Label Bersertifikasi B Corp, SukkhaCitta, Buka Butik di Ashta

Now presenting the physical experience.

 

Sudah sering terdengar bagaimana industri mode disebut sebagai salah satu penyumbang polusi besar dunia. Sayangnya masih belum cukup masif gerakan untuk mentransformasi wajah wilayah fashion menjadi lebih “hijau”. Oleh karenanya, pihak-pihak yang berupaya untuk mewujudkan sustainable fashion patut diapresiasi. Salah satu nama di dalam negeri yang bisa disebut perihal eco-friendly fashion adalah label SukkhaCitta.

Pada tahun ini, SukkhaCitta yang didirikan oleh Denica Riadini-Flesch pada tahun 2016 tersebut menjadi label mode pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi B Corp. Sertifikasi dari organisasi nirlaba B Lab itu diberikan kepada for-profit companies yang dinilai memiliki performa lingkungan dan sosial yang sangat baik. Perusahaan-perusahaan bersertifikasi B Corp dilihat mendorong perubahan positif dalam bidang sosial dan lingkungan dengan menerapkan transparansi publik, akuntabilitas hukum, serta memiliki tanggung jawab dalam menyeimbangkan tujuan sosial dan keuntungan.

Tak hanya itu, SukkhaCitta bahkan turut mendapatkan penghargaan B Corp Best For The World kategori komunitas. “Sejak SukkhaCitta didirikan, kami ingin menunjukkan bahwa praktik pada industri fashion yang berbeda itu sangat memungkinkan, perubahan yang menciptakan peluang bagi perempuan pengrajin dan petani di tempat mereka berada serta merawat bumi di saat yang bersamaan,” ucap Denica Riadini-Flesch yang masuk ke daftar Forbes Asia 30 under 30 pada tahun 2019.

Setelah 6 tahun berjalan secara online, SukkhaCitta beberapa waktu lalu resmi menghadirkan toko pertamanya di pusat perbelanjaan ASHTA, yang berada di bilangan Jakarta Selatan, sebagai upaya untuk menjembatani langsung antara konsumen dengan perempuan pengrajin serta petani di desa untuk meningkatkan taraf kehidupannya.  Sejak didirikan, SukkhaCitta secara konsisten mengutamakan praktik kerja yang sehat bagi para pengrajin dan petani, untuk mendapatkan upah yang layak serta merawat bumi melalui regenerative farming.

Mengusung konsep Farm-to-Closet, SukkhaCitta berguru kepada para ibu-ibu di desa untuk menciptakan pakaian menggunakan material dan proses alami. Salah satunya dengan menggunakan pewarna alami yang berasal dari tanaman dan limbah pertanian. Selain itu, SukkhaCitta juga menanam kapas sendiri dengan menggunakan metode tumpang sari, sebuah metode dengan kearifan lokal yang alami agar terhindar dari hama tanpa menggunakan pestisida. Kapas yang diproses menjadi kain kemudian dijadikan pakaian untuk dikenakan yang dapat ditelusuri asalnya (traceable). Dari hasil penjualan SukkhaCitta, sebanyak 56% dikembalikan langsung ke para pengrajin dan petani di desa-desa.