Paris Fashion Week Fall/Winter 2025: dari Masa Lalu untuk Masa Depan

A strong constant in a season of changes.

 

Di tengah banyaknya gejolak perubahan di industri fashion, banyak rumah mode kembali ke fondasi mereka untuk menjejakkan kaki ke masa depan. While it’s true that a fashion house must always remember its original house codes, this time it feels a little different. Untuk menulis kisah baru, mereka menggunakan kekuatan terbesar mereka: their history and identity

Dior

Untuk koleksi Fall/Winter 2025, Dior memetik inspirasi dari novel “Orlando” karya Virginia Woolf, di mana sang karakter utama menjalani berbagai kehidupan dalam era-era berbeda. Di sini, Maria Grazia Chiuri membuka halaman-halaman sejarah fashion dan mempertemukannya dengan design codes Dior. Melawan gender stereotypes, romantisme rumbai-rumbai dan renda dipasangkan dengan jaket dan celana kulit untuk tampilan yang androgynous. Selain itu, Chiuri juga mengembalikan t-shirt berslogan “J’adore Dior” yang pertama dirancang oleh John Galliano untuk sang rumah mode. 

Valentino

In what place do public exposure and personal intimacy collide? Bagi Alessandro Michele, jawabannya adalah “toilet umum”. Toilet umum “meta-teater” menjadi set dari fashion show Valentino Fall/Winter 2025. Ada banyak elemen Michele-isme yang dapat kami temukan dari koleksi “Le Méta-théâtre Des Intimités” ini, seperti maksimalisme, whimsicality, surealisme, dan vintage glamour. Dualitas antara yang “di dalam” dan “di luar” diinterpretasikan Michele dengan tampilan-tampilan teatrikal. Lace and lingerie-like looks take center stage next to shiny sequins and dramatic fringes

Givenchy

To go forward, you have to go back to the beginning,” ungkap Sarah Burton, Artistic Director baru Givenchy. Dalam koleksi pertamanya untuk sang rumah mode, ia berfokus ke atelier sang rumah mode, karya-karya Hubert de Givenchy, dan para perempuan modern yang akan mengenakan kreasi-kreasinya. “Strength, vulnerability, emotional intelligence, feeling powerful or very sexy. All of it.” tambah Burton akan karakter perempuan yang menjadi inspirasi koleksi ini. Teknik maskulin bertemu dengan siluet feminin. Potongan, bentuk, dan proporsi dimainkan dengan elegan, menghasilkan gaun bagaikan blazer yang dikenakan terbalik, siluet hourglass, dan mini dress berhias makeup compacts antik. The question that came across our mind is, why aren’t more women creative directors reign at the top of fashion houses to create clothes for women?

Loewe

Untuk koleksi Fall/Winter 2025, Loewe tidak menggelar sebuah fashion show. Sebagai penggantinya adalah sebuah presentasi di Hôtel de Maisons. Dikonsepkan sebagai “scrapbook of ideas”, Jonathan Anderson bermain dengan kode-kode Loewe, seperti trompe l’oeil, proporsi terdistorsi, volume megah, yang dipertemukan dengan seni artisanal dalam sebuah kolaborasi dengan Josef & Anni Albers Foundation. Arsitektur lembut yang memeluk tubuh, spliced leather jackets, gaun lilac yang merekah seperti bunga iris, dan outerwear dengan siluet besar mengekspresikan kepiawaian Anderson sebagai Creative Director rumah mode Loewe. Also making its appearance is the viral “Loewe tomato” which started as a witty social media post and was brought to Loewe life by Anderson

Louis Vuitton

Stasiun kereta api merupakan titik di mana berbagai emosi bertemu, mulai dari excitement dalam menempuh sebuah perjalanan baru, kehangatan untuk kembali ke rumah, kesedihan perpisahan, ataupun kebahagiaan petualangan. Koleksi Fall/Winter 2025 dari Louis Vuitton menceritakan kisah-kisah tersebut. As a fashion house with “traveling” at the core of its identity, the narrative is true to its heritage in every way. Dengan gaya futuristik yang merupakan signature dari Nicolas Ghesquière, kreasi-kreasi musim ini memiliki pesona evokatif dalam siluet-siluet yang mengundang Anda untuk bepergian. Here, Louis Vuitton’s travel bags take flight in soft shapes, one of them carried by House Ambassador Felix of Stray Kids as he walks down the runway. 

Hermès

Persembahan Hermès untuk musim Fall/Winter 2025 bisa didefinisikan sebagai “sleek and strong”. Dengan “assertive allure” yang terjalin pada setiap kreasi Nadège Vanhée dalam koleksi ini, craftsmanship sang rumah mode bersinar dengan penuh kepercayaan diri. Potongan yang rapi, drapery penuh keahlian, material indah, dan kepiawaian teknik merangkai pakaian-pakain yang akan masuk ke dalam wardrobe para perempuan powerful. Tampilan favorit kami jatuh kepada sweater dengan detail zipper cut-out di bawah leher, bridging the gap between sensual and sophisticated

Chanel

Koleksi Fall/Winter 2025 dari Chanel merupakan hasil karya dari Chanel Creation Studio. Bermain dengan kode-kode khas sang rumah mode seperti pita, mutiara, dan bunga-bunga, mereka mengkreasikan sebuah dunia fashion fairytale di mana feminitas merekah dengan indah. Permainan layering dan proporsi dieksplorasi, menghasilkan tampilan bagaikan ilusi yang dreamy. Setelan tweed suit dipasangkan dengan tulle cape, sementara kelembutan mengambil bentuk sebagai chiffon jeans, gaun sheer, atau sutra yang di-rework bagaikan tweed. Menangkap perhatian kami adalah deretan tas berlogo Double C bak “kalung” mutiara dan dalam siluet pita yang menggemaskan.

Chloé

Bertajuk “The Evolution Collection”, kreasi-kreasi Chemena Kamali untuk Chloé Fall/Winter 2025 melihat ke belakang untuk bergerak ke depan. Sang Creative Director mengamati kembali kepribadian dan gaya seorang perempuan Chloé, melihat apa yang berada di pikiran dan hati mereka. Fragmen dari masa lalu, kenangan dari era yang sudah lewat – bagi Kamali, kisah seorang perempuan Chloé memiliki banyak dimensi dan kompleksitas. Didedikasikan untuk mereka, hadirlah sebuah sebuah koleksi berkonsep soft strength yang menggabungkan feminitas, sensualitas, keringanan, kemandirian, dan tentunya kebebasan. 

Lacoste

Kembali ke lapangan Roland-Garros untuk kedua kalinya, koleksi Fall/Winter 2025 dari Lacoste menggabungkan pesona tenis dengan contemporary French elegance. Bagaikan perjalanan René Lacoste dari atlet ke pengusaha dan socialite, terbayang sebuah wardrobe dinamis untuk mereka yang menentukan budaya masa depan. Creative Director Pelagia Kolotouros mempersiapkan siluet-siluet yang clean, segar, dan sophisticated seperti rok pleated, kombinasi performance fabrics dengan tekstil mewah, gaun polo, dan tracksuit modern. Our favourite piece is the reinterpretation of the witty Lenglen bag which mimics the tennis skirt