Observing how Nordic people actually live their life.
Teks dan foto: Salsabila Ramadhani Sutantio
Apabila Anda merupakan seseorang yang mengulik tentang lifestyle dan wellness, pastinya sudah tidak asing apabila melihat publikasi yang mengupas kunci rahasia dari high level of happiness yang dirasakan masyarakat Nordik. Mulai dari riset, buku, hingga dokumenter, investigasi ini semakin hangat dari waktu ke waktu.
Menurut teori positive psychology, kebahagiaan dapat dibentuk. Ini mendorong banyak pihak untuk mencari inspirasi kebahagiaan, termasuk dari negara-negara Nordik. Pertanyaan terbesarnya adalah, apakah ada rahasia spesifik dari tingginya tingkat kebahagiaan para warga Nordik? Apakah hal tersebut fakta atau hanya branding serupa dari para policy makers?
Tim The Editors Club berkesempatan mengobservasi dan merasakan secara langsung hidup di sana – berbaur dengan warga lokal, mengenal budaya dan adat-istiadat, melakukan day-to-day activities seperti bekerja dan commuting, hingga hadir ke perayaan massal. Observasi ini dilakukan selama 3 minggu di 3 kota besar dari negara-negara Nordik, yakni Stockholm, Copenhagen, dan Oslo.
Dalam menjabarkan hasil observasi dan pengalaman ini, kami membagi pembahasan menjadi 3 pilar, yakni People, Culture, dan Public Policy, Facilities, and Infrastructure. Selain itu, analisis kami juga diperkuat oleh mini interview dengan beberapa penduduk di Nordik.
The People
“Welcome, welcome to Stockholm!” Sapaan tersebut merupakan kontak pertama penulis dengan manusia lain sejak pertama kali menginjakkan kaki di Nordik, tepatnya di Swedia. Hal tersebut terjadi ketika penulis hendak memasuki kereta cepat yang menghubungkan bandara dan pusat kota. Kalimat itu bersumber dari seorang perempuan paruh baya yang bertugas di dalam kereta, diselingi dengan senyuman lebar bak penyambutan anak kecil yang hendak masuk Disneyland. Di perjalanan, penulis merenung – bagaimana bisa sapaan sederhana dari seorang perempuan Nordik ini memberi hawa positif yang signifikan untuk saya?

Pasca sapaan perempuan tersebut, banyak pengalaman pleasant dari interaksi sosial yang penulis alami dengan warga Nordik lainnya. “Hey, I love your coat!”, “Can I help you with anything?”, “Hi, you look confused, are you lost? Ungkapan-ungkapan tersebut kerap penulis terima selama berada di Stockholm, Copenhagen, dan Oslo. Penulis juga kerap kali terjebak pada obrolan panjang dengan warga lokal, simply karena mereka bersedia untuk berbagi pengetahuan mereka akan suatu hal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa warga Nordik pada umumnya merupakan warga yang helpful, reliable, trusted, dan ramah. Faktor ini membuat penulis sangat amat nyaman berada di sekitar warga lokal – tidak merasa takut, was-was, ataupun gelisah. Positive vibes and very peaceful indeed. Acapkali dikategorikan sebagai negara yang menganut individualisme tinggi, negara-negara Nordik ini terlihat menekankan individual boundaries tanpa menghilangkan interaksi hangat – which is balanced and perfect.
The Culture
Hygge, Lagom, dan Sisu adalah 3 konsep gaya hidup yang paling digaungkan di Nordik dengan pesan utama untuk menciptakan coziness, warmth, mindfulness, dan kecukupan guna mencapai well-being dalam kehidupan. Implementasi dari budaya ini juga bermacam-macam, mulai dari berpakaian dengan mindful, menciptakan suasana rumah yang nyaman dengan pendekatan Nordik – termasuk pemakaian lilin dalam ruangan yang eksesif guna menciptakan kehangatan dan kenyamanan – hingga mikro ritual seperti cara meminum kopi dan manisan di waktu yang tepat yang tertuang dalam konsep Fika. Setelah menelaah teori dari konsep-konsep tersebut, penulis berupaya untuk mengobservasi implementasinya pada negara-negara Nordik yang dikunjungi untuk membuktikan apakah konsep tersebut benar adanya, atau hanya gimmick belaka.
Observasi dimulai ketika penulis memasuki beberapa kafe atau restoran yang berada di bilangan kota Stockholm. Secara subjektif, penulis terkesima – semua kafe dan restoran seakan-akan memiliki standar nuansa yang serupa, yakni menghadirkan lilin-lilin di tiap meja, memasang dim lights sebagai sumber cahaya, serta menggunakan furnitur dengan gaya modern minimalis untuk selanjutnya dapat kita sebut sebagai gaya interior ala Nordik. It’s amazing how these cultural concepts could shape a whole mood and state of happiness.

