terjual di sana).

Melalui tantangan-tantangan yang ia hadapi dalam melakoni profesi sebagai seniman, Suwage kukuh mempertahankan prinsipnya. “Saya selalu ambil sikap, saya tidak bisa disetir, saya tidak mau disetir,” ungkapnya lugas. Yang diutamakannya adalah ruang bebas dalam berkesenian. Ia tak mau dipaksa untuk terus mengerjakan tema koleksi yang sama hanya karena itu laris. Tak peduli juga ia dengan arahan galeri-galeri padanya untuk tak menggunakan media kertas karena sulit laku. Bahkan untuk pesanan-pesanan khusus pun Suwage tetap mengharuskan dirinya punya kebebasan berkreasi. Akan tetapi, ia tak mau menghakimi sikap para seniman lain yang berbeda pandangan dengan dirinya. Termasuk soal menjual karya via balai lelang. Pantang bagi Suwage memberikan karyanya untuk dilelang auction house karena menurutnya harganya jadi “tidak natural”. “Supaya tidur saya nyenyak dan mereka tidak semena-mena pada saya,” jelas Suwage yang berkeinginan untuk terus jadi seniman hingga masa mendatang.

Theater of Suwage: Bitterly Critical
Usai sesi wawancara, Suwage turut turun ke area pameran untuk difoto bersama beberapa karyanya sembari memberi sedikit penjelasan tentang karya-karya tersebut. Baik yang self-portrait maupun yang lainnya. Meskipun di pameran ini banyak artworks ciptaannya yang bukan berkategori potret diri, rangkaian kreasi dengan wajah Suwage sebagai titik sentralnya menjadi magnet tersendiri. Khususnya art pieces dari genre itu yang tak bersifat self-referential. Dalam karya-karya tersebut, Suwage menjadi aktor. Apa yang diperankannya? Ia memerankan tokoh abstraksi manusia dalam berkehidupan; narasinya adalah kritik terhadap kondisi kemanusiaan. It is in this sense that Suwage’s self-portrait can be viewed as a “theater”.

“Di sini kan saya berakting jadi orang lain, jadi benda. Seperti manusia yang bisa berubah-ubah, tak punya jati diri sebagai manusia seutuhnya. Segala cara dipakai untuk menangnya sendiri. Itu bentuk kritik saya,” tutur sang seniman mengenai “Potret Diri dan Panggung Sandiwara” (2019) yang terpajang luas di dinding berisi 60 potret diri bernapas avant-garde – dari kepalanya yang diganti dengan rantang makan, mengenakan kopiah, disematkan cermin, hingga the poop illustration. Dijelaskannya bahwa artwork itu adalah hasil pengamatannya akan situasi perpolitikan para politisi Indonesia saat ini. “Terus terang saya muak dengan dunia politik yang banyak hypocrisy,” tambahnya.

Proses kreatif dibalik karya-karya “teater” Suwage juga menarik untuk diketahui. Untuk membuat karya “Super Omnivore #4” (2016) di mana falsafah Mahatma Gandhi dikutip  – “This planet can provide for human need but not for human greed” – Suwage memotret dirinya terlebih dahulu yang secara nyata memakan katak dan selada. “Saya sampai muntah-muntah sehabis itu. Istri saya yang motret,” kenangnya sambil diikuti tawa (and so did we, lol). “Menggambarkan keserakahan, bahwa manusia itu tak pernah puas, makan apa saja untuk menekan yang lain, membunuh yang lain, membunuh alamnya,” ungkapnya mengenai lukisan tersebut. Akan tetapi dengan rendah hati, ia pun memposisikan dirinya secara simultan pada karya-karya self-portrait ciptaanya sebagai wujud self-reflection. “Saya pakai wajah saya sendiri, saya mau mengkritik orang lain tapi juga untuk refleksi diri sendiri,” ucap Suwage.

Sore itu, perbincangan The Editors Club dan sang seniman tentang pemaknaan humanitas dalam karya-karyanya membawa kepada sebuah pertanyaan. Bagaimana Suwage sendiri melihat masa depan peradaban manusia setelah puluhan tahun ia mengobservasi dan mewujudkan perenungannya dalam bentuk-bentuk artistik. “Ya pesimis,” ujarnya jujur. Akan tetapi kalimat itu segera disambungnya dengan mengatakan, “Tapi selalu orang kan inginnya menuju yang baik, paling tidak buat diri kita sendiri. Makanya gambar saya yang struktur tangga itu juga sebenarnya cita-cita, angan-angan saya. Harapan menuju ke sana, ke yang ideal, walau kenyataannya sangat berat.” Karya yang ia maksud adalah “Putri Demokrasi” (1996) dengan sosok bayi perempuan besar perlambang harapan tampak melayang ke puncak arah cakrawala dan cahaya memancar di balik kepalanya (lukisan ini dibuat setelah kelahiran anaknya dari sang istri Titarubi dalam latar perpolitikan Indonesia tengah memanas sekaligus pergerakan mahasiswa yang membawa cercah cahaya menuju gerbang tatanan baru).

