Ada beberapa adegan film yang begitu iconic sehingga masih memegang pengaruh pada pop culture bahkan bertahun-tahun setelah penayangannya.
Ketika Holly Golightly yang diperankan oleh Audrey Hepburn melangkah keluar dari sebuah taksi, berjalan perlahan ke jendela Tiffany & Co. pada film “Breakfast at Tiffany’s” tahun 1961 bersama dengan Henry Mancini, dan diiringi lagu “Moon River” oleh Johnny Mercer, scene iconic itu pun tercipta.
Pada saat Holly memakan croissant dan memegang kopinya, ia masih berada di luar gedung. Sejak tahun 1837, Tiffany’s merupakan luxury jeweller dan bukanlah sebuah tempat untuk menyantap sarapan. Namun, dengan dibukanya Blue Box Cafe beberapa waktu lalu, hal ini berubah. Cafe milik Tiffany & Co. ini berada tepat di flagship store mereka di New York City.
Ditempatkan di lantai ke-4 gedung, yang dulunya menjadi rumah bagi koleksi home and accessories Tiffany, Blue Box Cafe hadir dengan meja yang bisa menampung jumlah pelanggan dalam grup besar. Cafe ini tampil cantik dengan aksen robin’s egg blue khas Tiffany & Co. Ia terletak hanya dua blok dari southern boundary Central Park. Selain menu yang variatif, Blue Box Cafe juga menyajikan pemandangan mengesankan dari beberapa destinasi populer New York City.

Kenyataan bahwa di era digital ini banyak retailer tradisional yang kehilangan customer-nya akibat kalah bersaing dengan kompetitor online, brand asal Amerika ini mencoba fokus memberikan pengalaman menarik bagi pengunjungnya. Tiffany’s juga membuka temporary concept store di Rockfeller Center, Manhattan baru-baru ini, dan berencana untuk membuka concept store yang sama di Grand Central Terminal. Kedua concept store ini menawarkan seleksi jewellery, home items, dan aksesoris.
Menurut Reed Krakoff, chief artistic officer of Tiffany & Co., yang memimpin proyek transformasi home and accessories section menjadi sebuah cafe, ada emphasis tersendiri dalam memamerkan modern luxury. “Ruang yang kami sediakan ini eksperimental dan experiential – sebuah permulaan bagi Tiffany yang baru,” ujarnya.
Selama beberapa generasi belakangan, banyak penggemar Audrey Hepburn yang kerap memenuhi space yang disediakan di Tiffany’s saat menapak tilas cerita dalam film yang masih menjadi favorit banyak orang ini. Kini mereka bisa benar-benar menikmati “Breakfast at Tiffany’s”, 56 tahun setelah film karya Blake Edwards tersebut dirilis.