Nagita Slavina Menjadi Diri Sendiri di Depan Kamera

Being comfortable in her own skin.

 

Duduk di kursi dalam suatu ruang bernuansa dominan abu-abu dan putih, Nagita Slavina meradiasi urban feel dalam balutan rancangan-rancangan Burberry. But here in this frame, she is not the typical city girls. She celebrates heritage. Kombinasi busananya adalah Horseferry print oversized shirt putih dengan map print pleated skirt yang menampilkan peta dunia abad ke-18. Menjinjing logo graphic pocket bag yang terinspirasi dari arsip-arsip sang rumah mode Inggris, identitasnya sebagai bintang industri hiburan tanah air terepresentasi secara bold lewat leather and shearling jacket hitam berskema press-stud closure yang digantungkan di pundak.

Memukau publik dengan penampilan, baik di depan kamera Рsebagaimana terlihat pada foto tersebut Рmaupun di luar sorot kamera adalah realita hidup yang tak asing bagi Gigi. Seperti disebutnya pada sesi interview yang berlangsung sebelum pemotretan di The Residence at St. Regis Jakarta beberapa waktu lalu, ia telah mencelupkan kakinya ke entertainment industry Indonesia sejak berusia 13 tahun. Today, exposure is just like a close shadow in her everyday life. Melihat hal ini, banyak orang kemudian bertanya bagaimana ia menjalani hari-hari seperti itu? Tanpa ragu, ia bicara soal konsekuensi dari sebuah pilihan.

Bukan cuma soal konsekuensi dari pilihan profesinya sebagai pelaku industri peran, Gigi pun merujuk pada pernikahannya dengan Raffi Ahmad. Saat memilih Raffi sebagai pendamping hidup, ia sadar betul akan konsekuensi sorotan publik yang didapat. Tak dapat dipungkiri bahwa setelah menikah dengan aktor tenar tersebut, nama dan wajah Nagita semakin sering menjadi konsumsi publik. ‚ÄúAku beradaptasi sedikit demi sedikit. Aku selalu berpikir, kalau menikah dengan Raffi, ya memang itu konsekuensinya,‚ÄĚ ucap Gigi kepada Editor-in-Chief The Editors Club, Hessy Aurelia, dalam proses wawancara program TEC Brunch.

Salah satu hal yang dipegangnya dalam ‚Äúberinteraksi‚ÄĚ dengan kamera ialah bahwa ia membuat garis tentang apa yang bisa dibagikan kepada publik dan apa yang tidak. ‚ÄúYang aku selalu sadar adalah memang ada batasan yang mana yang harus aku share, yang mana yang tidak; mana yang harus ditampilkan di depan orang banyak, mana yang tidak. Ini bukan pencitraan, tapi memilah-milah dan menjaga diri sendiri,‚ÄĚ ungkapnya. Hal penting lain yang ia utarakan perihal sorot kamera adalah bahwa dirinya selalu merasa nyaman dengan diri sendiri sehingga tak pernah mencoba menciptakan sesuatu yang dibuat-buat di hadapan kamera.

Kenyamanan menjadi diri sendiri sebagaimana yang diungkapnya pun terlihat saat sesi pemotretan. Mengenakan ragam nuansa desain busana, karakter personal Gigi tetap kuat terpancar. Pada foto lain, ia tampil lebih edgy¬†dengan B motif square frame sunglasses¬†warna pink. Kacamata dengan bentuk kotak degan logo huruf ‚ÄėB‚Äô pada tangkainya ini tampak mendefiniskan kontur wajah Gigi secara tegas dan memberi sentuhan¬†retro feel¬†pada look-nya. Di foto tersebut, Gigi mengarahkan wajahnya pada kreasi¬†two-handle title bag. Tas dengan aksen triple-stud detailing¬†dan¬†embossed Burberry lettering¬†pada bagian depan ini memberi kontras dinamis pada foto tersebut.

Ekspresi lebih playful yang sangat identik dengan kepribadian dari aktris dengan basis fans super-loyal ini ditemukan pada rangkaian fotonya membawa ragam tas Burberry. Salah satunya adalah Horseferry print quilted lola bag berstruktur soft yang menampilkan monogram Thomas Burberry dengan polished chain strap yang membawa sentuhan glam. Selanjutnya ada juga logo graphic cotton canvas cube bag yang fungsional untuk membawa beragam benda esensial saat bepergian. Having a peek pose behind a wall with TB bag in her hand for another shoot, Gigi’s true personality shines cheerfully. Di foto tersebut, personalitas Gigi yang jolly teraksentuasi oleh structured bag dengan clasp berbentuk monogram Thomas Burberry.

The pictures of Gigi with those bags seem to ring true to her daily life that is full of activities.¬†Siapapun bisa membayangkan bagaimana ia dengan segudang kesibukannya memerlukan berbagai jenis tas untuk bermacam keperluan, mulai dari untuk kebutuhan sehari-hari hingga acara-acara spesial. Dengan hari-hari diisi dengan kepadatan jadwal, ia selalu berusaha untuk mengutamakan keluarganya. Bukan berarti ia tak pernah merasa lelah. Akan tetapi ketika rasa tersebut menghampiri, ia pun selalu kembali pada pemahaman bahwa segala sesuatu punya konsekuensi. ‚ÄúSemua pekerjaan di dunia ini pasti punya konsekuensinya masing-masing. Tergantung mau terima konsekuensinya atau tidak. Selalu kalau aku sudah tanda kutip mengeluh akan pekerjaan, aku akan kembalikan lagi mindset-nya,‚ÄĚ tutur Nagita Slavina.

 

 

 

TEC Brunch with Nagita Slavina