 

“Mungkin kita tidak akan mengerti kenapa dilahirkan lalu dewasa dan kemudian mati. Paling realistis, hidup buat saya perlu diisi dengan berbuat baik, tidak menyakiti orang lain.”

 

Citra murni dari bayi di lukisan itu begitu bertolak belakang dengan makna gambaran wajah Suwage yang bersimbah api pada “Potret Diri sebagai Nero #3” (2003). Tokoh historis ini kuat dikaitakan dengan rupa-rupa hal ekstrem dalam menyakiti manusia. “Manusia bisa ke arah situ gitu lho,” ungkap Suwage. Bagi seniman yang hobi bermusik dan penyayang hewan ini – sebagian karyanya terinsipirasi dan menyertakan elemen kedua hal itu – perbaikan kondisi kemanusiaan harus dimulai dari diri masing-masing. “Menurut saya menjadi manusia harus jujur sama diri sendiri. Itu utamanya dan menghormati orang lain juga alam,” ucap sosok yang menyebut dirinya juga menciptakan karya-karya dengan pesan membela orang-orang suku pedalaman karena dilihatnya lebih murni dibanding masyarakat modern nan penuh manipulasi. “Saya menghargai kemurnian.”

Apa yang keluar dari ruang refleksi seorang Suwage akhirnya bermuara pada keingintahuan tentang pandangannya perihal tujuan hidup manusia. “Buat apa ya hidup ini?” responnya gamblang tanpa terasa pretensius. Lanjutnya ,“Mungkin kita tidak akan mengerti kenapa dilahirkan lalu dewasa dan kemudian mati. Paling realistis, hidup buat saya perlu diisi dengan berbuat baik, tidak menyakiti orang lain. Tapi ini terlalu klise ya?” tawanya segera menyambut – and again he made us laugh too. Sesaat kemudian ia memberi penegasan bahwa memang itu yang menurutnya diperlukan dalam berkehidupan.  “Yang paling penting adalah menjadi diri sendiri tapi harus pakai kontrol, tidak menyakiti, tidak merugikan orang lain,” sambung Suwage (Anda bisa lihat gagasan sang seniman tentang toleransi pada banyak karyanya. Contohnya “Tembok Toleransi” (2012) yang melibatkan elemen suara adzan). Saat bicara tema tujuan hidup ini, tidak pernah ia mengaitkannya dengan kematian atau bahasan after-life. Entah adakah pemahaman filosofis di balik hal itu, yang pasti polos sang seniman membuat pengakuan “Tetap saja saya takut mati.”

Soal kematian di benak Suwage, karya-karyanya yang lebih banyak bersuara. Salah satunya adalah “Siklus #1” (2011) berupa tumpukan tulang-belulang manusia dengan burung-burung emas di permukaannya. Inspirasi instalasi ini adalah tradisi pemakaman langit di Tibet di mana jasad diumpankan kepada burung. Jelas ada pesan luhur bahwa alam kembali ke alam pada karya tersebut, namun juga ada latar miris di sana. Yakni ketimpangan tinggi antara kemiskinan dan kekayaan di Bangladesh yang dilihatnya semasa residensinya dahulu. Ilham visual burung di instalasi itu juga berhubugan dengan pemandangan gagak yang mengorek tumpukan sampah. Energi keprihatinan serupa akan kondisi sosial, ekonomi, hukum, hingga politik suatu masyarakat banyak dijumpai pada kreasi-kreasi di eksibisi “Agus Suwage: The Theater of Me”. Bahkan juga dalam satir terhadap dunia seni itu sendiri seperti tampil pada “Passion Play” (2009) yang mempertontonkan 6 patung merepresentasikan art dealer, kurator, serta kolektor di balik jeruji penjara.

Meskipun gloomy critics mendominasi isi karya-karyanya, rupa-rupa “bungkus” yang absurd, erotis, hingga jenaka pada karya-karya tersebut mampu membawa kekayaan pengalaman estetik dalam menikmatinya. Ditambah lagi dengan ragam cara penikmatan yang disajikan oleh Suwage lewat berbagai jenis kreasinya. Sebut saja “Social Mirrors #3” (2013) yang melibatkan audio, “Potret Diri sebagai Banaspati” (2003) dengan proyeksi bayangan, “DIY (Do it Yourself)” (2003) di mana Anda perlu melihat dari sebuah lensa, juga “Pressure and Pleasure” (1999) berupa tenda yang kala dimasuki Anda bisa melihat dinding dan atapnya penuh poster erotis. Percikkan “kesegaran” pun bisa terasa ketika berhadapan dengan karya-karya yang mereferensi seniman lain semisal “Fragmen Pustaka – After Raden Saleh” (2016) atau “King and Queen Jeff Koons” (2008).

As for our recommendation, you might want to stand a little longer to enjoy “100 Drawing dan 720 hari” (2012-2014). Karya ini bagai buku harian Suwage selama 2 tahun; begitu personal. Salah satu dari gambarnya menampilkan sepasang kekasih tanpa busana berpadu asmara dengan latar kalimat romansa. Sebagiannya berbunyi, “All I want is the best our lives my dear and you know my wishes are sincere…” – Suwage in his privately romantic life scene.