Paris Fashion Week Fall 2022: Chloé, Rick Owens

Wild imagination.

 

Di bawah arahan Gabriela Hearst, Chloé begitu ambisius untuk mencapai golnya sebagai sustainable brand. Ia memang seorang desainer fashion, namun juga aktivis lingkungan. Di tahun 2021 silam, luxury brand Prancis ini menerima sertifikasi B Corp sebagai korporasi, atas operasi bisnis yang purpose-driven, targetnya adalah menggunakan lower-impact materials di tahun 2025 mendatang hingga 90%.

Namun, langkah Gabriela justru mengeksplorasi leather. Real-leather, bukan material plant-based seperti mushroom atau sintetis yang dikreasikan sedemikian cara untuk membuatnya persis asli, namun justru secara produksi tetap menghabiskan bahan bakar fosil. Kemudian, ia membawa nuansa femininity yang eklektik. Dimulai dari leather balloon-sleeved dress hitam, hingga leather trench dengan aksen ruffle warna burgundy. Inilah solusi sustainability yang ia tawarkan. Gabriela menyebutnya “Rewilding”.

Secara ilmiah, konsep tersebut terbukti efektif untuk membiarkan alam memperbaiki dirinya sendiri dengan mengontrol populasi hewan pada ekosistem berisi tumbuhan, serangga, unggas dan tanah. Nuansa wildlife tersebut juga turut ia gambarkan dalam kreasi poncho dan sweater kasmir dalam gradasi layaknya sunset, maupun langit malam yang eksotik. Elemen craftsmanship-nya dihasilkan oleh perempuan-perempuan yang tergabung dalam Indigenous Women Fellowship Program untuk melindungi konservasi hutan Amazon.

(Two on the left: Chloé, Two on the right: Rick Owens)

Sementara itu, Rick Owens mengekspresikan gagasannya secara dramatis di Paris Fashion Week. Lokasi presentasi koleksinya di Palais de Tokyo diciptakan dengan efek smoked, ketika para model memperagakan busana. Untuk show ini, sang desainer berkolaborasi dengan Aesop dengan merilis produk relaksasi berupa lilin maupun wewangian yang disajikan secara modern dengan mesin asap portable. Then you know why this concept is relevant

Untuk koleksi musim Fall/Winter 2022, Rick Owens menghadirkan nuansa celestial atau bisa pula satanic. Walau terkadang glamor. Ia terpikat oleh karya sutradara era art-deco, Cecil B. Demille yang teatrikal. Maka koleksinya hadir dalam ciri khas high-shoulder dalam kreasi sculptural white dress yang pas tubuh maupun dalam kreasi jaket zipper dan mini dress bertona abu-abu serta yellow.

Sang desainer juga berani bermain warna cerah selain palet netral seperti mint-green dalam kreasi rounded-shoulder aksen rumbai dan jaket zipper, bersama safron dan sunset orange di kreasi maxi skirt. Beberapa look dalam balutan sequins mewakili kesan mystique glamor seperti one shoulder maxi dress perak dengan aksen draping, maupun sculptural one-shoulder maxi dress palet dusty. We should wait and see them on awards’ season red carpet.