Diverse backgrounds, a multitude of mediums.
Sebagaimana edisi kesepuluh Max Mara Art Prize for Women memasuki fase nomadik dan internasional – kini diselenggarakan di Indonesia dan akan berpindah negara pada setiap edisi berikutnya – dewan juri telah mengumumkan lima seniman yang berhasil masuk ke shortlist. Dipimpin oleh Cecilia Alemani, Director and Chief Curator of High Line Art di New York, dewan juri terdiri dari Director Museum MACAN Venus Lau, kurator Amanda Ariawan, gallerist Megan Arlin, kolektor Evelyn Halim, dan seniman Melati Suryodarmo. Lima finalis terpilih adalah Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, Mira Rizki, dan Dian Suci.
Karya-karya para finalis mereka mengeksplorasi beragam teknik tradisional dan kontemporer: keramik kuno hingga medium kontemporer seperti soundscape. Lebih dari soal keterampilan teknis, Alemani melihat bahwa para seniman ini memiliki kemampuan unik untuk menganyam cerita pribadi dan domestik dengan refleksi yang lebih luas terkait sejarah politik dan keadilan sosial. Baginya, dengan mengakui dan mendukung mereka, suara-suara aspiratif akan semakin terdengar dan menginspirasi wacana global.
Betty Adii, lahir di Wamena, Papua, dan kini berbasis di Yogyakarta, adalah seniman autodidak yang berkarya melalui gambar, lukisan, dan instalasi untuk mengeksplorasi perjuangan, solidaritas, serta survival dari perspektif perempuan. Praktiknya menggabungkan narasi personal dan kolektif Papua ke dalam kritik puitis namun tajam terhadap realitas sosial-politik, memadukan referensi budaya tradisional dengan bentuk kontemporer.
Juga berkarya di Yogyakarta adalah Dian Suci, asal Kebumen, yang praktik multidisiplinernya menelaah kehidupan domestik yang dibentuk oleh kekuasaan politik negara. Berangkat dari pengalamannya sebagai single mother, ia membahas isu domestikasi perempuan secara politis, otoritarianisme, patriarki, dan kapitalisme melalui instalasi, lukisan, pahatan, dan video.

Ipeh Nur, lahir dan berbasis di Yogyakarta, mengembangkan karya naratif yang berakar pada memori, sejarah, mitologi, dan tradisi lisan. Utamanya fokus di gambar dan lukisan, praktiknya turut meluas ke batik, keramik, printmaking, pahatan, instalasi, video, dan murals. Ia menggunakan setiap medium sebagai hubungan dengan tubuh. Eksplorasi terbarunya berfokus pada budaya maritim di Nusantara, dan pada 2024 ia menerima special prize dari Future Generation Art Prize.
Seniman keramik, Dzikra Afifah, yang lahir dan bekerja di Bandung, menciptakan bentuk-bentuk sculptural melalui proses subtractive yang melibatkan hollowing, deformasi, dan transformasi clay padat; menekankan relasi kerja seniman dengan material dan konteks. Karya-karyanya yang menelusuri batas yang terus berubah antara upaya, empati, dan ketidakpastian membuatnya meraih ARTJOG Young Artist Award pada 2022 dan menjadi honorary winner dalam Bandung Contemporary Art Award 2024.
Juga berasal dari Bandung dan berbasis di sana, Mira Rizki adalah seniman multidisipliner yang berfokus pada sound dan interactivity; mengeksplorasi bagaimana konteks, lingkungan, dan memori membentuk pengalaman auditori. Melalui eksperimen dengan aural memory dan soundscape imersif, ia menyoroti cara-cara personal setiap individu merasakan dan menafsirkan suara.
Venus Lau, Director Museum MACAN, menyatakan merasa terhormat dapat melihat lima seniman terpilih mempresentasikan ide-ide mereka melalui program ini. “Across their practices, they address questions of gendered experience, ecological vulnerability, the rights of indigenous communities, nonhuman agency, and emotional resilience. Their works contribute fresh perspectives to ongoing conversations about society, environment, and the role of artistic practice today,” ucapnya. Sejalan dengan visi penghargaan ini, ia menyampaikan bahwa Museum MACAN terus berkomitmen untuk mendukung para seniman menyebarkan suara mereka di Indonesia dan di kancah internasional.