From French savoir faire to women empowerment.
World Expo memiliki sejarah panjang sebagai ajang bangsa-bangsa berunjuk gigi akan identitas, pencapaian, dan visi masa depan. Bernama resmi International Registered Exhibitions, ajang ini diregulasi oleh Bureau International des Expositions (BIE); sebuah intergovernmental organisation yang dibentuk pada tahun 1928 berdasar perjanjian internasional Convention Relating to International Exhibitions. Saat ini anggota badan tersebut mencakup 184 negara.
Meski BIE baru hadir pada tahun 1928, berbagai world’s fair sudah hadir sejak tahun 1800-an. Contohnya adalah Great Exhibition di Inggris (1851) dan Exposition Universelle di Prancis (1855). Pada tahun ini, World Expo diselenggarakan di Osaka, Jepang, dari 13 April hingga 13 Oktober 2025 dengan keikutsertaan 160 negara serta 9 organisasi internasional. Membawa subtema saving lives, inspiring lives, dan connecting lives dalam tema besar “Designing Future Society for Our Lives”, Expo tahun ini menduduki luas 155 hektar dan menjadikannya kanvas bagi partisipan dalam menunjukkan kepiawaian juga nilai-nilai mereka.
Beberapa nama dari luxury industry Prancis tampak turut serta di perhelatan ini. Termasuk di antaranya adalah label-label dari LVMH, raksasa mode yang merupakan salah satu main sponsors dari France Pavilion. Bersama dengan Louis Vuitton, Dior menyajikan eksibisi permanen. Sementara itu, pameran temporer diisi oleh Celine dan Chaumet. Dalam paviliun bertema “A Hymn to Love”, Maisons tersebut memberikan interpretasinya sesuai identitas masing-masing brand.
Esensi Parisian haute couture disampaikan oleh Dior dalam sederet karya. Bar suit, salah satu simbol Dior, dipresentasikan dalam warna biru, putih, dan merah yang menyerupai palet “Amphores Tricolores” legendaris dari Monsieur Dior. Mengacu kepada kisah Monsieur Dior yang ingin menjadi arsitek sebelum menentukan jalan hidupnya sebagai perancang, hadir sebuah tas Lady Dior yang diinterpretasi kembali oleh arsitek Jepang Kazuyo Sejima untuk proyek “Lady Dior As Seen By”. Dalam sebuah instalasi besar, Anda dapat mengagumi bentuk 3D dari sketsa-sketsa original, 400 toile putih, botol-botol parfum yang dibuat dengan 3D printing, serta imagery dari seniman Jepang Yuriko Takagi.
Koleksi tas Triomphe bersanding dengan urushi lacquerware Hikoju Makie dalam eksibisi Celine di French Pavilion. Dalam sebuah space yang terinspirasi dari rumah tradisional Jepang, heritage sang rumah mode berbaur dengan estetika khas negeri sakura. Karya seni urushi dengan emblem Triomphe dari Hikoju Makie menjadi simbol pertukaran budaya antara Celine dan Jepang, di mana sang rumah mode telah hadir selama 55 tahun. Eksibisi ini juga mengikutsertakan dua video karya Soshi Nakamura, “Hands at Work” dan “Ten Landscapes of Dreams”. Pameran Celine berlangsung hingga 12 Mei 2025.
Selain brands LVMH, Cartier milik Richemont juga turut serta dalam World Expo tahun ini. Terpisah dari French Pavilion, label perhiasan itu mempersembahkan Women’s Pavilion yang didedikasikan untuk potensi dan kekuatan perempuan dalam membentuk masa depan yang lebih cemerlang. Dengan motto “Living Together, Designing Together, For the Future”, Cartier menghadirkan kembali façade Kumiko karya seniman Jepang Yuko Nagayama. Karya tersebut, yang pertama mereka presentasikan di Expo World 2020 Dubai, menunjukkan komitmen sang Maison untuk sustainability dan craftsmanship. Alam, manusia, dan sumber daya bertemu dan berputar di space tersebut, di mana pohon-pohon yang digunakan untuknya akan dikembalikan ke pegunungan Osaka setelah Expo ini berakhir.