Berbicara tentang fashion, Nordik juga memiliki tone tersendiri. Sebut saja brand-brand terkenal seperti Marimekko, Acne Studios, dan COS. Model-model koleksinya yang timeless dan comfort merupakan benang merah dari proposisi label-label asal Nordik ini. Selain itu, Nordik juga merupakan tempat kelahiran dari berbagai sustainable fashion brands seperti Filippa K, GANNI, dan Arket.
Dari sisi food and beverage, terpantau warga Nordik banyak memilih opsi makanan dan minuman yang lebih sehat. Pernah dengar brand susu oat terkenal bernama Oatly? Tentunya brand tersebut berasal dari Nordik, tepatnya Swedia. Apabila Anda mengunjungi beberapa food hall atau supermarket, Anda pasti akan menemukan salad buffet yang seringkali dipenuhi warga lokal. Selain itu, kafe dan restoran dengan tema healthy dan mindful-eating juga merambah dimana-mana. Hal ini menggambarkan bahwa mindful living sudah mencapai ke partikel paling krusial dari sebuah kehidupan, yakni budaya perpanganan.
Public Policy & Infrastructure
Berada di Nordik serasa seperti berada di negeri Utopia. The people are crazy friendly and helpful, transportasi umum berdiri kokoh dan bersih, fasilitas publik didesain crisp dan modern, semua penduduk terlihat sangat stylish dengan color palette berkisar antara monokrom dan earth-tone – sensasi kehidupan yang sangat apik. Jika dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, Nordic’s public facilities and infrastructure are at a whole new level.
Penulis juga berkesempatan untuk berbincang singkat dengan warga lokal saat mengunjungi Oslo, Norwegia. Topik pembicaraannya adalah tentang kebijakan di Nordik, spesifiknya pada ranah kepegawaian. Tahukah Anda bahwa ibu hamil dapat mengambil cuti selama 49 minggu dengan gaji penuh atau 59 minggu dengan gaji 80%, dan ayahnya pun dapat mengambil paid-leave hingga 10 minggu? Bersama-sama, para orang tua dapat menerima tambahan 46 minggu dengan gaji penuh atau 56 minggu dengan 80% dari pendapatan mereka. Isn’t that amazing?

Negara-negara Nordik juga sering digunakan sebagai panutan untuk tata pemerintahan yang baik dalam kesetaraan, pendidikan, sustainability dan kebijakan ekonomi – secara konsisten menduduki peringkat teratas dalam mebangun kualitas hidup warganya. Tingkat kesetaraan upah yang tinggi pun disebut-sebut sebagai alasan untuk kemakmuran mereka yang berkelanjutan – yang secara linear berdampak pada kebahagiaan dan well-being.
Setelah berada di Nordik kurang lebih hampir satu bulan, dapat disimpulkan bahwa konsep hidup yang diagung-agungkan ini nyata adanya – and proven leads to a higher level of happiness. Semua konsep yang dikaji dan ditelaah banyak pihak benar-benar diaplikasikan nyata oleh para warga Nordik dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya gimmick belaka. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah gaya hidup Nordik ini harus diterapkan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki? Sejatinya, kebahagiaan yang autentik memang berakar dari mindset yang positif dan optimis. Apapun gaya hidup yang dipilih, asalkan individu tersebut memiliki keyakinan dan kecukupan akan hal yang telah dimiliki, then happiness is all there. Mengutip ucapan Mahatma Gandhi: “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in ha`rmony.”