SS19 Resee, Part 1: Gucci, Alexander McQueen, Dior, Valentino

The Editors Club’s exclusive opinion from our journey to Paris Fashion Week Resee.

 

Dalam perjalanan The Editors Club ke Paris Fashion Week Spring/Summer 2019 lalu, kami tak mau kehilangan kesempatan untuk melihat dari dekat dan dengan saksama rancangan para designer yang mengisi panggung-panggung runway kali ini melalui Resee. Dengan pengalaman yang sangat menarik dan padat, kami memutuskan untuk memecah opini kami ke dalam dua bagian. Berikut cerita kami.

 

Gucci

Sebagai puncak dari rangkaian apresiasi Gucci terhadap Prancis (yang diawali dengan campaign Gucci Dans Les Rues untuk koleksi Pre-Fall 2018 dan berlanjut ke show Cruise 2019 di Arles), brand asal Italia itu menggelar peragaan busana Spring/Summer 2019 di perhelatan Paris Fashion Week – alih-alih Milan Fashion Week. Aksi pangung Jane Birkin melantunkan ‘Baby Alone in Babylone’ semakin memperkuat tema teatrikal lawas nan eksperimental a la Le Palace yang merupakan venue acara sekaligus sumber inspirasi rancangan-rancangan Alessandro Michele.

 

 

Kesan vintage ‘70-an dari kreasi-kreasi itu pun tetap kuat terasa saat The Editors Club mengunjungi sesi Resee yang diadakan di Le Consulat. First and foremost, the atmosphere is entirely Michele’s Gucci. Menaiki tangga berbalut karpet merah sebagaimana dindingnya yang berlapis velvet wallpaper merah, memori akan Gucci Resee tahun lalu sontak muncul kembali. Again, Michele orchestrated this in his own way. Akan tetapi pertanyaan yang terbersit mengenai koleksinya adalah apakah kepekatan rasa vintage di dalamnya akan disambut antusias?

Setelah lebih saksama mengamati suguhan Gucci, optimisme kami akan koleksi ini terbangun. Not only the retro feeling is real, but also it steps into the next level. Michele always manages to kill it in every season. Salah satu yang amat menarik adalah sebuah seri tas – yang belum diketahui namanya – yang terbuat dari bahan eksotis. The next it-bag? Yes we feel it. Substantially, sesungguhnya tak ada sebuah kejutan baru pada koleksi Spring/Summer 2019 ini, namun it is always a fun experience to visit a Gucci Resee. Termasuk melihat kreativitas Michele yang mengolah kartun Mickey Mouse dalam koleksinya.

 

Alexander McQueen

Strength and fragility. Itulah dua kata yang kami pilih untuk merangkum koleksi Spring/Summer 2019 dari Alexander McQueen. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa kedua elemen yang bersifat oposisional itu tak ditampilkan Sarah Burton secara “mentah”, melainkan ditempatkannya dalam satu konteks yang lebih meaningful.

 

 

Ketika selama ini banyak pihak “tersesat” dalam glorifikasi atas konsep women empowerment dan berujung pada imajinasi akan wonder woman sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan budaya patriarkis yang melihat perempuan sebagai makhluk lemah, rangkaian rancangan Burton menyampaikan bahwa sisi fragile atau vulnerable dalam diri perempuan bukanlah hal tabu yang mutlak tak boleh terlihat melainkan merupakan aspek manusiawi yang justru bisa menjadi bahan refleksi dan penggerak bagi munculnya kekuatan dan ketangguhan di berbagai tahapan hidup.

Mengenai garis-garis desain koleksinya kali ini, skema tailoring yang sophisticated tampak sebagai bagian signifikan. Hal ini semakin mengukuhkan citra Burton yang handal di bidang tailoring. Menggantikan model kick flare, kini yang menjadi karakter dari celana-celana Alexander McQueen adalah low-cut waistband nan daring. Meski memang tak seekstrem Alexander McQueen’s bumsters, celana potongan pinggang super rendah tersebut tetap merupakan sebuah tawaran sartorial yang rebellious. After all, perwujudan craftsmanship yang selama ini menjadi identitas Alexander McQueen – bahkan menunjukkan high level of couture workmanship – tampak lestari dalam koleksi baru tersebut. Our favorite? All in buttercup!

