Philosophy of Oneness within Chic Creations of Iwan Tirta Private Collection

Seeing through Mataguru.

 

Ketiga kali Iwan Tirta Private Collection menggelar solo runway show – di venue sama: Fairmont Jakarta – kedalaman penggalian makna yang melatarbelakangi koleksinya tak sedikitpun berkurang. Secara esensial, ini poin unggul dari rumah mode yang telah mengarsipkan lebih dari 10.000 motif batik ciptaan sang maestro itu. Untuk koleksi 2020, kekentalan falsafah Jawa yang diangkat oleh creative director Era Soekamto direpresentasikan oleh rupa Pohon Hayat yang mengambil posisi sentral tata latar. Baik sebelum maupun sesudah berlangsungnya peragaan busana pada akhir November lalu, Era secara intens berbagi pemahaman mengenai simbolisasi Tree of Life melalui unggahan-unggahan akun Instagramnya.

Dijelaskanya bahwa dalam pewayangan, Pohon Hayat yang terlukis dalam wayang Kayon – wayang rupa gunung atau disebut juga gunungan yang menandai pembuka dan penutup satu babak – melambangkan manusia dan kehidupan. “As above so below” demikianlah formula hidup semesta beserta isinya yang Era gaungkan berulang-ulang; yakni bahwa totalitas alam raya bisa ditemukan dalam tiap-tiap diri manusia. Sama halnya dengan relasi wayang dan dalang itu sendiri. Dalang menjelma menjadi lakon-lakon wayang dan tiap lakon wayang yang berbeda satu sama lain sesungguhnya adalah satu: Sang Pendalang. Adalah tugas masing-masing individu untuk bisa menggali, menanam, dan menumbuhkan kesadaran akan hal tersebut. Ketika akar pemahamannya kuat, manusia juga akan bertumbuh menjadi pohon kuat dan menjulang mencapai Kesadaran Utama dimana perspektifnya dalam melihat realitas bukan lagi dari kacamata wayang melainkan sudut pandang Dalang atau Mata Guru.

Bertajuk ‘Mataguru’, lebih dari 35 looks yang merefleksikan interpretasi hidup tersebut disajikan kepada tetamu dalam 3 pembabakan, yang masing-masingnya terinspirasi oleh babak pertunjukan wayang. Yang pertama adalah Talu yang didominasi oleh motif Kekayon dan Pohon hayat dalam warna abu-abu. Selanjutnya adalah Adeg Jejer yang dominan menampilkan motif-motif Keraton, seperti Parang, Mangkuto, dan Gurdo, dalam palet cokelat khas batik Kraton (rancangan-rancangan di sequence ini sekaligus menandakan fase hidup Iwan Tirta yang mempelajari batik dari balik tembok keraton). Terakhir ada Adeg Sabrang dengan motif-motif yang mendapat pengaruh budaya Eropa dan China sebagaimana motif-motif batik pesisir dimana rupa bunga dan burung meriah dalam paduan warna-warna cerah. Motif-motif batik impresif karya figur bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja tersebut jelas akan selalu menjadi elemen “magis” dari koleksi-koleksi rumah mode ini. Identitasnya terbentuk bukan hanya dari makna dan estetika guratan-guratan tangan tapi juga sejarah sang maestro sendiri dalam mengukir namanya melalui seni batik. Oleh karenanya, koleksi Iwan Tirta Private Collection terus memancarkan nuansa elegant, regal, majestic, cultural, sekaligus philosophical.

Akan tetapi, khusus untuk koleksi 2020 ini, satu pujian patut juga dinyatakan kepada Era yang secara harmonis melakukan kontekstualisasi nan fresh atas motif-motif tersebut dengan menempatkannya pada permainan desain-desain bersentuhan chic serta playful tanpa mengorbankan luxury feel-nya. Selain itu, Era secara berani dan berhasil memberi nafas berbeda dari sebuah koleksi yang menyandang nama besar Iwan Tirta. Berbeda dengan koleksi-koleksi sebelumnya, terutama Dewaraja dimana opulensi nama brand dimanifestasikan secara intens melalui desain-desain berkarakter extravagant, Mataguru membalut kemegahan nama Iwan Tirta dengan suasana yang lebih subtle dan light namun tetap opulent. Contohnya adalah kombinasi kemeja pussy bow putih dan celana batik 3/4 dengan coat batik nan eksklusif. Ada pula collar dress bersentuhan Eropa dengan skema cocoon sleeves dari bahan tulle. Material tulle memang menjadi ingredient ajaib koleksi ini. Ragam pengaplikasiannya yang meradiasi feminitas yang chic mampu menghadirkan wajah berbeda dari olahan batik. Terkhusus ketika Era memutuskan untuk menjadikan sheer fabric tersebut sebagai layer luar dari rancangan-rancangan bermotif batik. Hasilnya memesona. Beberapa pieces lain dari koleksi yang memanfaatkan sutra satin dan sutra tenun ini juga menawan dalam siluet oriental.

Kesuksesan penciptaan dan penyuguhan koleksi Mataguru tentu tak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Sebagai bentuk apresiasi, peragaan mode ini pun dibuka dengan perkenalkan tim senior Iwan Tirta Private Collection, dimana beberapa di antaranya bahkan pernah bekerja langsung bersama dengan sang maestro. Usai pagelaran selesai, tetamu kembali ke area foyer berisi suguhan kuliner dan display tahap proses mencanting. Melalui display tersebut maupun pemutaran film pendek ‘Perjalanan Sehelai Kain’ di awal peragaan busana, para undangan fashion show ini kembali diingatkan bahwa batik bukan kain biasa. Ia adalah hasil cipta, rasa, dan karsa dimana falsafah dan estetika tertuang melalui keahlian dan kesepenuhhatian.

 

PS: Koleksi ready-to-wear Iwan Tirta Private Collection kini tersedia juga di JD.id.