L’on Debuts Its Collection to The Local Scene

Sebuah rumah mode baru terjun ke dalam hiruk pikuk perkembangan fashion Tanah Air. Di tengah kompetisi yang rumit, bagaimana koleksi pertamanya disambut?

 

Dedaunan kering menyapa langkah kami kala memasuki set runway L’on untuk koleksi debutnya. Ruangan mini yang padat dengan tamu di Soho Gunawarman dibuat menyerupai sebuah hutan mati dengan penerangan yang redup. Jika Anda belum pernah mendengar nama L’on, Anda bukan satu-satunya. Ini adalah kali pertama L’on memperkenalkan gagasannya dalam industri fashion.

Dengan usia yang masih sangat muda, Dimas Tristan Till (18) berani maju menuangkan visi kreatifnya ke dalam industri yang dipenuhi persaingan ketat ini – sekalipun tidak pernah menganyam pendidikan atau kursus di bidang desain, dan tanpa pengalaman sebelumnya. Ia ingin mengambil peran dalam industri yang kerap menjajakan produk-produk murah dengan harga pasar yang tinggi, seperti yang diutarakan dalam rilis media L’on. Ini merupakan sebuah pernyataan tegas yang mengundang ekspektasi tinggi.

Show yang terbilang tidak singkat itu menampilkan 80 tops dan sebagian kecil di antaranya adalah gaun. Karakter yang dianut L’on adalah streetwear dengan mengangkat fragmen-fragmen luxury, seperti hand embroideries, embellishments, exotic materials, hingga bahkan Swarovski. Satu hal yang tampak dari show ini ialah fokus terhadap jaket dalam koleksinya. Satu per satu model menapakkan kaki di runway, memamerkan jaket demi jaket dengan materi dan teknik berbeda – leather jacket, denim jacket accentuated with lace and embroideries, bomber jacket with prints, and so on. Detail lain seolah terabaikan, karena setiap look yang ditampilkan terlihat tidak komplit dengan absennya penyokong yang jelas dari pinggang ke bawah.

Dengan pace pertunjukkan yang lambat, tentu saja semua mata akan fokus memperhatikan apa yang disajikan dengan saksama. Tidak ada hal baru yang kami saksikan di koleksi ini. Kata konsisten lama kelamaan tergantikan artinya dengan monoton. Namun terlepas dari itu semua, L’on berhasil menyeimbangkan ambience di atas runway dengan tone koleksinya.

Perbekalan formal memang tidak seharusnya menjadi penghalang dalam membangun sebuah bisnis di bidang tertentu. Tetapi, saat ini jelas bahwa L’on masih memerlukan banyak peningkatan, karena industri ini ingin menyaksikan koleksi dengan visi straightforward yang dikemas dalam penyampaian ringkas.

Mengingat generasi ini tengah memasuki era smart-buying, di mana segala sesuatunya dipertimbangkan dengan matang sebelum membeli sebuah produk, serta fakta bahwa banyak yang lebih memilih membuang pendapatannya untuk travelling, apakah materi-materi yang digunakan L’on akan mendongkrak pasar lokal? Bagaimanapun juga, kami mengacungkan jempol untuk kepercayaan diri Dimas yang telah membawa eksistensi brand-nya sejauh ini. Congratulations for the debut!