 

Dior

Sambil menikmati suguhan makanan dan minuman – Dior’s hospitality is hard to be compared with – kami menyaksikan fashion show Spring/Summer 2019 yang telah digelar malam sebelumnya melalui sebuah layar besar di sesi Resee. We were so impressed, and the songs were stuck in the head for quite some time. Tari kontemporer yang digeluti Sharon Eyal, Loïe Fuller, Isadora Duncan, Ruth Saint Denis, Martha Graham dan Pina Bausch menjadi inspirasi Maria Grazia Chiuri untuk rancangan-rancangan terbaru Dior.

 

 

Hasilnya adalah rangkaian desain yang merefleksikan percakapan antara tubuh, gerak, dan busana. Shape khas Dior tetap bisa diidentifikasi pada beberapa gaun di koleksi ini meskipun mengalami transformasi cukup signifikan oleh karena penggunaan material silk jersey. Seperti yang kami rasa, identitas feminin Dior yang ada pada karya-karya tersebut mendapat twist berupa vibe of coolness. Memiliki details mengagumkan, deretan busana dan aksesoris yang crazy beautiful ini mengolah denim, tulle, fishnet, serta grafis floral dan kaleidoskop. Favorit kami adalah kreasi-kreasi berbahan denim; as they are always something.

Di antara berbagai hal yang menarik dalam koleksi ini, salah satu yang mencuri perhatian adalah floral trench-coat. We feel it’s going to be a must have item; dan ketika nantinya produk itu menjadi benda vintage, orang-orang akan berusaha untuk mencarinya. Hasil kreasi lain yang tak kalah menarik – dan mungkin juga paling eye catching – adalah koleksi tas yang coraknya tampak menyerupai motif tenun asal Kalimantan. Akan tetapi, setelah mengingat kembali tema-tema koleksi Dior sebelumnya, kami berpikir bahwa mungkin corak tersebut merujuk pada motif tenun tradisional Meksiko yang juga mirip. Seperti diketahui, Maria Grazia Chiuri pada koleksi Dior Resort 2019 mengangkat kultur rodeo perempuan asal Meksiko yang disebut Escaramuzas.

 

 

Valentino

Valentino Resee is our favourite among all. Mungkin karena sebelumnya kami terpukau menyaksikan koleksi Spring/Summer 2019 pada peragaan busananya. Saat membaca show notes saat itu dapat langsung terasa bagaimana dramatisnya karya-karya Pierpaolo Piccioli. Melalui serangkaian kreasinya, ia berbicara tentang freedom dan menekankan bagaimana kebebasan hakiki yang ditemukan di dalam diri serta untuk saat ini. Selebrasi atas upaya penemuan kebebasan itu tergambar dalam aksentuasi volume dan warna. Untuk semua ini, standing ovation yang dilakukan tamu undangan show memang pantas didapat oleh Piccioli.

 

 

Back to the Resee, we just wanted all those black and white. Kami bisa membayangkan bagaimana banyak perempuan mengenakan rancangan-rancangan yang wearable itu. Pada koleksi ini, pattern dari arsip-arsip lama kembali dimunculkan (corak yang mengingatkan kami dengan motif batik mega mendung) namun memiliki nuansa yang lebih bold karena tampil dalam vibrant colours. Singkatnya, kami tak habis-habisnya mengagumi koleksi ini hingga ke detailnya.

Kualitas high level of couturier terlihat baik dalam gaun-gaun menjuntai khas Valentino maupun busana-busana bervolume. Sangat cantik! Untuk aksesori, bucket bag Valentino tampaknya akan menjadi hal besar pada musim mendatang. We can’t get enough with the one that has feathers on it. Sebuah statement piece yang akan membuat tampilan simple menjadi tampak sartorial.