Koleksi Sapto Djojokartiko Gugah Semangat Juang di Tengah Pandemi

Our fighting spirit to be remembered. 

 

Pada tahun-tahun ke depan, kita semua akan mengenang kembali tahun 2020 sebagai sebuah masa yang sangat menantang. Terkhusus untuk lanskap mode tanah air, ingatan tersebut tertuju pada nama-nama desainer yang meluncurkan koleksi di tengah masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah Sapto Djojokartiko. Ia menuangkan hasil refleksinya selama karantina ke dalam koleksi Spring/Summer 2021 melalui sebuah video sartorial nan artistik berdurasi lebih dari 6 menit garapan sutradara Reuben Torino.

“Memikirkan aspek bisnis sekaligus harus konsisten untuk menyelamatkan jiwa kreatif kami karena hidup harus tetap berjalan. Tidak mengherankan bagi introvert seperti saya, memiliki waktu sendiri selama ini benar-benar mengizinkan saya untuk menggali lebih dalam proses kreatif yang sudah lama tak saya alami,” jelas Sapto. Pada koleksi ini, DNA Sapto yang estetis bernafaskan mistikalitas tradisional tetap kuat terasa. Sapto banyak memetik ilham dari hal-hal yang sebetulnya sudah lama ia kagumi atau sukai selama ini, seperti penggunaan berbagai jenis lace dengan detil indah, serta palet warna nude, plum, fuchsia, terracotta, pink, dan coral yang lembut dan ceria.

Bila sebelumnya koleksi Sapto Djojokartiko banyak menginkorporasikan ornamen dan embellishment, koleksi ini lebih banyak bermain dengan siluet dinamis dengan narasi bersantai yang minimalis. Ia juga mendapatkan inspirasi dari membaca, dimana ia mempelajari lebih dalam mengenai sabung ayam (cockfighting). Yang Sapto ekstrak dari kegiatan tersebut untuk materi koleksi ini adalah aspek visualnya. Sabung ayam sebagai inspirasi koleksi Sapto ini memang terbilang kontroversial. Di Bali, sabung ayam merupakan fenomena sosial budaya yang kompleks. Sampai saat ini, edukasi terus diupayakan agar masyarakat bisa membedakan antara aksi tarung ayam dalam konteks Tabuh Rah dan Tajen.

Tajen adalah perjudian dimana dua pihak bertaruh perihal ayam yang dijagokan untuk memenangkan pertarungan. Dalam Tajen, pertarungan dilakukan hingga salah satu ayam tak berdaya atau mati. Ayam pemenang pun penuh dengan luka-luka yang tak jarang merenggut nyawanya. Pemenang taruhan akan memboyong uang yang telah terkumpul. Kegiatan ini sudah dinyatakan ilegal sejak lama namun sayangnya masih terus berlangsung meski kerap menjadi target operasi kepolisian. Berbeda dengan Tajen, Tabuh Rah merupakan bagian dari seremoni spiritual Bhuta Yadnya dimana pengorbanan suci ditujukan bagi harmonisasi semesta. Dalam Tabuh Rah, ayam bertarung dibatasi hingga 3 ronde dan tidak ada taruhan uang.

Pada koleksi ini, aspek visual ‘sabung ayam’ diterjemahkan menjadi detail cross stitching yang disulap menjadi satu kesatuan yang terbuat dari kain organza yang dipotong secara individu. Warna-warna cerah di koleksi ini juga terinspirasi dari lukisan sabung ayam. Ide fungsional juga dibawa ke koleksi aksesorisnya, mulai dari dompet bersulam multifungsi, tas selempang, seledang berbulu, maxi tote, anting mutiara dengan aksen macramé, serta sandal dan selop dengan bordir ala keranjang anyaman. 

Melalui inspirasi kultural pertarungan ayam yang diolah menjadi koleksi busana dan aksesori, serta dipresentasikan lewat film pendek, Sapto berharap wujud kreativitas tersebut bisa menjadi sebuah memento dari masa perjuangan untuk bertahan hidup bagi semua orang. “Jangan pernah membiarkan pikiran Anda mengalahkan Anda. Roda akan selalu berputar, jaga kreativitas tetap hidup karena tanpa itu tidak akan ada yang berarti dalam hidup ini,” ucapnya.