Paula Verhoeven Pandang Pentingnya Pengetahuan Diri

In dealing with haters and walking the way to success.

 

Pada September 2014, sebuah lagu bertempo 160 beats per minutes dirilis dan langsung muncul di puncak Billboard Hot 100. Bukan hal umum bagi sebuah lagu untuk bisa langsung berada di posisi nomor 1 daftar tersebut ketika perdana meluncur. Hingga kini pencapaian seperti itu dimiliki oleh hanya 22 lagu, termasuk di antaranya adalah “You Are Not Alone” (1995) dari Michael Jackson dan “Born This Way” (2011) yang dinyanyikan Lady Gaga. Dibuat dengan kunci G major, lagu Taylor Swift berdurasi 3 menit 39 detik ini memenangkan kategori Favorite Song di ajang People’s Choice Awards 2015. Pada Maret 2020 lalu, Recording Industry Association of Amerika memberikan sertifikasi Diamond pada lagu itu dengan penjualan mencapai 10 juta unit. The song is “Shake It Off” and it says “Haters gonna hate”.

Wajar saja bila lagu tersebut begitu populer. Substansinya yang berbalut video klip lucu terasa amat relevan dengan kehidupan masyarakat era internet, dimana seseorang – terlebih bintang industri hiburan – bukan hanya bisa tersanjung dengan tuaian likes dan pujian di kolom komentar akun media sosialnya, tapi juga berisiko mengalami depresi akibat kejamnya jempol netizen. Seseorang yang memilih jalur karir di bidang penuh sorotan publik sudah harus sepenuhnya sadar dengan fenomena semacam itu. But human is human. Tak peduli sudah berapa lama seorang selebriti berkecimpung di wilayah showbiz dan seberapa matang pemikiran maupun sikapnya dalam menghadapi haters, rasa tersakiti hingga bahaya mental illness yang lebih serius akibat serangan barisan pembenci bisa muncul.

Paula Verhoeven, sosok model mode papan atas Indonesia yang kini beralih menggarap konten-konten YouTube keluarga bersama Baim Wong suaminya, punya cerita tersendiri. The Editors Club mendengarkannya kala ia tengah melakukan proses makeup untuk syuting campaign Louis Vuitton di Hutan Kota by Plataran beberapa waktu lalu. “Ternyata haters sampai sebegitunya,” kisah Paula mengenang masa-masa jelang pernikahannya dengan Baim dimana matanya jadi lebih terbuka akan seintens apa aksi para haters dapat terjadi. Menurutnya, saat dulu aktif berkarir di dunia modelling, ia tak menghadapi level praktik haters yang seperti itu; berbeda dengan ketika ia mulai semakin dekat dengan industri entertainment juga dunia YouTube.

“Yang lebih tahu diri kita adalah kita sendiri.”

 

Salah satu pengalaman terkait haters yang membekas di memorinya adalah saat dulu akan menikah dengan Baim – kala aktor tersebut diketahui publik tengah mempelajari agama secara lebih mendalam – banyak gerombolan yang menyerangnya terkait cara berpakaian yang dinilai terlalu terbuka. Sosok berdarah campuran Belanda-Tionghoa dan Jawa ini mengaku cukup terkejut dengan ulah haters yang seperti itu, namun ia memilih untuk tidak meladeninya. “Tidak pernah aku tanggapi,” ucap Paula. Sejauh ini, karena di matanya tak ada gangguan signifikan yang muncul dari ulah haters, ia merasa biasa saja. Hanya saja dirinya cukup kaget dengan “kegigihan” para haters dalam mencari informasi. Ujarnya, “Aku cukup amaze bahwa mereka bisa cari informasi sampai benar-benar dikulik.”.

