Old Céline and Fashion as a Form of Empowerment

The fashion world couldn’t move on from ‘Old Céline’ – what does it leave for us?

 

Pergantian arahan kreatif adalah hal yang senantiasa terjadi dalam fashion. Tetapi mengapa banyak yang menyesali kepergian Phoebe Philo dari Céline? What does it say about the brand’s mark to the main characters of its story – their customers? Di sini, kami juga berbincang dengan fashion marketer/entrepreneur Caroline Robianto, tentang pendapatnya mengenai Céline ‘lama’ dan fashion sebagai bentuk empowerment dari aspek konsumen dan brand owner.

 

Part One: Old Céline

Phoebe Philo – She designs the clothes women actually want to wear.” ujar sebuah judul artikel pada edisi perdana majalah The Gentlewoman. Ketika artikel tersebut diterbitkan pada tahun 2010, Philo baru memegang posisi creative director Céline selama satu musim. However, her vision for the luxury brand was already clear. Pada wawancara tersebut, Philo bercerita tentang ibunya yang mendesain cover LP David Bowie, kehidupan dengan suami dan anaknya, anxiety yang ia alami dalam pekerjaan, hingga kecintaannya pada junk food. Menuju akhir artikel tersebut, Philo menyebut bahwa koleksi yang ia buat merupakan suatu karya yang personal – dalam kata-katanya sendiri: “The anchor of my kind of classicism and then the more fanciful things around it.” Sesuatu yang klasik, dengan keindahan yang mengelilinginya.

Itulah karakter yang membuat Céline dicintai banyak orang. Raw, unpretentious, practical, and most importantly – made for real women leading extraordinary lives. Para Philophiles akan berkata bahwa karya-karya Philo memiliki sifat empowering. Céline sebagai brand menciptakan palet di mana para perempuan-perempuan tersebut dapat melukis kehidupan yang penuh warna dan dimensi.

Fashion adalah bentuk empowerment untuk para perempuan. Desain, material, warna, dan fit mungkin adalah komponen-komponen teknis darinya. However, fashion’s true game comes when it plays with emotions. Industri ini bermain dengan keindahan, fantasi, dan makna. Seorang perempuan membeli suatu piece karena ia merasa percaya diri saat mengenakannya, atau karena ia membutuhkannya untuk melengkapi kebutuhan gaya hidupnya.

Biarpun CELINE (tanpa accent, tanpa Philo) sekarang dikuasai oleh Hedi Slimane, legasi Philo di Céline tidak padam. Awal September ini, akun bernama @oldceline muncul di Instagram, sebagai tribut dari era Philo di Céline dari tahun 2008 hingga 2018. Kini akun tersebut telah diikuti 110 ribu orang, mulai dari fans hingga Virgil Abloh. Loyalitas mereka terhadap Céline juga telah terbukti dapat meningkatkan sales, dengan Business of Fashion melaporkan bahwa kreasi-kreasi Philo telah naik hingga 30% di situs-situs luxury reselling. Considering the high frequency of designer change-ups in the fashion industry, a phenomenon like this is a rare one.

Melalui fenomena ‘Old Céline’ seperti di atas, terlihat jelas bahwa Céline di bawah Philo telah berhasil membangun sebuah ikatan emosional dengan para konsumennya. Is this a lesson for everyone building a brand today? Kita telah mendengar ini beribu kali – sekarang industri fashion sudah sangat saturated. Untuk dapat bertahan di iklim keras ini, apa yang dapat dilakukan sebuah fashion brand? Apakah resep kesuksesan sebuah brand, seperti Céline dari Philo, adalah campuran ajaib dari karakter kuat dan kemampuannya untuk mengerti gaya hidup para penggunanya?

 

Part Two: Conversation with Caroline

Kami berbincang dengan Caroline Robianto, a fashion multi-hyphenate tentang pendapatnya mengenai fenomena Old Céline dan bagaimana sebuah fashion brand dapat menjadi kekuatan bagi para pemakainya. Caroline juga pernah memegang posisi marketing communication di Céline.

“Céline selalu dapat membuat saya tersenyum,” ujar Caroline. Menurutnya, Céline yang lama dapat menonjol di antara para brand lainnya karena mereka selalu mengkreasikan sebuah cerita yang baru, tanpa beralih dari elemen utama mereka. “[Céline] for me, represents how a woman should be – comfortable in her own skin, wearing anything she wants.” Caroline menambahkan bahwa ketika ia memakai sebuah piece dari Céline, ia merasa kuat, percaya diri, tetapi tetap lembut. “Someone who knows what she’s doing, yet still has a very vulnerable side,” tambahnya.

Selain sempat menjadi bagian dari tim regional dari luxury house asal Paris tersebut, Caroline juga mengerti bagaimana sebuah fashion brand harus dikembangkan. Sejak awal 2017, ia  telah merintis sebuah resortwear brand bersama temannya, Michelle Koesnadi. Dinamakan Kerokoo dari gabungan nama kedua mereka, brand tersebut memiliki misi untuk memberikan empowerment bagi konsumennya.

We simply want to make pieces that will empower our customers. Membuat mereka nyaman dalam body type mereka.” ujarnya. Caroline mendeskripsikan Kerokoo dengan sifat chic, modern, dan confident. She further explains that the brand offers versatile pieces that can be worn for many kinds of occasions – a definite merit in the eyes of the vibrant, modern women of today. Visinya untuk Kerokoo adalah untuk membuat pemakainya nyaman tapi tetap tampil effortlessly chic.

“I think as women, we have the responsibility to make other girls feel empowered and confident as well.” tambahnya.

 

Part Three: Overlooking the Future

Kembali mengingat apa yang Philo ciptakan selama delapan tahunnya di Céline: kreasi fashion yang begitu memahami hidup para perempuan modern, yang dapat menemani mereka mengejar apa yang mereka inginkan – apakah itu dalam hal karier maupun keluarga. Mereka kuat dan berhasil, tetapi juga dengan sisi emosional mereka, yang mungkin masyarakat sebut sebagai ‘sifat feminin’. Rasa sayang mereka terhadap keluarga dan sahabat mereka, momen-momen sentimental di mana mereka menangis karena hidup terlalu keras. Vulnerable times where they build their strength. Until its last dance, Céline by Phoebe Philo has stayed true to its main character.

Dalam aspek bisnis, terlebih dalam industri kreatif, sangatlah penting untuk selalu mengikuti tren yang senantiasa bersinggah pergi dan kebutuhan konsumen yang berubah. As Caroline has also said, changes are inevitable. Seindah apapun memori yang dulu, dunia fashion akan tetap melihat ke depan. And it is up to us to set where we are going next. Kita adalah bagian dari pasar yang menentukan apakah suatu entitas fashion akan menjadi kesuksesan atau tidak. So ask yourself, what do you want? Untuk dimengerti? Untuk membeli fantasi? Untuk dapat mengekspresikan diri dengan bebas? The fate is in our hands.