Ni Luh Sekar Shares The Story of Her New Adventure

Mendengar namanya, penggelut dunia lifestyle Indonesia pasti sudah tidak asing lagi. Ni Luh Sekar adalah sosok yang telah berkecimpung di dunia media sejak lama. Kini, ia mempelajari ilmu winery di Afrika Selatan, sesuatu yang jauh dari bidang yang ia tekuni sebelumnya. Apa alasan Ni Luh mengambil keputusan ini? Simak perbincangan The Editors Club dengan perempuan yang juga mendalami bisnis clothing line ini.

 

Dulu Anda merupakan Editor in Chief majalah Dewi, bisa ceritakan pengalaman Anda bekerja dalam industri media print?

It was fun. Beberapa tahun pertama saya memegang tampuk kepemimpinan Dewi, formatnya memang majalah. Tak lama, Dewi berubah menjadi media 360*, print, online, events. Posisi saya tidak lagi hanya sebagai Editor in Chief tapi juga Chief Community Officer. Terakhir saya pegang, Dewi menjangkau lebih dari setengah juta audience.

Apakah Anda rindu bekerja di media? 

I don’t tend to be nostalgic. 

Mengapa memutuskan untuk meninggalkan karier yang telah Anda bangun bertahun-tahun?

Saya menulis di media massa sejak umur 19 tahun, pertama kali jadi Editor in Chief umur 27 tahun. Kehausan saya untuk eksplorasi sudah tidak terbendung. Banyak hal lain yang ingin saya lakukan.

Bisa ceritakan bagaimana tinggal di Afrika Selatan sejauh ini telah membangun Anda dan membentuk cara pandang Anda terhadap dunia?

Sejak lama saya terpesona oleh Afrika Selatan. Dulu hanya sesekali datang untuk liburan karena lanskapnya yang luar biasa dan langit birunya yang membahagiakan. Setelah menetap di sini, mata saya semakin tajam melihat esensi. Ini membantu saya dalam kehidupan pribadi – berkeluarga, berteman maupun ketika mendesain clothing line saya Proklamasi. Penuh substansi, tanpa detil tak penting.

Apa yang mendorong Anda untuk masuk ke Cape Wine Academy untuk memperdalam ilmu mengenai winery?

Ketertarikan pada substansi tadi yang terus saya bawa dalam melakukan sesuatu. Saya ingin mengulik dunia wine sampai seakar-akarnya. Paling tidak dalam lima tahun ke depan, saya masih akan belajar soal wine. Selama ini, nilai ujian saya di Cape Wine Academy membuat saya eligible jika saya ingin meraih gelar Cape Wine Master.

Bagaimana keseharian Anda di Afrika Selatan setelah masuk ke Cape Wine Academy?

Saya bagi antara Proklamasi, wine, dan travelling untuk keduanya. Paling tidak, sekarang saya membaca buku atau artikel soal wine tiga jam sehari. Jika musim ujian, saya perlu 10 jam sehari untuk merangkum dan menggambar peta-peta vineyard di dunia. Kadang saya khawatir saya terlalu banyak membaca tapi sedikit mencicip wine. Padahal seorang ahli wine ternama bisa mencicip 8.000 (jenis) wine per tahunnya!

Jika bisa berandai-andai, bagaimana Anda menjelaskan seorang perempuan yang mengerti soal wine. Apa yang menarik dari mereka? Mengapa Anda ingin menjadi salah satunya?

Saya dibesarkan tanpa konsep perbedaan gender, jadi saya tidak bisa berandai-andai soal perempuan. Tapi bagi saya, orang yang mengerti soal wine semestinya kaya akan dimensi. Wine bisa dipelajari, ada sekolahnya, karena itu hal yang eksak. Tetapi wine juga penuh nuansa, menuntut kepekaan indera, mata, penciuman, lidah. Banyak aroma dan bouquet wine yang tertangkap oleh indera kita sangat subjektif, tergantung pengalaman masa kecil.

Banyak sekali studi yang mengatakan bahwa wine itu baik untuk kesehatan, namun banyak juga yang kontra. Bagaimana pendapat Anda?

Yang pasti karena wine berakohol, konsumsi berlebihan tidak baik. Hal yang paling menyebalkan buat saya adalah keinginan mencicip sebanyak-banyak wine di sebuah festival tapi harus mengerem karena efek alkohol. Sampai sekarang saya masih berlatih untuk mencicip wine tanpa menelannya.

Benarkah white wine untuk makan ikan dan red wine untuk daging?

Tergantung jenis wine dan bagaimana ikan atau daging itu diolah. Sommelier dan chef biasanya bekerja sama untuk memadankan. Terkadang mereka berhasil memadankan masakan ikan dengan light bodied red wine misalnya. Biasanya, kalau itu menu degustation, percaya saja karena mereka sudah latihan sampai sempurna. Tapi kalau hanya dinner ala carte, saya tidak pernah berani mendengar saran siapa pun. Lidah saya sangat peka menangkap rasa logam jika asal memadankan anggur merah dengan ikan.

Bisa ceritakan secara singkat bagaimana seseorang bisa diakui sebagai wine expert?

Yang jelas, tidak ada jalan pintas menjadi seorang ahli wine. Tidak ada ahli wine yang diciptakan sehari hanya karena ia mem-posting (konsumsi) wine mahalnya. Ia adalah seseorang yang menguasai ilmu wine dan spirit, punya jam terbang yang tinggi baik secara harafiah terbang ke winerywinery seluruh dunia maupun jam terbang dalam mencicip ratusan sampai ribuan wine per tahunnya. Itu semua perlu waktu.

Apa yang membuat wine spesial ketika dia berusia lebih tua? Does the vintage really matter?

Wine sekarang kebanyakan dibuat agar bisa dinikmati lebih cepat. Beberapa wine tradisional ada yang harus disimpan paling tidak 5-10 tahun untuk mencapai prime time-nya. Namun presentasi itu kecil. Vintage adalah tahun di mana anggur itu dipanen. Dengan climate change sekarang ini, vintage makin berpengaruh. Kita harus hafal tahun-tahun berapa saja yang panennya sukses di suatu daerah. Beberapa produsen tidak membuat wine sama sekali ketika hasil panen buruk. Tapi ada juga produsen yang beruntung bisa memproduksi wine baik ketika panen buruk.

Current favourite?

Champagne. Bukan dari label-label besar yang gampang dibeli di airport. Label besar biasanya membeli anggur dari para petani. Saya penyuka rumah-rumah Champagne yang menanam sendiri anggur mereka seperti membesarkan anak. Buat saya, pembuatan wine itu dimulai sejak dari vineyard bukan dari winery. Favorit saya, “Eric Rodez”, “Egly-Ouriet”, dan “Paul Bara”.