Dalam menghadapai ujaran-ujaran haters yang datang kepadanya di dunia maya, Paula berdiri di atas sebuah keyakinan akan sebuah konsepsi. “Yang lebih tahu diri kita adalah kita sendiri dan orang-orang terdekat, seperti keluarga” ungkapnya. Dengan kata lain, untuk seorang Paula, apapun yang haters lontarkan kepadanya tidak punya signifikansi substansial terhadap bagaimana ia melihat diri dan kehidupannya. Substansi atau isi perkataan haters tidak dibangun atas pengetahuan yang cukup tentang dirinya dan kehidupannya; berbeda tentu cakupan pengetahuan Paula akan dirinya sendiri dalam menjalani kehidupannya maupun cakupan pengetahuan orang-orang terdekat mengenai dirinya. Jika demikian, lantas apa perlunya memusingkan celoteh haters yang dilandasi oleh banyak ketidaktahuan? She generated that inference by simply saying, “Jadi orang mau bicara apa terserah.”

Paula Verhoeven along with Luna Maya and Nagita Slavina for TEC x Louis Vuitton.

Higher Step of Modelling Career
Terlepas dari bagaimana dinamika tingkah laku fans ataupun haters di jagad virtual, bagi Paula kegiatan memproduksi konten-konten YouTube adalah hal baru yang memberi manfaat-manfaat baru. “Ini sesuatu hal yang baru. Aku harus belajar lagi. Untungnya aku di-support sama suami aku. Jadi sebenarnya YouTube buat latihan aku juga untuk berani bicara, berani lebih tampil,” tutur figur yang semasa awal membangun karir modelling memenangkan ragam kompetisi, contohnya  Elite Model Look Indonesia 2003.

Kini kegiatan ibu dari Kiano Tiger Wong ini memang lebih fokus di platform video YouTube dan program-prrogram televisi. Sementara untuk modelling memang tidak seaktif dulu karena pertimbangan waktu kerjanya yang panjang. Sesekali ia tetap ikut turun ke runway bila ada desainer yang memintanya. Meski mengaku menyukai dunia YouTube dan modelling dengan perbedaannya masing-masing, Paula menyatakan bahwa modelling yang merupakan profesinya sejak lama tak bisa dilupakan begitu saja. Dengan berubahnya fokus kegiatan dan konsiderasi perihal waktu kerja, penggemar Gisele Bündchen ini lebih memilih aktivitas modelling yang waktunya lebih bisa diatur, seperti menjadi model untuk pemotretan.

“Kita harus mencari tahu strong point diri, bukan selalu melihat kekurangan atau membandingkan diri dengan orang lain.”

 

Perjalanan modelling dari sosok yang menikahi Baim Wong pada tahun 2018 ini memang belum berakhir. Kini Paula bahkan telah menapaki suatu fase baru dimana ia berbagi pengalaman yang telah dikenyamnya di catwalk melalui Supermodels Project, yang ia dirikan dan garap bersama Dominique Diyose, Laura Muljadi, dan Kelly Tandiono. “Kita tergugah untuk berbagi ilmu,” Paula menyebut motif mendasar dibalik kehadiran lembaga edukasi non-formal bidang modelling dan pengembangan diri tersebut. Merujuk halaman resminya, Supermodels Project tak hanya memberi pelajaran bidang modelling, tapi juga mengenai stylingmakeup, public speaking, acting, hingga photography. “Di sana ketemu kita juga yang bisa langsung sharing; yang sudah pernah terjun ke dunianya,” ia menjelaskan.

Untuk mereka yang antusias ingin melangkah dan meniti karir sebagai model, Paula menekankan bahwa kemauan untuk belajar, disiplin, serta attitude yang baik adalah hal yang perlu untuk dimiliki. Juga disebut olehnya perihal pentingnya mindset. Mengenai hal tersebut, ia mengatakan, “Kita harus mencari tahu strong point diri, bukan selalu melihat kekurangan atau membandingkan diri dengan orang lain.” (Sebuah pandangan yang relevan untuk diterapkan bukan hanya dalam kehidupan profesional tapi berbagai aspek kehidupan secara menyeluruh). Menutup perbincangan, ibu yang mengungkap tak memakai jasa baby sitter ini mengatakan bahwa untuk saat ini dirinya ingin fokus menjalani apa yang tersedia di hadapannya. And the best for the last, she revealed her wish to have another child  : )