Pentingnya Mengarahkan Otak ke Hal-hal Positif kala Pandemi

Think of hopeful thoughts.

 

Tak dapat dipungkiri bahwa situasi pandemi Covid-19 menimbulkan dampak mental. Kadarnya berbeda untuk tiap orang, yang bergantung pada banyak hal. Melansir halaman Harper’s Bazaar UK,  Kathleen Pike, Direktur Columbia-WHO Center for Global Mental Health, menjelaskan bahwa studi pandemi terdahulu menunjukkan dampak psychological distress bahkan bisa bertahan hingga 2 tahun setelahnya. Anda mungkin termasuk yang mempertanyakan apakah kita dapat “kembali” ke diri yang dulu sebelum terpapar oleh berbagai kekhawatiran ataupun stres terkait pandemi. Apakah otak yang mengatur emosi-emosi kita bisa melakukannya?

Otak merupakan merupakan organ dengan kemampuan neuroplasticity, dimana 200 triliun koneksi antara 86 milyar neuron dapat berubah untuk mengakomodasi situasi dan lingkungan baru. Dengan kata lain, otak secara konstan “berubah” sesuai kondisi yang dihadapi. Neuroscientist David Eagleman dari Standford University mengatakan, “You’re more than what you eat; you become the information you digest.” Ini adalah hal yang baik karena artinya ada ruang untuk otak tak terjebak dalam dampak pandemi. Cognitive neuroscientist Caroline Leaf menyebut bahwa kemampuan otak untuk beradaptasi sebagai healing force. “We’re not stuck with a Covid brain. We can direct the neuroplasticity in the direction we want through mind management,” jelasnya

Leaf menyarankan agar kita beralih dan fokus pada 3 hopeful thoughts untuk setiap pikiran negatif yang muncul dalam pikiran. Menurutnya, aksi tersebut akan menciptakan aliran healthy energy di otak dan meningkatkan gelombang theta yang bekerja layaknya healing boost. It changes the chemistry of the brain and also sends a message to your body…we respond incredibly well to one little boost of hope,” ucap Leaf. Seperti dipaparkannya, bila kita tidak mengelola dan mengarahkan perubahan otak dan pikiran, maka kita akan labil. Sementara itu, Pike menyatakan bahwa tantangan akibat pandemi juga bisa membawa efek bermanfaat, yakni post-traumatic growth. “It’s the hero’s journey when we live through extremely challenging and difficult times, and come out stronger than we were before,” ungkap Pike. So let your brain filled with hopes!