Colourfully “green”.
Visit her Instagram and you’ll see the cheerful playful face of fashion. Yes, that’s how Diana Rikasari has always been. However now she is all about recycling and upcycling too – as well as self love and mindfulness. Semua ini ia tuangkan secara produktif melalui beberapa label mode maupun buku yang ia buat. Beberapa waktu lalu, The Editors Club sempat melakukan wawancara singkat tentang fashion upcycling dengan fashion figure asal Indonesia yang kini menetap di Swiss bersama keluarganya.
Apa yang menjadi konsiderasi ketika pertama memutuskan untuk melakukan upcyling?
Sejak kecil, saya selalu ingin belajar cara menjahit dan membuat pakaian sendiri. Kesempatan itu baru saya miliki sekitar 2 tahun lalu. There is joy in creating something from your own hands, knowing that each little detail was made by you no matter how imperfect it might be. Saya mulai melakukan upcycling sejak pandemi melanda di awal 2020. Saat itu sangat sulit untuk mendapat bahan kain dan material lain karena lockdown sehingga semua supply shops ditutup. Saya mulai menggunakan apapun yang saya punya atau dapat saya temukan di rumah; dan saya menyadari bahwa bahkan lebih exciting untuk challenge diri saya sendiri dengan cara tersebut: creating from nothing new, assembling broken pieces, reimagining the old. I never looked back ever since.
Apa tantangan dalam menciptakan upcycled clothings?
Upcycling adalah hal yang sangat bagus karena hal tersebut jelas merupakan salah satu cara terbaik untuk mendesain secara sustainable. Hal tersebut sekaligus juga lebih menantang karena memang lebig sulit untuk menciptakan sesuatu yang baru dari hal yang sudah ada sebelumnya, but that’s where the fun lies.
Show us your favourite work.
I love my handbags that I made out of old shoes. I also love my dresses made out of random secondhand homeware textiles.

Di mana biasanya mengumpulkan kain-kain untuk diubah menjadi upcycled clothing items?
Instead of planning and developing a design first, I work the opposite. Saya suka melihat apa yang ada di sekitar saya, mengunjungi thrift shops maupun secondhand shops, bertanya pada teman apakah mereka punya sesuatu yang tak lagi dipakai, dan selanjutnya mulai bekerja dari hal-hal itu. My designs are based on what materials I can get in my hands. I improvise as I go.
How does nature inspire you?
Nature for sure has this sense of calmness that makes you think “slower”: it slows down your wild ideas, helps you filter and restructure your thoughts, think more mindfully about what you’re gonna do next. In general, saya terinspirasi oleh kehidupan, oleh orang-orang di sekitar saya, oleh warna dan pola yang saya temui di jalan. Semuanya adalah inspirasi. Saya juga terinspirasi oleh humor. I like laughing, I like things that are funny, so I often inject humor in my works. Ketika saya butuh inspirasi, saya pergi ke luar, berjalan kaki, menikmati es krim, mengunjungi secondhand shops.
Bagaimana Anda mengekspresikan dukungan Anda pada bumi melalui gaya Anda?
I am now more conscious about the clothes I buy; who I buy from, where they were produced, whether they were responsibly made. Saya sekarang lebih nyaman belanja dari small and slow fashion brands dan berbelanja secondhand. I do splurge in designer items too once in a while, but I would say I am more mindful now. Other than that, I enjoy making or upcycling my own clothes.