Paris Fashion Week Fall 2022: Balenciaga, Valentino

The dynamic in the middle of the crisis.

 

Situasi konflik mencekam yang terjadi antara Rusia dan Ukraina meninggalkan kesan tersendiri bagi Demna Gvasalia, direktur kreatif Balenciaga. Kembali ke masa lalu, ia lahir di Georgia dan berusia 10 tahun ketika harus menjadi pengungsi akibat perang. Menyikapi realita tersebut, ia pun memutuskan untuk menunjukkan luka lamanya. Di show koleksinya untuk Balenciaga musim Fall/Winter 2022, model memeragakan busana dalam atmosfir di tengah badai salju. Metafora menyedihkan dari warga sipil yang mencari perlindungan diri di tengah perang.

Jinjingan berbentuk bungkusan besar dalam material leather warna hitam maupun putih menyiratkan escapism yang terinspirasi dari pengalaman masa kecil sang desainer. Palet hitam pun yang seakan menyuarakan kesan prihatin mendominasi di koleksi ini. Seperti kreasi elongated sleeve, off-shoulder dan turtleneck berpotongan midi dress. Ada pula maxi dress bermodel poncho sebagai opening look, di samping rancangan ciri khas Demna dalam rupa oversized highshoulder coat blazer, draped floral dress dan pointy stiletto

Sisi seduktif lewat material lace dress turut menggambarkan kekuatan femininity di koleksi ini. Demna memadukannya dengan spandex bodysuit putih beserta boots senada. Bentuk simpati sang desainer pada korban terdampak konflik perang juga terepresentasi pada paduan tampilan parka top dan track pants kuning bersama spandex maxi dress biru di dua look terakhir selayaknya warna bendera nasional Ukraina. 

(Two on the left: Valentino, Two on the right: Balenciaga)

Simpati akan apa yang terjadi di Ukraina juga direspon oleh Valentino. Rumah mode Italia tersebut mengumumkan partisipasinya bersama Camera Nazionalle della Moda Italiana untuk menyumbang dana kepada UNHCR untuk korban terdampak perang. Di Paris Fashion Week musim ini, Valentino dengan tampil ekspresif dalam palet tona serba pink. Visual tersebut merupakan kolaborasi mereka bersama seniman Douglas Coupland dan Pantone untuk nuansa nan attractively fun.

Palet pink bisa menjadi warna yang eksperimental, namun ia bisa pula mencerminkan emosi. Pierpaolo sendiri tetap pada ideologinya bahwa pink is punk. Nuansanya diwakili dalam rupa sheer turtleneck bermaterial lace yang dipadu dengan hoop earring metal besar. Ada pula cutout mini dress dengan aksen pita yang seduktif. Sementara, busana tailored yang elegan rounded belted jacket, celana palazzo, off-shoulder maxi dress dengan siluet bahu rounded turut mencerminkan sisi modernity.

Mempertegas visi tersebut, hadir pula palet hitam yang dirancang kaya tekstur sebagai warna pendamping. Dimulai dari kreasi mini dress yang dihiasi oleh ruffle, hingga multilayered slip maxi dress berbentuk diagonal. Turut pula jaket aksen applique beserta celana, setelan dengan applique motif sunflower, hingga outer shirt semacam crochet dalam motif bunga yang mengesankan gender-fluid. Not too much, yet not that bright to have fun with this collection.